Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita. Ketika roda pemerintahan berputar mulus, pelayanan publik berlangsung tanpa hambatan, dan pembangunan terus berdenyut, kita jarang bertanya: siapa yang bekerja di balik semua itu?

Di Kabupaten Sampang, salah satu nama yang terukir dalam perjalanan birokrasi adalah H. Yuliadi Setiyawan, atau yang akrab disapa Pak Wawan.

Pertengahan tahun 2026 menjadi penanda babak baru. Setelah kurang lebih 36 tahun mengabdi, beliau memasuki masa purna tugas sebagai Sekretaris Daerah. Sebuah akhir yang bukan sekadar soal berhentinya seseorang dari jabatan, melainkan penutup dari perjalanan panjang yang penuh dengan proses belajar, tantangan, dan pengabdian.

Tulisan ini bukan sekadar ucapan selamat. Ini adalah catatan kecil untuk merenungi perjalanan seorang birokrat yang meniti karier dari bawah; merasakan sendiri denyut kehidupan kelurahan, memahami dinamika kecamatan, hingga akhirnya memimpin birokrasi di puncak kariernya.

Bagi ASN muda, perjalanan ini adalah pengingat bahwa jabatan tinggi tidak lahir dari jalan pintas. Ada proses, ada waktu, dan ada keberanian yang tak sedikit untuk terus belajar dan berkarya. Menjadi ASN bukan asal lolos lalu berharap hidup enak! Ada integritas yang dibangun melalui kerja nyata.

Perjalanan Yuliadi Setiyawan: Dari Bawah Menyusun Tangga Birokrasi

Tidak semua pemimpin memiliki kesempatan untuk meniti karier di birokrasi dari lapisan paling bawah. Pak Wawan adalah salah satu dari mereka yang memulainya dari ruang-ruang pelayanan yang paling dekat dengan masyarakat.

Kariernya dimulai sebagai staf di lingkungan kecamatan. Posisi yang mungkin sederhana, tetapi menjadi ruang kelas pertama dalam memahami bagaimana pemerintah hadir di tengah warga. Di sanalah beliau belajar bahwa setiap lembar surat yang ditandatangani memiliki dampak nyata, dan setiap keputusan administratif harus berpihak pada kepentingan publik.

Pengalaman ini adalah fondasi yang tak ternilai. Birokrasi sejatinya bukan hanya soal aturan di atas kertas yang dingin, melainkan juga tentang memahami dan hidup bersama manusia yang dilayani. Tidak sedikit ASN yang menghabiskan karier di balik meja, namun pengalaman lapangan memberi perspektif berbeda. Ketika suatu saat harus mengambil kebijakan, beliau sudah paham betul bagaimana kebijakan itu akan diterapkan hingga ke tingkat desa.

Menjadi Lurah, Menjadi Telinga dan Jembatan bagi Warga

Salah satu fase paling penting adalah ketika Pak Wawan dipercaya menjadi Lurah Banyuanyar. Menjadi lurah bukan sekadar memimpin administrasi. Seorang lurah adalah orang pertama yang menerima berbagai keluhan masyarakat, dari persoalan administrasi kependudukan, konflik antarwarga, hingga persoalan sosial yang kadang tak tercatat dalam laporan resmi.

Di posisi inilah, kemampuan mendengar menjadi senjata utama. Tidak semua persoalan selesai dengan aturan. Banyak masalah membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi.

Kadang masyarakat hanya ingin didengarkan. Kadang mereka butuh penjelasan yang sederhana. Dan sering kali, mereka berharap pemerintah hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai tetangga yang mau membantu. Pelajaran tentang pelayanan publik yang dimulai dari sikap menghargai warga inilah yang terus terbawa hingga ke puncak kariernya.

Camat hingga Kabag Pembangunan: Mengasah Insting dan Logika

Perjalanan berlanjut sebagai Camat, di mana tanggung jawabnya meluas hingga mengoordinasikan banyak desa sekaligus. Di sinilah kemampuan berkoordinasi dan menjembatani kepentingan mulai benar-benar terasah.

Dari sana, beliau melangkah menjadi Kepala Bagian Pembangunan. Sebuah jabatan yang mempertemukannya dengan berbagai program pembangunan daerah di balik layar.

Di balik setiap proyek pembangunan yang terlihat, ada proses panjang: perencanaan, penyusunan anggaran, koordinasi lintas OPD, hingga pengawasan. Masyarakat sering melihat hasil akhir, namun keberhasilan pembangunan lahir dari koordinasi yang rapi dan komunikasi yang berkelanjutan.

