Sumber Anyar: Sejarah, Geneologi Kyai, Episentrum Aktivitas Intelektual, dan Dakwah Islam di Pamekasan Madura

Sumber Anyar: Sejarah, Geneologi Kyai, Episentrum Aktivitas Intelektual, dan Dakwah Islam di Pamekasan Madura

Berdasarkan data geografis, Sumber Anyar merupakan nama sebuah dusun yang terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Luas Sumber Anyar 49 hektar dari keseluruhan wilayah Kecamatan Larangan Tokol yang luasnya mencapai 452. 825 hektar. Lokasi Sumber Anyar berjarak 6 km dari pusat Kota Pamekasan.

Hari ini, Sumber Anyar merupakan sebuah kawasan dengan banyak pesantren di dalamnya, dengan ragam model pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Penamaan kawasan tersebut bersamaan dengan momentum pendirian pesantren untuk pertama kalinya oleh Kyai Zubair.

Sumber Anyar Pondok Pesantren Tertua di Madura

Pondok Pesantren Sumber Anyar termasuk salah satu pondok pesantren tertua di pulau Madura.

Dalam Silsilah Keturunan Kyai Zubair Pendiri Pondok Pesantren Sumber Anyar Larangan Tlanakan Pamekasan Madura Dari yang Pertama Sampai Keturunan Ketujuh (Disusun Oleh Kyai Haji Muhammad Muzammil Minhaji, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan tambahan penjelasan, komentar, dan analisa oleh Drs. Abd. Halim Bahwi) disebutkan soal para ahli sejarah di Pamekasan yang menyatakan bahwa di Kabupaten Pamekasan terdapat dua pondok pesantren yang berdiri lebih awal dari pada pesantren-pesantren lainnya.

Yaitu Pondok Pesantren Sumber Anyar Larangan Tokol Tlanakan dan Pondok Pesantren Bere’ Leke Toronan Pamekasan. Ada juga sejarawan yang mengatakan Pesantren Rabe Sumedengan Pademawu dan pesantren Sumber Anyar Larangan Tokol Tlanakan.

Dalam buku Peraturan Tata Tertib Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo (1972) disebutkan bahwa pesantren Sumber Anyar Tlanakan berdiri pada sekitar tahun 1515 M.

Data tersebut bersumber dari Kyai Jamaluddin bin Ruham Kembang Kuning dan Kyai Fathullah bin Hadu Sumber Anyar. Sejarawan Pamekasan yang lain seperti Sulaiman Sadik dalam Sangkolan meyakini Kyai Zubair Sumber Anyar, pendiri Pondok Pesantren Sumber Anyar, hidup dan sezaman dengan Sunan Candana Bangkalan.

Kyai Zubair dan Polemik Zubair Pertama (Awal) dan Zubair Kedua (Tsani)

Dalam tulisan singkat Ra Abdul Hamid Roqib Suryodirjo, seorang peneliti literasi kuno Madura yang juga menjabat wakil LP3SN Nadim Madura yang dikirim kepada penulis menyebutkan polemik seputar Kyai Zubair Awal.

Polemik itu ada karena sejarawan merujuk kepada catatan silsilah yang diterbitkan Pondok Pesantren Sukorejo yang telah direstuai oleh Pengasuh waktu itu, yaitu Kyai Haji As’ad Syamsul Arifin yang merupakan keturunan Kyai Zubair Sumber Anyar.

Dalam catatan silsilah itu disebutkan tentang sejarah pendirian Pondok Pesantren Sumber Anyar periode pertama oleh Kyai Zubair Awal pada 1515-M. Silsilah pembina pertama; Kyai Zubair Awal (1515) bin Kyai Raidin bin Kyai Kosambih Aji Gunung Sampang. Menurut Suryodirjo, silsilah ini tentunya perlu divalidasi.

Dalam catatan tersebut disebutkan juga tentang Kyai Zubair Awal yang menyantri bersama Kyai Sambilang Bangkalan, yang adapun silsilah Kyai Sambilangan sebagai berikut; Raden Sambilangan Sayyid Abbas Bangkalan bin Raden Aryo Musing alias Khatib Rajul Sayyid Sholeh Bangkalan bin Pangeran Katandur bin Panembahan Pakaos bin Sunan Kudus Raden Ja’far Shodiq bin Sayyid Sabil bin Sayyid Khalifah Husain bin Ibrohim Maulana Ishaq.

