TUKANG OJEK JATUH CINTA

TUKANG OJEK JATUH CINTA

1.

Ayat Tukang Ojek

Di bawah langit senja yang mulai jingga, motor RX King milik Ayat melaju pelan membelah jalanan desa yang berbatu-batu. Ayat bukan tukang ojek biasa. Di balik helm kusam yang ia kenakan, tersimpan memori tentang ruang-ruang kelas Universitas ternama, di mana ia memperoleh gelar sarjananya. Deretan buku teori hukum dan teknik mesin serta ambisi besar yang pernah ia bangun di kota, masih tersimpan di lemari kamarnya. Ia hanya ingin membangun desa. Itulah yang membakar semangatnya untuk kembali ke tanah leluhurnya.

​Dua  tahun lalu, ia adalah seorang pengusaha muda. Usaha peternakan ayam petelurnya sempat jaya sebelum wabah penyakit dan harga pakan  menghantamnya hingga ke titik nol. Kegagalan itu meruntuhkan mentalnya. Dengan sisa tabungannya, ia membeli sebuah sepeda motor serta memilih profesi yang dulu tak pernah terpikirkan: menjadi tukang ojek.

​Namun, ayat tidak pernah benar-benar berhenti berpikir dan bercita-cita.

Baca Juga TORON

​Setiap kali menunggu penumpang di pangkalan, ia tak lagi sekadar merokok atau bermain ponsel. Ia mengamati. Ia melihat bagaimana hasil panen warga sering dihargai murah oleh tengkulak karena akses jalan yang sulit dan kurangnya informasi pasar. Ia melihat potensi desa yang tertidur.

​”Mas Ayat, tumben diam saja?” tegur Pak Tarji, orang yang rumahnya paling dekat dengan pangkalan.

​”Saya sedang berpikir, Pak. Kalau kita cuma mengantar orang menjual hasil panennya, hasilnya cuma buat beli kebutuhan sehari-hari. Bagaimana kalau kita antar hasil bumi desa kita langsung ke pasar kota dengan sistem jemput bola?” jawab Ayat.
Pak Tarji sebenarnya terkejut dengan ide yang dikatakan Ayat. Tapi ia simpan dalam hati sambil berharap hal itu akan berhasil di tangan ayat.


​Awalnya banyak yang skeptis. Namun, Ayat adalah seorang lulusan S1 yang tahu bagaimana cara mengorganisir orang. Pengalaman organisasinya di kampus menjadi bekal hidup di kampung.  Ia mulai mendekati para pengojek di seluruh kecamatan. Dengan pendekatan yang persuasif, ia berhasil menyatukan mereka dalam sebuah paguyuban ojek tingkat kecamatan. Dan secara aklamasi ia pun ditunjuk sebagai ketua paguyuban ojek tingkat desa.

​Kegagalan di peternakan ayam dulu bukanlah akhir dari dunianya, melainkan batu loncatan yang memaksanya turun dari menara gading untuk melihat realitas rakyat kecil. Ia menyadari bahwa membangun desa tidak harus menunggu menjadi pejabat. Cukup dimulai dari jok motor, dari sebuah paguyuban yang solid, dan dari keinginan tulus untuk memperbaiki nasib bersama.

​Ayat tahu, jalannya masih panjang. Namun, di setiap tarikan gas motornya, ia bukan lagi sedang mencari penumpang. Ia sedang mengantar perubahan untuk desanya sendiri. Berbagai upaya ia dan paguyuban untuk memiliki jalan yang mulus telah mereka lakukan. Dengan dukungan kepala desa dan camat, keinginan mereka sudah mendapat respons dari bupati. 

​​Keberhasilan Ayat mendesak perbaikan infrastruktur jalan bukan sekadar kemenangan bagi paguyuban ojek, melainkan sebuah oase bagi ekonomi desa. Kini, truk-truk pengangkut hasil bumi bisa masuk hingga ke depan pintu gudang petani. Nama Ayat pun melambung. Ia bukan lagi sekadar tukang ojek, melainkan simbol intelektualitas desa yang membumi.

2.

Perjodohan Yang Tak diinginkan

​Suatu siang, pangkalan ojek yang biasanya riuh mendadak disuguhi pemandangan tak biasa. Di rumah Pak Tarji, sebelah pangkalan, berderet mobil-mobil mewah. Suasana ramai, namun bukan dengan tawa, melainkan dengan ketegangan yang tertahan.
​Ayat, yang baru saja memarkir motornya, mengerutkan dahi. Ia menoleh ke arah Saidi, sekretaris paguyubannya.