Pengalaman ini menjadi bekal penting bahwa pembangunan bukan sekadar membangun fisik, tetapi juga membangun kepercayaan publik, kehidupan warga, serta tata kelola untuk masa depan.

Dari Membangun Fisik hingga Membangun Manusia

Tantangan semakin besar saat beliau dipercaya memimpin Dinas Pekerjaan Umum. Isu infrastruktur selalu menjadi sorotan publik. Namun, Pak Wawan memahami bahwa mengelola pembangunan bukanlah hal yang sederhana.

Ada keterbatasan anggaran, kondisi geografis, dan regulasi yang harus dipatuhi. Di sinilah pentingnya perencanaan matang dan prioritas yang jelas.

Puncak pembelajaran lainnya adalah ketika memimpin Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Jika sebelumnya berurusan dengan pembangunan fisik, kini fokusnya adalah membangun manusia. ASN adalah aset utama.

Mengelola ribuan ASN dengan segala dinamika mutasi, promosi, dan pengembangan kompetensi mengajarkan bahwa kualitas birokrasi sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Semua pengalaman itu, termasuk sebagai Staf Ahli yang memberinya perspektif strategis, menjadi kepingan puzzle yang akhirnya membentuk sosok Sekretaris Daerah yang utuh.

Sekretaris Daerah: Simpul Koordinasi dan Puncak Pengabdian

Puncak perjalanan karier beliau datang pada Agustus 2020 ketika dilantik sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Sampang. Sekda adalah simpul koordinasi seluruh perangkat daerah. Di sinilah seluruh pelajaran yang dikumpulkan selama puluhan tahun menemukan tempatnya.

Beliau memahami cara berpikir masyarakat karena pernah menjadi lurah. Beliau memahami koordinasi wilayah karena pernah menjadi camat. Beliau memahami pembangunan karena pernah menjadi Kabag Pembangunan dan Kadis PU. Beliau memahami pengelolaan ASN karena pernah memimpin BKPSDM.

Ia memilih untuk bekerja dengan tenang. Tidak banyak retorika, tidak banyak sensasi. Kepemimpinannya dikenal melalui koordinasi, diskusi, dan fokus pada penyelesaian masalah. Di era di mana sorotan kamera dan media sosial sering menjadi tolok ukur, Pak Wawan membuktikan bahwa pemerintahan tidak selalu membutuhkan suara yang paling keras, melainkan pikiran yang paling tenang dalam menghadapi persoalan.

Sekarang, setelah puluhan tahun hidup mengikuti ritme rapat dan agenda kedinasan, saatnya menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat. Yang tertinggal bukan kursinya, melainkan jejak pengabdian yang telah diukir. Itulah sebabnya purna tugas tidak perlu dipandang sebagai akhir dari segalanya. Ia hanyalah pergantian bab dalam kehidupan.

Terima Kasih Pak Wawan, untuk Kepemimpinan Tanpa Perlu Banyak Sorotan

Setiap daerah membutuhkan orang-orang yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melayani. Tidak semua pekerjaan birokrasi terlihat. Namun, setiap pelayanan yang berjalan dan setiap koordinasi yang berhasil, pasti menyimpan kerja keras banyak orang di belakangnya. Pak Wawan adalah salah satu dari mereka.

Atas nama perjalanan panjang itu, pantas rasanya masyarakat Sampang dan para ASN menyampaikan penghargaan yang tulus. Terima kasih atas dedikasi selama 36 tahun ini. Terima kasih atas kesabaran menghadapi birokrasi yang tak pernah sederhana. Terima kasih atas keteladanan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, dan menjadi ASN berkualitas itu butuh proses, waktu, pemikiran, serta keberanian. Terlebih, atas keteladanan yang selalu membekas untuk menjadi sumber pembelajaran.

Selamat memasuki masa purna tugas, Pak Wawan. Semoga hari-hari ke depan dipenuhi kesehatan dan kebahagiaan. Boleh jadi masa dinas telah usai, namun pengalaman, nasihat, dan keteladanan yang ditinggalkan akan tetap menjadi bagian dari perjalanan birokrasi Kabupaten Sampang.

Abdi masyarakat

Baca Juga
Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Kepada Para Guru: Sadarlah, Kalian Juga Buruh!

Kepada Para Guru: Sadarlah, Kalian Juga Buruh!