Menurut Suryodirjo, berdasarkan data ini, serta mengingat periode Kyai Sambilangan bisa ditarik kesimpulan tentang zaman Kyai Zubair Awal semasa dengan Kyai Agung Toronan atau bisa saja hidup sebelum Kyai Agung Toronan.

Menyusuri Jejak Asal-Usul: Lima Versi Silsilah yang Berbeda

Berdasarkan catatan Sukorejo disebutkan tentang Kyai Zubair Awal yang tidak memiliki keturunan, kemudian ia mengambil keponakannya dari saudara perempuannya untuk menjadi penerusnya. Menurutnya, dari data tersebut asal-muasal munculnya tokoh bernama Kyai Zubair Awal.  

Menyangkut silsilah Kyai Zubair Tsani (di sini penulis menyebut Tsani untuk membedakan dengan Kyai Zubair Awal dalam konteks polemik), yang bersumber dari beberapa manuskrip, seperti Manuskrip Kadur tulisan Kyai Panghulu Abdurahman Naib, kajian dalam NAAT dan penelitian Drs. Abd. Halim Bahwi seperti dikonfirmasi oleh Suryodirjo, berikut silsilah Kyai Zubair Tsani dari satu jalur:

Kyai Zubair Sumber Anyar Tsani bin Kyai Khatib Taman bin Kyai Penghulu Bagandan Bujuk Sidobulangan Kyai Azhar bin Kyai Muhammad Al-Azhari bin Kyai Ahmad Akrom bin Kyai Mujahid Mufti Arosbaya bin Panembahan Qodhi bin Sunan Kudus.

Sedangkan dari jalur lain, berikut silsilah Kyai Zubair Tsani:

Kyai Zubair bin Khatib Taman bin Nyai Qadhi Bagandan binti Nyai Aminah Lembung Somor Koneng Kwanyar bin Sunan Cendana Kwanyar bin Muhammad Rahmat al-Khatib bin Sunan Drajat bin Sunan Ampel.

Kyai Haji Muzammil Minhaji sebagai seorang sejarawan Sumber Anyar generasi awal menyebutkan dalam Silsilah tentang Kyai Zubair yang merupakan putra Raden Ahmad sedangkan Raden Ahmad merupakan putra Raden Azhar Sedobulangan.

Menurut Drs. Abd Halim Bahwi dalam penjelasan atas tulisan Kiai Muzammil menyebutkan mengenai asal usul Kyai Zubair Sumber Anyar memang terdapat banyak versi yang perlu terus diteliti, baik yang bersumber dari manuskrip atau berupa cerita tutur, beberapa versi itu sebagai berikut:

Pertama, Kyai Zubair adalah putra Kyai Raidin bin Buyut Kyai Kosambih bin Raden Kabul (Buyut Aji Gunung) Sampang. Karena Kyai Zubair tidak mempunyai putra maka keponakannya yaitu putra dari saudara perempuannya bernama Zubair (Zubair Tsani) sebagai pengganti meneruskan pesantrennya.

Adapun Zubair Tsani adalah putra Kyai Ahmad bin Sayyid Abdul Allam Parajjan Camplong Sampang bin Buyut Candana Kwanyar Bangkalan. Kyai Zubair Awal sebagai perintis sedangkan Zubair Tsani sebegai penerus.

Kedua, Kyai Haji Abd. Mu’thi bin Fathullah Sumber Anyar pernah mengatakan tentang asal usul Kyai Zubair yang merupakan putra Kyai Khotib Lawangan Daya Pamekasan (Buyut Sloklok) bin Sunan Cendana Kwanyar Bangkalan (di sini tidak disebutkan apakah Kyai Zubair adalah Kyai Zubair Awal atau Kyai Zubair Tsani).

Ketiga, Kyai Mustami Sumber Anyar mengatakan berdasarkan riwayat dari Kyai Haji Djufri Marzuqi Sumber Batu Blumbungan tentang asal usul Kyai Zubair.