“Ada apa kok ramai di rumah Pak Tarji, Mas Saidi?” tanya Ayat.
​Saidi menghela napas panjang, wajahnya tampak tidak enak.

“Itu, Mas Ayat. Ningsih, anak bungsu Pak Tarji, sedang dilamar Parman, juragan dari kecamatan sebelah.”
​Ayat terdiam. Ia tahu siapa Parman, seorang juragan yang sudah berumur namun belum menikah, yang dikenal memiliki pengaruh besar namun kaku.

“Ningsih, dipaksa pulang mendadak oleh bapaknya,” jawab Saidi pelan. “Ternyata semua ini adalah skenario ayah dan paman Parman. Mereka yang menjodoh-jodohkan. Ningsih bahkan tidak kenal siapa Parman. Dia pulang ke rumah hanya untuk mendapati dirinya sudah dijanjikan kepada pria yang tak pernah ia jumpai.

“Oh begitu ceritanya. Semoga mereka berbahagia”. Jawab ayat sambil memarkir motor dan menyalakan sebatang rokok.

Bagi ayat satu hal yang baru dia tahu, pak Tarji ternyata mempunyai putri bungsu bernama Ningsih. Ia merasa asing dengannya; ia terlalu lama menetap di Malang untuk kuliah dan meniti karier, sementara Ningsih besar di perantauan Jakarta. Baginya, itu hanyalah urusan domestik keluarga Pak Tarji yang tidak memiliki relevansi hukum atau moral baginya sebagai ketua paguyuban. Dan pertunangan itu berlalu begitu saja

3.

Jakarta, Dua Minggu Sebelumnya

Langit Jakarta sore itu berwarna abu-abu, sepadan dengan mendung yang tiba-tiba menggantung di hati Ningsih. Ponsel di tangannya bergetar, menampilkan nama “Bapak”. Ia mengangkatnya dengan senyum yang sudah siap merekah, namun kalimat pertama yang ia dengar dari seberang sana menghancurkan dunianya dalam hitungan detik.

“Ibumu sakit , Ningsih. Pulanglah nak, sebagai putri satu satunya, kau harus merawat ibumu.”

Keesokan harinya, tanpa pikir panjang, Ningsih menyerahkan surat pengunduran diri ke atas meja atasannya. Pekerjaan yang ia bangun dengan keringat di Jakarta, impian yang dia susun pelan-pelan di antara gedung-gedung tinggi, kini semuanya ia lepaskan. Dia hanya membawa satu tas ransel berisi pakaian. Hatinya penuh dengan ketakutan kehilangan satu-satunya sosok yang paling ia cintai.

Namun, saat dia melangkah masuk ke rumah masa kecilnya di desa, pemandangan yang menyambutnya justru sebuah tamparan halus. Ibunya duduk di kursi teras, sedang mengupas singkong dengan tangan yang lincah, wajahnya segar bugar, bahkan terlihat lebih sehat dari terakhir kali Ningsih melihatnya.

Ningsih mematung. Dadanya sesak. Ia merasa ada yang janggal, ada yang disembunyikan di balik aroma masakan dapur yang menyengat. ​Kecurigaannya terbukti tiga hari kemudian.

Rumah mereka yang biasanya tenang, mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan. Banyak orang datang berpakaian rapi, membawa hantaran yang ditutup kain beludru merah. Di antara para tamu, duduk seorang pria paruh baya dengan cincin emas melingkar tebal di jemarinya yang kasar. Namanya Parman. Ia juragan tanah yang disegani dan ditakuti.

“Ningsih, ini Pak Parman. Dia sudah lama menunggumu,” suara Bapak terdengar sangat asing di telinga Ningsih. Ada nada memerintah yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Ada tradisi Siti Nurbaya yang masih berlaku di sini.

Ningsih menunduk dalam-dalam. Ia bisa merasakan tatapan Parman yang menelanjangi, penuh rasa memiliki yang membuat kulitnya meremang. Ia ingin berteriak, ingin bertanya mengapa bapaknya berbohong, mengapa Bapak tega memanipulasi rasa sayangnya demi sebuah “kesepakatan” yang bahkan tidak ia pahami.

“Ningsih, tersenyumlah. Tamu-tamu sedang melihatmu,” bisik ibunya pelan, namun matanya memohon.

​Ningsih mengangkat wajahnya. Dia menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum yang hambar, kaku, dan terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Ia menatap ke arah kerumunan, namun pandangannya kosong. Di dalam hatinya, sebuah badai penolakan sedang mengamuk hebat, merobek-robek rasa hormat yang selama ini dia jaga pada orang tuanya.

