Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Secara biologis dan psikologis, tubuh kita mencatat sejarah pengalaman hidup sejak kecil sebagai respons alami. Sebagai putra Madura yang sudah menjadi Nahdlatul Ulama kultural sejak orok, saya pun demikian.

Dibesarkan oleh lingkungan NU membuat saya asing dengan konsep ngopi senja. Bagi saya, senja selalu tentang doa puji-pujian yang saling sahut dari masjid dan musala yang diselingi omelan ibu yang menyuruh lekas mandi.

Oleh karena itu, setiap menjelang senja dan jika saya masih di luar rumah, saya selalu merasa resah dan tidak tenang. Saya rasa, setiap orang yang memiliki pengalaman yang sama dengan saya pun akan merasa demikian.

Hal ini tentu berkaitan erat dengan bagaimana saya tumbuh dan besar dalam lingkungan NU yang hangat, agamis, dan berorientasi pada sosial. Lebih dari sekadar ormas, Nahdlatul Ulama adalah rumah tempat saya belajar memahami dunia.

Nahdlatul Ulama Tak Lagi Terasa seperti Rumah

Di kampung, di langgar-langgar, di tengah lautan lantunan shalawat dan tahlilan, Nahdlatul Ulama adalah rumah bersama.

NU bukan sekadar organisasi, melainkan ruh yang menjiwai cara kami memandang dunia pertama kali: tawadhu’, hormat pada kiai, dan keyakinan bahwa Islam adalah rahmat yang menaungi semuanya. Baik bagi orang biasa, alam semesta, dan bahkan mengatur bagaimana seekor ayam hidup dan mati.

Maka, keprihatinan ini bukanlah suara dari luar. Ini adalah suara dari dalam rumah yang saya cintai, yang atapnya mulai saya rasakan kian runtuh serta dinding yang kian rontok digerus ekskavator.

Dari celah-celahnya, aroma yang masuk bukan lagi parfum misk khas kiai serta wewangian dupa hasil akulturasi budaya Islam di Jawa, melainkan bau tambang dan tengik ludah penjilat sepatu kekuasaan.

Saya merasa kehilangan Nahdlatul Ulama sebagaimana yang saya pahami selama ini.

Sejarah NU adalah tentang Membangun Kehidupan

Ibarat ingatan yang kian buram, semangat awal NU seperti kian dilupakan. Jika kita melihat berita soal NU saat ini, yang ada hanya kepahitan. Secara historis, para muassis (pendiri) NU adalah para ulama yang melepas sepatu necis buatan Belanda dan memilih jalan kaki di atas tanah, berdiri bersama para petani, nelayan, dan buruh.

Para ulama generasi awal sudah membangun sebuah hunian yang komplit. Dari fondasi keagamaan dan keilmuan sampai pagar yang mampu berperan dalam menghidupi manusia di dalam rumahnya.

Bukan pagar yang melindungi penguasa, melainkan pelindung ekonomi bagi rakyat kelas menengah ke bawah yang tergerus oleh kolonialisme. Pagar Nahdlatul Ulama adalah tempat bercengkerama antartetangga atau tempat menyapa orang yang lewat.

Sebuah pagar hidup yang tak hanya melindungi, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan buahnya dibagikan kepada siapa pun yang membutuhkan.

Kiai tak Hanya Sekadar Gelar, Ia adalah Amanah Sosial

Kiai-kiai kampung dengan sederhana dan seadanya mengelola zakat, memobilisasi sumber daya, mencanangkan swadaya, dan membangun koperasi-koperasi kecil yang menjadi benteng terakhir saat krisis menerjang.

Mereka melakukan itu bukan karena kuasa, melainkan karena pemahaman mendalam akan maqashid syariah: mengutamakan maslahat dengan melindungi jiwa dan kesejahteraan orang-orang kecil.

Mereka adalah para ulama yang dengan ilmunya menyalakan lilin-lilin pengetahuan di pelosok lewat pondok pesantren kecil di seantero kampung.

Mereka adalah praktisi pergerakan-pergerakan kecil yang berjiwa teguh dengan segala kesederhanaannya, membungkus alam pikir kritis dalam tradisi bagi masyarakat luas.

Kita punya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dengan resolusinya, membakar semangat melawan penjajahan. Bukan dengan menjilat, tapi dengan memberdayakan kehidupan sosial.

Kita punya KH. Achmad Siddiq yang merumuskan konsep negara-bangsa yang inklusif. Kita juga punya KH. Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid, sang intelektual bijak di zamannya.

Ruh Gus Dur di Lorong Nahdlatul Ulama

Jika dilihat lebih teliti, NU di masa Orde Baru adalah duri dalam daging kekuasaan. Saat itu, Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan para kiainya adalah oposisi yang konsisten. Gus Dur dengan lantang menolak Asas Tunggal yang memaksakan keseragaman.

Lebih dari itu, ia membawa Nahdlatul Ulama ke dalam wacana kiri yang membela hak-hak buruh dan petani. Ia mendirikan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) yang, di masanya, menjadi ruang diskusi bagi para aktivis pro-demokrasi yang kerap distigma ‘kiri’.