Beliau merupakan putra dari Tibbangel bin Kyai Talang Prongpong Desa Kicir Sumenep bin Kyai Gunung Sari alias Kyai Gunung Panggung Desa Glugur Sumenep bin Kyai Astamana bin Pangeran Kabu-kabu atau Sacca Adiningrat bin pangeran Mandaraga Keles Ambunten Sumenep, Raja Islam pertama Sumenep. (Di sini juga tidak disebutkan apakah Kyai Zubair adalah Kyai Zubair Awal atau Kyai Zubair Tsani).

Keempat, K.H. Cholil Minhaji Sumber Batu Blumbungan pernah mengatakan tentang asal usul Kyai Zubair yang merupakan putra Kyai Khatib Taman bin Kyai Azhar Sedobulangan Bagandan, Pamekasan (di sini yang dimaksud Kiai Cholil Minhaji adalah Zubair Tsani).

Kelima,  para peneliti dari Balai Litbang Kemenag Semarang, yaitu Dr. Akhwan Fanani, Dr. Zainul Asfar, dan Ummi Musfiah meyakini bahwa Kyai Zubair itu adalah seorang ulama dari luar Indonesia.

Keyakinan berdasarkan kelengkapan kitab-kitab tulisan tangan peninggalan Kyai Zubair yang beragam, seperti kitab yurispundensi Islam (fiqh), ilmu kalam (theology), astronomi, filsafat dan ragam bidang lainnya.

Kyai Zubair Tsani sendiri memiliki putra-putri yaitu Kyai Umro, Kyai Ajmain, Nyai Bina dan Nyai Nuri.

Uraian berbagai versi silsilah ini mengonfirmasi bahwa pelacakan sejarah awal pesantren di Madura, dalam hal ini Pondok Pesantren Sumber Anyar, adalah upaya yang kompleks, di mana tradisi tulisan dan lisan saling berkelindan, menunggu penyikapan yang kritis dari para sejarawan.

Polemik seputar Kyai Zubair pada hakikatnya bersumber dari keberagaman data silsilah dan manuskrip, di mana pembedaan antara Kyai Zubair Awal (perintis) dan Kyai Zubair Tsani (penerus) menjadi kunci untuk memahami berbagai versi yang berkembang.

Dengan demikian, berbagai data dan versi yang ada mengenai silsilah Kyai Zubair Awal dan Tsani menunjukkan bahwa penelitian historis yang lebih mendalam dan kritis masih sangat diperlukan untuk mendapatkan kejelasan dan validasi yang lebih kuat.

Menguak Misteri Waktu: Polemik Tahun Pendirian antara 1515 M dan 1815 M

Penulis membaca ragam laporan yang lain seputar Sejarah Sumber Anyar seperti Pondok Pesantren Sumber Anyar-Larangan Tokol-Tlanakan- Pamekasan-Madura: Studi tentang Pengaruh Pondok Terhadap Masyarakat Sekitarnya yang ditulis Nor Hasan (1991).

Ia menulis pendirian Langghâr rajâ sebagai cikal bakal Pondok Pesantren Sumber Anyar terjadi pada tahun 1815-M, Hasan merujuk kepada perkataan seorang kiai di Sumber Anyar.

Menurut penulis, tahun itu tidak valid karena tahun yang disebutkan di Langghâr rajâ Sumber Anyar sudah zaman Kyai Syukriwa bin Kyai Umro bin Kyai Zubair. Artinya, jika tahun tersebut merujuk kepada tahun Kyai Zubair Tsani (bukan Zubair Awal seperti yang dimaksud oleh sebagian sejarawan) rasanya tidak masuk akal.

Di sisi yang lain, sumber yang mengatakan pendirian Pondok Pesantren Sumber Anyar pada tahun 1515-M perlu terus dicari data dan logika sejarahnya.

Sulaiman Sadik dalam Sangkolan menyebut Pondok Pesantren Sumber Anyar erat kaitannya dengan sejarah masuknya Islam di Pamekasan. Islamisasi awal di Pamekasan berlangsung ketika masa pemerintahan Ratu Nugroho atau Pangeran Bonorogo (w. 1530-M).