Ia duduk di sana, di tengah ruangan yang mulai dipenuhi aroma melati dari hantaran, merasa seolah dirinya hanyalah sebuah barang yang sedang ditaksir harga jualnya. Setiap tawa yang terdengar dari mulut Parman adalah duri bagi telinganya.

​Ningsih tidak menangis. Dia hanya terdiam, membiarkan dunianya runtuh dalam keheningan yang menyiksa. Saat cincin lamaran itu diletakkan di atas nampan di hadapannya, ia menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan: ia telah pulang, bukan ke rumah, melainkan ke dalam sebuah jebakan yang menutup pintu kebebasannya rapat-rapat.

Senyumnya masih hambar, namun di balik tatapan matanya yang redup, dia telah mati rasa. Ia hanya bisa menatap lantai kayu rumahnya, menunggu acara yang menghancurkan hidupnya ini berakhir, sementara jiwanya sudah terbang jauh, kembali ke langit Jakarta yang kini terasa seperti surga yang tak mungkin lagi ia jamah.

4.

Penyesalan Seorang Bapak

Hari-hari di rumah Pak Tarji terasa lebih hening daripada pemakaman. Ningsih, putri kesayangannya, tidak lagi bersenandung saat menyiram bunga atau sekadar bercerita tentang hiruk-pikuk Jakarta. Gadis itu kini hanya menjadi bayang-bayang di balik pintu kamar yang terkunci rapat.

​Pak Tarji sering berdiri di depan pintu itu. Ia hanya bisa mendengar suara napas putrinya, atau sesekali isak yang diredam bantal. Setiap kali Ningsih keluar untuk sekadar mengambil air minum, ia menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan ayahnya. Senyum yang dulu menjadi pelipur lara Pak Tarji telah hilang, digantikan oleh tatapan kosong yang seolah menatap jurang penyesalan.

Malam itu, Pak Tarji duduk di kursi kayu tua, menatap jemarinya yang gemetar. Ia memandang tumpukan kain hantaran Parman yang masih tersimpan di sudut lemari. Benda-benda yang kini terasa seperti batu nisan bagi impian putrinya.

“Aku telah membunuh masa depannya,” bisik Pak Tarji dengan suara pecah. Ia teringat Ningsih yang dulu bersusah payah menyelesaikan kuliah, yang bangga menceritakan tentang perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta. Kini, semua itu ia korbankan demi nama baik di mata seorang juragan  yang tak dicintai putrinya.

Penyesalan itu menghujam jantungnya lebih tajam dari belati. Ia adalah Bapak, pelindung pertama Ningsih, namun justru dirinya yang menjadi algojo bagi kebebasannya.

Ia kemudian memanggil Saidi, tetangganya yang juga sekretaris paguyuban ojek, serta istrinya, Rukayah.Mereka duduk melingkar di ruang tamu yang temaram. Pak Tarji berbicara dengan suara bergetar, tanpa harga diri lagi.

“Saidi, tolong aku…” Pak Tarji menunduk, air matanya jatuh menetes di atas meja kayu. 

“Anakku tidak hidup di rumah ini. Dia hanya ada raganya, tapi jiwanya sudah mati. Aku sudah merampas dunianya.”
​Pak Tarji menatap Saidi dan istrinya dengan tatapan yang putus asa.”Bantu aku. Apapun caranya, yang penting putriku bisa tersenyum kembali”.

Rukayah, istri Saidi menutup mulut dengan tangan, menahan isak. Saidi pun terdiam lama, menatap Pak Tarji dengan tatapan iba. Seorang bapak yang rela membuang harga dirinya demi melihat anaknya bahagia, meskipun itu berarti sang anak harus pergi menjauh dari pelukannya.

“Tapi Pak,” ujar Saidi pelan, “kalau nanti Parman tahu?”
​”Biarkan dia memaki aku,” potong Pak Tarji tegas, meski suaranya serak oleh tangis. 

“Biarkan dia menganggap aku tidak menepati janji. Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin melihat anakku layu seperti bunga yang tidak mendapat air setiap harinya. “Saidi, tolong…”

Di tengah malam yang dingin, Pak Tarji   tidak lagi melihat Ningsih sebagai harta yang ingin ia amankan, melainkan sebagai titipan Tuhan yang hampir ia hancurkan.

​Rencana rahasia itu pun dimulai. Sebuah pengkhianatan kecil terhadap adat, namun sebuah penebusan besar dari seorang bapak yang akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan anak adalah satu-satunya warisan yang paling berharga.

5.

Kabur

Malam itu, desa Ngrambe diselimuti kabut tipis.