Pemikiran Gus Dur tentang pembebasan kaum mustadh’afin (yang tertindas) adalah kritik tajam terhadap kapitalisme kroni Orde Baru.

Bagi beliau, Nahdlatul Ulama adalah sebenar-benarnya kebangkitan orang-orang berilmu yang gelisah melihat penindasan. Kebangkitan ulama yang memihak orang banyak, bukan kebangkitan para politisi-agamawan yang berburu rente.

Dulu, kiai adalah benteng moral yang ucapannya membuat penguasa ciut. Sekarang, kita menyaksikan pemandangan yang bagai cermin terbalik.

Pantaskan kiai yang membeo kepada penguasa, membawa nama besar Nahdlatul Ulama?

Lubang yang Tak Banyak Dibicarakan

Lubang di dinding rumah Nahdlatul Ulama kini menjadi sebuah luka menganga.

Beberapa petinggi NU, saya tidak menyebut nama tapi publik tahu siapa, kini sibuk berebut dan mencari pembenaran untuk mendapatkan izin tambang. Lihatlah bagaimana organisasi keagamaan tiba-tiba berubah menjadi korporasi ekstraktif.

Perilaku ini adalah pengkhianatan paling vulgar terhadap perjuangan para kiai pendahulu yang melawan kolonialisme justru karena pengurasan sumber daya alam. 

Mengutip laporan investigasi Tempo, sejumlah organisasi masyarakat keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama, ramai-ramai mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) dari pemerintah. Laporan itu menyebut praktik ini sebagai “karpet merah bagi ormas keagamaan masuk bisnis tambang,” sebuah bisnis yang secara historis sarat dengan pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan, yang korbannya adalah rakyat kecil, warga Nahdlatul Ulama sendiri.

Lalu, ada pemandangan memalukan di gedung wakil rakyat. Seorang wakil rakyat, tokoh muda NU yang harusnya menjadi harapan, malah tertangkap kamera sedang asyik bermain game dan merokok saat rapat DPR membahas isu krusial. 

Berita dari Kompas.com pada 22 Maret 2023 dengan judul “Viral, Anggota DPR Main Game Saat Rapat…” menunjukkan betapa para politisi-agamawan ini telah kehilangan rasa malu. Di balik jas mahal dan peci, yang tersisa hanyalah ketamakan untuk berkuasa, bukan panggilan untuk mengabdi.

Kejatuhan Para Ulama?

Puncaknya, krisis moral itu merasuk ke inti lembaga pendidikan kita. Kita tidak lagi hanya berurusan dengan pengkhianatan politik dan ekonomi, tetapi juga dengan kejahatan seksual. Betapa menjijikkannya.

Laporan dari BBC News Indonesia pada Juli 2023 berjudul “Kasus Perkosaan Anak di Jombang: Pelaku Anak Kiai…” adalah sebuah pukulan telak. Di Jombang, jantungnya Nahdlatul Ulama, seorang anak kiai yang menjadi tokoh pondok pesantren tega memerkosa belasan santriwati hingga hamil.

Korbannya adalah anak-anak yang dititahkan orang tuanya untuk mencari ilmu, bukan untuk menjadi budak nafsu biadab. Kutipan dari laporan BBC itu menyebutkan: “Polisi menetapkan MSAT (21), anak seorang pengasuh pondok pesantren, sebagai tersangka pemerkosaan terhadap 14 santriwati. Akibat perbuatannya, 11 bayi lahir.” 

Masih segar dalam ingatan, pada medio 2026, kiai pesantren di Pekalongan dan Pati juga terlibat dalam kasus seksual yang memilukan. Lebih menjijikkannya lagi, para pendukungnya malah membela tindakan biadab tersebut.

Merindukan NU sebagai Rumah Tempat Pulang

Ini bukan sekadar soal moralitas individu yang bobrok. Ini adalah gejala struktural. Arti Nahdlatul Ulama yang seharusnya bermakna “kebangkitan para ulama” malah berputar arah menjadi runtuhnya moralitas, kemanusiaan, dan keagamaan.

Ketika organisasi sebesar Nahdlatul Ulama kehilangan ruh pembebasannya, ia akan menjadi pagar yang melahap masyarakatnya sendiri, bukan rumah yang dapat menaungi dengan nyaman.

Perilaku menjilat, ketamakan berkuasa, dan perkosaan adalah noktah-noktah merah yang menandai degradasi makna kebangkitan Nahdlatul Ulama. Kebangkitan para elit tamak, bukan kebangkitan rakyat dan kaum ulama.

Tulisan ini bukanlah gugatan ofensif untuk bersikap melawan, melainkan sebuah perasaan risau. Perasaan yang sama saat kecil dulu, menjelang Maghrib, saya kehilangan rumah untuk pulang.

Referensi

Jaring.id, “Jalan Terjal Ormas Kelola Tambang”, 2024; Tempo.co, “NU dan Muhammadiyah Berebut Izin Tambang”, 2024.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Kepada Para Guru: Sadarlah, Kalian Juga Buruh!

Kepada Para Guru: Sadarlah, Kalian Juga Buruh!