Pangeran Bonorogo mengaji agama Islam di keraton kepada seorang ulama dari Pondok Pesantren Sumber Anyar bernama Kyai Zubair. Sebab itu, Kyai Zubair kemudian bergelar Kianya Raja (Kyai Rato).

Pondok Pesantren Sumber Anyar satu kurun dengan pesantren Bhuju’ Aji Ghunong Sampang dan pesantren Kiai Candhana di Bangkalan, kesemuanya termasuk senarai pesantren paling awal di Madura yang berdiri sekitar tahun 1515.

Di Balik Reputasi “Tertua”: Fragmen Manuskrip yang Hilang dan Pusaka yang Terserak

Penulis pernah mendapatkan cerita dari orang tua laki-laki penulis, yaitu Almarhum Kyai Utsman Bahwi yang mengatakan beberapa tahun silam,

“Tahun 1960-an, ketika Langghâr rajâ Sumber Anyar (yang merupakan cikal bakal Pondok Pesantren Sumber Anyar) di bawah kepemimpinan Kyai Djazuli Malidji Syahri, para santri pernah membuang manuskrip yang terbuat dari daun lontar sebanyak dua dokar karena sudah rusak dan tidak terbaca lagi. Manuskrip di Sumber Anyar sekarang itu hanya sisa-sisanya saja. Selain manuskrip, Sumber Anyar dulu menjadi pusatnya pusaka dari masa lalu. Waktu kecil, saya melihat tombak dan keris satu rumah penuh di Langghâr rajâ.”

Setelah penulis berbincang lebih jauh dengan Kyai Utsman, tampaknya ragam manuskrip dan pusaka di Sumber Anyar banyak dibawa oleh para kyai keturunan Kyai Zubair Sumber Anyar ke rumah mereka masing-masing di berbagai wilayah.

Nasib lebih baik dialami oleh sebagian manuskrip peninggalan para kiai Sumber Anyar yang sisa-sisanya masih sempat diinventarisasi oleh Padepokan Raden Umro Sumber Anyar.

Hari ini, Sumber Anyar lebih dikenal sebagai pesantren tertua di Pamekasan dan salah satu pesantren tertua di Madura.

Pustaka dan Pusaka: Aktivitas Intelektual, Budaya, Dakwah dan Sosial-Politik

Dengan banyak pesantren di dalamnya, dengan ragam model dan jenjang pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, Sumber Anyar memiliki warisan ratusan manuskrip dari masa lalu terutama manuskrip dari abad ke-16-M hingga abad ke-19-M yang menjadi rekaman aktivitas intelektual, dakwah, budaya, dan sosial politik pesantren di Pamekasan khususnya dan di Madura secara umum.

Sudah ada laporan-laporan yang ditulis oleh beberapa pihak menyangkut manuskrip di Sumber Anyar seperti Catatan Hasil Penelitian Terhadap Kitab-Kitab Tulisan Tangan Peninggalan Para Sesepuh Pondok Pesantren Langghâr rajâ Sumber Anyar Larangan Toko Tlanakan Pamekasan (Tanggal 15 Januari-16 April 2017) yang ditulis oleh Drs Abd. Halim Bahwi.

Dalam laporan tersebut, manuskrip-manuskrip di Sumber Anyar disebutkan mencakup ragam bidang keilmuan dalam tradisi Islam, seperti fikih, tauhid, tasawuf, tafsir al-Qur’an, hadits, manthiq, astronomi (falak) kamus, nahwu, shorrof, balaghah, sejarah.

Seperti dalam bidang tasawwuf, terdapat manuskrip kitab filsafat ketuhanan berjudul Bahr al-Lahut karya Syaikh Abdullah Arif, seorang ulama sufi terkemuka dan pendakwah Islam dari Kesultanan Peureulak Aceh, seorang ahli tasawuf dan juga seorang pelopor Tarekat Qadiriyah di Nusantara.

Di antara isi kitab Bahr al-Lahut: sesungguhnya elemen (anasir) yang pertama (awwal) adalah alam yang besar (agung). Ia disebut ruh idhafi yang berasal dari dzat Allah SWT.