Jam dua malam, di balik pohon randu, Ayat menunggu dengan mesin motor yang dimatikan. Ia melihat bayangan seorang gadis melompat dari jendela  rumah Pak Tarji. Gadis yang belum pernah ia kenal. Wajahnya sekilas terlihat di siang hari pertunangan dua bulan yang lalu, namun dini hari ini akan ia bawa menuju fajar yang baru.

Ayat mengambil posisi seperti permintaan Said setelah Maghrib tadi malam. Ia mengingat permintaan Saidi yang bertindak layaknya seorang kawan yang sedang meminta tolong dalam kondisi darurat.

“Mas Ayat,” suara Saidi terdengar berat. “Malam ini, jam dua pagi, ada seseorang di seberang kuburan. Tolong, jemput dia. Bawa dia pergi sejauh mungkin dari desa ini. Sembunyikan dia di tempat yang paling aman, di luar kecamatan kita juga boleh. Jangan tanya siapa dia, cukup bawa dia sampai selamat.”

​Ayat, yang selalu menjunjung tinggi solidaritas paguyuban, menatap Saidi dengan tajam. “Siapa dia, Saidi? Apa masalahnya?”
​”Jangan tanya, Mas. Kalau Mas memang ingin membantu desa ini, lakukan saja. Ini tentang nyawa dan masa depan seseorang.”

Ayat terdiam. Sebagai ketua paguyuban, ia terbiasa dengan permintaan-permintaan aneh, namun kali ini ada getaran yang berbeda. 

6.

Menembus Kaki Gunung Lawu

​Pukul 02.10 WIB.

Seperti ada yang mengatur, gadis yang kebingunan hendak kabur ke mana, tiba-tiba ada yang menawarinya naik motor. ​Ayat memboncengnya dalam diam. Tanpa sepatah kata pun di antara mereka, motor itu melaju, membelah malam yang penuh dengan air mata yang tak tersampaikan dan pengorbanan yang takkan pernah Ningsih ketahui asal-muasalnya.

Ayat memacu motornya dengan pikiran yang berkecamuk. Ia benar-benar tidak tahu siapa yang ia bawa. Gadis di belakangnya terus terisak, suara tangis yang tertahan oleh deru angin malam kaki Gunung Lawu yang dingin, membuatnya merasa seperti sedang membawa beban kesedihan paling berat di atas jok motornya.

​”Mbak, kita mau ke mana?” tanya Ayat akhirnya, suaranya berusaha lembut di antara gesekan ban motor di jalan yang berbatu.

​Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus memeluk tas ranselnya, tangisnya semakin menjadi saat mereka melewati batas desa. Ayat bingung. Ia tidak bisa membawa orang asing ini ke pangkalan ojek atau kembali ke rumahnya sendiri. Saat itulah, tiba-tiba Ningsih berkata disela isak tangisnya“kita ke desa Sekalaras, mas”.

Sebagai tukang ojek, Ayat tahu desa itu terletak di kecamatan Widodaren. Jaraknya hampir 15 KM dari Kecamatan Ngrambe. Dan motorpun melaju menuju kesana. Kerumah Mbah Wito, sesuai arah yang dipandu Ningsih.

Rupanya Mbah Wito adalah mertua Nurhayah, teman SMA Ningsih yang kini menjadi istri Kepala Desa Sekalaras. Nur  selalu menjadi tempat curhat jika Ningsih punya masalah, dan  satu-satunya orang yang menurutnya memiliki “ruang aman” yang cukup luas untuk menampung seseorang dalam pelarian.

Perjalanan mereka memakan waktu dua jam lebih. Jalanan yang mulai memudar warnanya dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap menandakan fajar akan segera tiba. Sepanjang jalan, Ningsih hanya sesekali sesenggukan. Ia seperti burung yang baru lepas dari sangkar namun masih trauma dengan jeruji jiwa yang baru saja ia tinggalkan.

​Saat azan subuh berkumandang dari masjid-masjid di kejauhan, motor Ayat berhenti di rumah Nur. Ayat mematikan mesin motornya. Hening seketika

​Ningsih turun dengan gemetar. Kakinya terasa lemas, dan wajahnya bengkak karena air mata.

 Ayat memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.

Tok. Tok. Tok.

​Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki di balik pintu. Pintu terbuka, menampilkan Nur yang masih mengenakan mukena dengan wajah mengantuk yang seketika berubah menjadi terkejut melihat Ningsih berdiri di belakang Ayat.
​”Ningsih?”.

Ningsih berlari merangkul nurhayah yang masih kaget. Namun dia mengerti kebiasaan Ningsih jika ada masalah. Ia segera membawa Ningsih masuk ke rumahnya, Saat Ningsih melangkah masuk ke rumah Nur, Ayat hanya bisa berdiri mematung di teras. Ia merasa telah menyelesaikan bagian tersulit dari misinya, namun ia juga sadar, bahwa sejak pintu itu tertutup, ia baru saja memulai lembaran hidup yang tidak akan pernah sama lagi.

Setelah menunaikan salat Subuh di masjid, Ayat sempat tertegun sejenak di depan pintu rumahnya. Pikirannya masih tertinggal di rumah Nur, membayangkan apakah gadis asing tadi bisa tidur dengan tenang. Namun, ia segera membuang jauh-jauh beban itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan raut wajahnya menjadi Ayat sang ketua paguyuban, yang santai.

7.

Drama Pagi Hari

​Pukul 6 pagi, Ayat sudah duduk di bangku panjang pangkalan ojek. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan kepulan asapnya menari di udara pagi yang masih segar. Ia menyapa rekan-rekannya dengan anggukan kepala dan senyum tipis yang terukur, persis seperti kebiasaannya setiap hari. Tak ada yang boleh tahu bahwa RX-King tuanya baru saja menempuh puluhan kilometer di jam-jam terlarang.

Tiba-tiba, sebuah teriakan melengking memecah ketenangan pagi.

​”Tolong! Anak saya! Ningsih, Kabur!”

​Itu suara istri Pak Tarji. Suaranya pecah, histeris. Selang beberapa detik, Pak Tarji muncul dari arah rumahnya dengan wajah yang pucat pasi, rambutnya acak-acakan, dan langkah kakinya goyah. Kehebohan itu menyebar cepat seperti api yang membakar jerami. Warga mulai berdatangan ke halaman rumah Pak Tarji.

​Ayat tetap duduk di pangkalan, namun tangannya yang memegang rokok sedikit bergetar. Ia melihat dari kejauhan bagaimana Bu Tarji jatuh  ke tanah, sambil meracau tentang jendela yang terbuka dan kamar yang kosong.

​”Dia pergi! Dia minggat!” teriak Pak Tarji dengan suara yang cukup keras agar didengar oleh orang-orang yang mulai berkumpul.

​Saidi, yang berada di dekat Ayat, segera berdiri. “Wah, gawat itu, Mas Ayat. Pak Tarji bilang Ningsih kabur lewat jendela. Apa kita harus bantu cari?” bisik Saidi, memberikan kode mata yang tajam pada Ayat.

​Ayat membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu berdiri dengan tenang. Ia berusaha menampilkan raut wajah terkejut yang natural.

​”Tenang, Mas Saidi. Kita tunggu sebentar, lihat situasi. Jangan sampai kita malah bikin keributan yang nggak perlu,” jawab Ayat datar.

​Dari arah kejauhan, mobil Parman melesat masuk ke desa dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, berhenti mendadak tepat di depan rumah Pak Tarji. Parman turun dengan wajah yang siap meledak. Suasana semakin panas. Ayat mengamati semuanya dari kejauhan, menahan detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang. Ia tahu, dialah pemegang kunci  informasi di balik drama pagi yang menyesakkan ini.

​​Ayat kembali duduk, pura-pura sibuk memeriksa rantai motornya, sementara telinganya terus menangkap jeritan dan keriuhan yang terjadi di rumah Pak Tarji.

Seminggu berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Desa itu seolah berubah menjadi posko pencarian; orang-orang suruhan Parman mondar-mandir dengan wajah garang, sementara Saidi terus “melaporkan” hasil nihil kepada Pak Tarji setiap harinya. Desas-desus pun merebak, warga yakin Ningsih sudah melarikan diri ke Jakarta, mungkin menumpang truk barang atau bus malam.

​Ayat sendiri memainkan peran “pura-pura mencari” dengan sempurna. Di depan warga, ia tampak sibuk bertanya ke sana-kemari, namun setiap kali waktu Isyak tiba, ia menyelinap dengan motornya menuju rumah Nur.

​Namun, ada satu masalah yang membuat Ayat pening tujuh keliling. Nur bercerita bahwa Ningsih hampir tidak menyentuh makanan yang disediakan. Mungkin Ningsih mau makan bila Ayat membelikannya.


8.

Lek To

Malam itu, Ayat kembali duduk di teras rumah Nur dengan wajah lesu. Di depannya, satu porsi sate ayam dan semangkuk bakso yang masih mengepul hanya tergeletak begitu saja di atas meja.

​”Dia masih tidak mau makan, Mas,” bisik Nur pelan, wajahnya tampak lelah. “Dia cuma menatap jendela. Mungkin dia butuh waktu lebih lama untuk pulih dari trauma.”

​Ayat mengacak rambutnya frustrasi. Sebagai orang yang peduli, ia merasa gagal. Ia teringat kembali pada hari-hari awal saat ia pertama kali membantu Ningsih. Saat itu, ia membawa nasi goreng, martabak, bahkan jajanan pasar, tapi Ningsih tetap saja menolak.

​Tiba-tiba, mata Ayat tertuju pada sebuah ingatan kecil yang muncul di benaknya. Ia teringat percakapan warga desa beberapa waktu lalu, sebuah trivia yang tidak sengaja ia dengar di pangkalan ojek tentang kebiasaan keluarga Pak Tarji. Keluarga itu sangat suka dengan mie ayam Lek To. Warung mie yang berbentuk sebuah gerobak sederhana yang mangkal tepat di depan rumah Pak Tarji, tempat yang sekarang justru menjadi titik pusat pencarian Parman.

​”Bodohnya aku!” umpat Ayat pelan, menepuk jidatnya sendiri.

​”Ada apa?” tanya Nia bingung.

​”Aku membawakan sate, bakso, makanan kota… aku lupa kalau keluarganya punya makanan favorit. Mie Ayam Lek To!,” jawab Ayat dengan semangat yang mendadak muncul.

Keesokan harinya, Ayat bergerak ke warung Lek To. Ia tahu ini tindakan gila. Ia harus menyelinap ke gerobak Lek To  yang kini diawasi oleh orang-orang suruhan Parman. Ia harus mencuri satu porsi mie ayam dari gerobak itu tanpa ketahuan, atau mungkin ‘membeli’ secara diam-diam di saat Lek To sedang melayani pelanggan.

​Bagi Ayat, ini bukan lagi tentang makanan. Ini tentang memberikan rasa rumah bagi seseorang yang sedang bersembunyi dari kenyataan. Jika mie ayam itu bisa membuat Ningsih makan kembali, maka ia rela menjadi ‘pencuri mie’ malam ini.

​Permainan dimulai, batin Ayat.

9.

Ancaman Yang Menyenangkan

Saat Ayat menyodorkan dua bungkus mie ayam yang aromanya masih mengepul panas itu, ada ketegasan yang tak biasa dalam suaranya. Ia tidak lagi membujuk seperti seorang penolong yang lemah lembut. Malam itu, Ayat menatap Ningsih dengan mata yang tajam, seolah ia sedang menghadapi seorang klien yang keras kepala di ruang sidang.

“Seminggu kamu tidak makan, Ningsih,” ucap Ayat dingin. “Kalau kali ini kamu tidak makan, saya akan mengantar kamu pulang. Saya tidak mau jadi orang yang bertanggung jawab kalau kamu mati kelaparan di sini.”

​Ningsih terlonjak kaget. Ancaman itu terasa nyata, sangat nyata. Selama ini ia menganggap Ayat sebagai sosok pelindung yang sabar, namun melihat Ayat yang kini tampak kehabisan kesabaran, nyali Ningsih menciut.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ningsih membuka bungkusan itu. Begitu aroma mie ayam yang  khas menusuk indra penciumannya, aroma yang sepertinya dia kenal. Pertahanan Ningsih runtuh seketika.

​Itu bukan sekadar makanan. Itu adalah wangi masa kecilnya. Wangi sore-sore saat ia pulang sekolah, wangi saat ia masih merasa aman di desa sebelum semua kegilaan perjodohan ini dimulai.

​Perlahan, ia mulai menyuapkan mie itu ke mulutnya. Satu suapan. Dua suapan. Lalu, kecepatan tangannya meningkat. Rasa takut akan ancaman Ayat perlahan berganti menjadi rasa lapar yang luar biasa. Ia makan dengan rakus, seolah sedang menambal lubang-lubang keputusasaan di hatinya dengan kehangatan mie ayam itu.

​Dua bungkus mie ayam itu ludes tak bersisa. Bahkan kuahnya pun habis diminum hingga tetes terakhir.
​”Mas…” suaranya masih parau, namun ada kelegaan di sana. “Ini mie dari depan rumah Bapak, kan?”

​Ayat tersenyum tipis, rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya. “Iya.mie nya lek to”. 

​Ningsih menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang perlahan mengembang. Ia tidak menjawab ancaman Ayat, namun di dalam hatinya, ia tahu. Ayat tidak sungguh-sungguh ingin mengantarnya pulang. Ayat hanya ingin ia tetap hidup. Dan entah sejak kapan, kepedulian yang begitu keras dan tulus itu membuat Ningsih merasa bahwa mungkin, melarikan diri ke Jakarta bukanlah tujuan akhirnya, melainkan tetap berada di dekat orang yang tahu persis apa yang ia butuhkan bahkan sebelum ia memintanya.

10.

Nomaden

Rasa tidak enak hati Ningsih pada Nur dan mbah Wito yang telah menampungnya dengan penuh risiko, membuatnya bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun terbebani terlalu lama.

​”Mas Ayat, bawa aku ke tempat lain,” bisik Ningsih suatu malam. “Aku tidak bisa terus-terusan membuat Nur  dalam bahaya.”

​Ayat, tanpa banyak tanya, mengiyakan. Ia tahu bahwa dalam pelarian ini, diam adalah kunci dan bergerak adalah satu-satunya cara untuk selamat.

​Malam itu, di bawah lindungan kabut yang turun dari perbukitan, Ayat memacu motornya menembus dinginnya udara menuju  sebuah rumah sederhana yang tampak terisolasi oleh pepohonan rindang, sebuah kota kecil di kaki gunung Lawu. Tepatnya di Walikukun, Kecamatan Widodaren. tinggallah Arin, sahabat kuliah Ningsih yang rumahnya beberapa meter dari Stasiun Walikukun.

​Arin, terbelalak saat membuka pintu dan melihat Ningsih yang terlihat lebih kurus di belakang punggung Ayat. Namun, setelah mendengar penjelasan singkat, bahwa Ningsih sedang dalam pelarian demi hidupnya sendiri, Arin segera menarik mereka masuk. Tidak ada pertanyaan interogasi, hanya pelukan hangat yang membuat Ningsih merasa sedikit lebih nyaman.

​Seminggu di rumah Arin,  adalah masa pemulihan bagi Ningsih. Namun, naluri mereka berdua mengatakan bahwa mereka tidak boleh menetap terlalu lama.

​Episode “nomaden” pun dimulai. Ayat menjadi sosok yang paling sibuk. Ia menjadi navigator, pengawal, sekaligus pelindung yang tak pernah lelah.

Berawal dari Ngrambe, Sekalaras, Ayat telah membawa Ningsih bergeser ke arah barat menuju Walikukun, desa yang pernah didiami oleh tokoh nasional, DR. Radjiman Wedyodiningrat. Rumah Arin yang dekat dengan stasiun kereta api memberikan rasa “siap siaga” bagi Ningsih. Jika keadaan mendesak, stasiun itu adalah pintu keluar tercepat menuju mana saja. Di sini, komunikasi antara Ayat dan Ningsih mulai berubah dari sekadar pengantar dan penumpang menjadi dua jiwa yang saling mengandalkan.


12.

Putusnya Sebuah Pertunangan

Setelah dirasa cukup aman dan jejak mereka di Ngawi mulai memudar, Ayat membawa Ningsih lebih jauh lagi ke barat, melintasi perbatasan provinsi menuju Solo. Di rumah Mbak Asminah, kakak sepupu Ningsih, ketegangan mulai berkurang. Ningsih merasa lebih berani menatap masa depan karena ia tahu, sejauh apa pun ia pergi, Ayat selalu ada di sana, memastikan ia sampai di tujuan dengan selamat.


Sementara Ningsih berpindah-pindah, di kampung halaman Pak Tarji, waktu perlahan mengikis amarah Parman. Ketidakhadiran Ningsih selama beberapa bulan membuat desas-desus perlahan mereda, orang-orang mulai menganggap Ningsih benar-benar telah hilang ditelan luasnya ibu kota.

​Puncaknya terjadi ketika Pak Tarji, yang didorong rasa bersalah yang mendalam, meminta Saidi dan Ayat untuk mengakhiri drama ini secara adat. Ayat, yang selama ini menyimpan rahasia utama di balik layar, akhirnya harus tampil sebagai “supir” untuk urusan yang paling krusial.

​Dengan pick-up tua peninggalan Mbah Sastro yang mesinnya menderu gagah, Ayat mengantar Paman Ningsih dan Saidi menuju rumah Parman. Ayat sengaja tidak turun. Ia membiarkan Paman dan Saidi yang menghadapi juragan itu. Dari balik kemudi, sambil menghisap rokok, Ayat mendengar suara perdebatan yang tajam, namun akhirnya mereda.

Saat Saidi kembali ke pick-up dan berkata, “Syukurlah, sudah selesai,” Ayat merasakan beban yang selama setahun ini menekan pundaknya ikut terangkat. Hantaran itu telah kembali, cincin lamaran telah berpindah tangan, dan secara adat, Ningsih kini telah bebas sepenuhnya dari jerat perjodohan yang tidak diinginkannya.

​Kini, dengan status Ningsih yang sudah “resmi” lepas dari Parman, perjalanan terakhir menuju Jakarta bukan lagi perjalanan pelarian, melainkan perjalanan menuju babak baru.

11.

Pelarian Terakhir


Pagi di Stasiun Balapan Solo terasa begitu dingin, seolah ikut merasakan detak jantung yang tak beraturan di dada Ayat dan Ningsih. Kereta api tujuan Jakarta sudah menunggu di peron, mengeluarkan uap panas yang menari-nari di udara, seakan siap menarik Ningsih menjauh dari masa lalunya dan mungkin, dari seseorang yang telah memeluknya dengan kesetiaan selama setahun ini.

​Ningsih berdiri di depan Ayat, membawa sebuah koper kecil yang berisi seluruh hidup barunya. Di Jakarta, kakaknya sudah menunggu, sosok yang sedari awal paling keras menentang perjodohan itu, sosok yang kini siap menyambut Ningsih sebagai seorang perempuan merdeka.

​”Mas Ayat,” suara Ningsih lembut, nyaris tenggelam oleh bising pengumuman keberangkatan kereta.

​Ayat hanya bisa menunduk, menatap ujung sepatunya yang berdebu. Pria itu memakai jaket yang sama yang ia kenakan saat pertama kali menjemput Ningsih di balik jendela rumah Pak Tarji. Ia merasa tubuhnya begitu kaku, seolah tertahan oleh sesuatu yang tak kasatmata.

​”Jaga diri di Jakarta, Mbak,” ujar Ayat pelan. “Di sana keras. Jangan terlalu percaya pada orang asing, tapi jangan juga menutup diri dari orang baik.”

​Ningsih menatap Ayat lekat-lekat. Ia melihat gurat lelah di wajah pria itu, lelah yang selama setahun ini ia abaikan demi melindunginya. Ningsih menarik napas panjang, lalu perlahan menyentuh lengan jaket Ayat.

​”Mas Ayat tidak mau ikut ke Jakarta?” bisik Ningsih. “Kakakku punya kenalan usaha transportasi. Mungkin Mas bisa…”

​Ayat tersenyum getir, menggeleng pelan. 

“Pangkalan ojek di desa, Saidi dan anggota paguyuban ojek itu dunia saya, Mbak. Saya bukan orang kota. Saya cuma tukang ojek yang kebetulan mendapat kehormatan menjadi pelindung Mbak Ningsih.”

​Ningsih merasakan matanya memanas. Ia tidak ingin berpisah, namun ia sadar bahwa ia telah terlalu banyak mengambil waktu dari hidup Ayat. Ia mengeluarkan sebuah saputangan kecil dari saku jaketnya, lalu menyodorkannya ke tangan Ayat.

​”Kalau nanti Mas Ayat kangen sama penumpang yang paling merepotkan ini, sapu tangan itu bukan sekadar kain, loh,” Ningsih tersenyum, meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

 “Itu janji. Bahwa suatu hari nanti, kalau saya sudah benar-benar mapan, saya akan kembali ke desa itu. Bukan sebagai Ningsih yang kabur, tapi sebagai Ningsih yang pulang untuk menjemput orang yang dulu menyelamatkannya.”

​Kereta membunyikan peluit panjang yang menyayat.

​”Pergilah,” ucap Ayat, suaranya parau. “Kakak Mbak sudah menunggu.”

​Ningsih melangkah mundur, lalu berbalik. Ia berjalan menuju gerbong kereta, namun di ambang pintu, ia berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, hanya melambaikan tangan tanpa berbalik. Bagi Ayat, lambaian itu adalah pemandangan paling menyedihkan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

​Saat kereta perlahan bergerak meninggalkan peron, Ayat masih berdiri mematung. Ia melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang saputangan itu erat-erat di dalam saku jaketnya, merasakan sisa hangat dari tangan Ningsih yang masih membekas.

​Ia tahu, kereta itu membawanya pergi, tapi ia juga tahu, kereta itu telah membawa pulang hatinya. Ayat berbalik, berjalan menuju pintu keluar stasiun dengan langkah berat, kembali ke dunia di mana suara mesin motor akan selalu mengingatkannya pada gadis yang pernah ia bonceng menembus kabut, melintasi Ngawi, hingga ke ujung takdir yang akhirnya memisahkan mereka.

​Ayat tidak tahu apakah Ningsih akan kembali. Namun, untuk pertama kalinya, sang ketua paguyuban ojek itu tidak lagi merasa kesepian. Karena ia tahu, meskipun Ningsih berada di Jakarta yang jauh, mereka kini berbagi kenangan yang lebih kuat dari jarak mana pun.

​

Abdi masyarakat

Baca Juga
TORON

TORON