Segala sesuatu berupa arasy, kursi, luh mahfudz, qalam, surga, neraka dan segala macam keajaiban-keajaiban berupa matahari, rembulan, para malaikat, setan, langit dan bumi beserta isinya, semunya diciptakan oleh Allah dari ruh idhafi ini.  

Di Sumber Anyar juga terdapat manuskrip yang lain, seperti kitab Makrifat Al-Nikah (tanpa penulis) yang memandang nikah dalam pandangan tasawuf.

Seperti nikah dalam manuskrip tersebut dibagi menjadi empat: Pertama, nikahnya ruh dengan jasad. Kedua, nikahnya Al-Qur’an dengan maknanya. Tiga, nikahnya perempuan dengan laki-laki. Empat, nikahnya hamba yang mengenal Tuhan dengan Tuhannya.

Petualangan di Perpustakaan Manuskrip: Menggali Catatan Masa Sumber Anyar

Terdapat juga manuskrip kitab Majnunullah (tanpa penulis) bidang tasawuf yang berisi tentang fana’, shalat menurut tinjauan tasawuf, sifat-sifat orang wali dan sifat-sifat orang yang gila terhadap Allah.

Selain itu manuskrip Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuz Abadi yang menurut seorang peneliti dari Semarang saat ini manuskrip dengan deskripsi yang sama hanya ada dua di dunia, yaitu di Mesir dan di Sumber Anyar.

Manuskrip kitab Fath al-Rahman karya Syaikh Abi Yahya Zakariya al-Anshari As-Syafi’i yang merupakan penjelasan atas kitab Risalah Ruslaniyah karya Syaikh Ruslan Ad-Dimasqi, di antara isinya adalah;

Syari’at dibatasi oleh peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan, arah-arah dan waktu-waktu, sedangkan hakikat tidak ada batas-batas dan arah-arah karena hakikat merupakan rahasia yang bangsa maknawi, sebab orang yang melakukan hakikat tersebut adalah orang yang mengenal Allah SWT, yang telah berpaling dari watak-watak yang bangsa manusia.

Di bagian akhir kitab berisi pembagian tahid menjadi tauhid af’al, tauhid sifat, dan tauhid dzat. Yang pertama adalah tauhidnya orang-orang awam, sedangkan yang kedua tauhidnya para khawas atau para wali (auliya’) sedangkan yang ketiga adalah tauhidnya khawasul khawas atau para nabi (anbiya’). Ratusan manuskrip bisa diakses di Padepokan Raden Umro Sumber Anyar dalam bentuk fisik atau digital.

Laporan menyangkut manuskrip di Sumber Anyar yang lain seperti Bibliografi Naskah Keagamaan Pesantren di Madura yang dilakukan Umi Masfiah, dkk dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2017 dan beberapa laporan yang lain.

Kekayaan pustaka (manuskrip) dan pusaka di Sumber Anyar menunjukkan nilai historis, dokumentasi aktivitas intelektual, budaya, sosial, politik di pesantren khusunya di Sumber Anyar dan umumnya di Madura pada masa lalu.

Tetapi yang lebih patut disyukuri, keturunan Kyai Zubair Sumber Anyar sudah tidak terhitung banyaknya dan menyebar di seluruh pelosok negeri, mereka berjuang di berbagai bidang kehidupan dan tidak melupakan pesan leluhur Sumber Anyar;

Anak potona Kyai Zubair lamun tak murok maka odi’na ta’ bhakal molja.

Artinya anak keturunan Kyai Zubair kalau tidak mengajar mengaji, berjuang di jalan Allah SWT maka hidupnya tidak akan mulia.

Barangkali banyaknya manuskrip di Sumber Anyar dan pusaka berupa keris dan tombak merupakan dokumentasi historis tentang jihad intelektual dan jihad fisik di Sumber Anyar pada masa.

Hasani Utsman adalah pembaca dan penulis seputar Madura, menulis beberapa karya, baik fiksi atau non-fiksi, akan menerbitkan buku berjudul "Filsafat Humor Madura".

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu