
Mat Tuki adalah sosok penggerak di Dusun Sumber Batu. Ia mendirikan perguruan silat Garuda Putih dan menggerakkan petani melalui Bina Karya.
Di usianya yang senja, raganya mungkin mulai rapuh, tapi ingatannya tentang untaian tangkisan pencak dan filosofi cabai alas tetap utuh.
Ada perasaan sangat menyesal yang penulis rasakan pada tahun 2013, setelah berbincang lama dengan Mohammad Gom’ah di sebuah kedai teh di pusat kota Tanta, Mesir.
Ceritanya, Ammu Gomah memiliki anak bernama Nabil yang pernah berhadapan dengan begal (harami) saat dalam perjalanan dari Tanta menuju Kairo. Ia lalu mencari guru bela diri untuk anaknya, dan bertemulah ia dengan seorang warga negara China yang mengaku ahli kungfu.
Namun, guru kungfu itu menunjukkan perilaku tidak baik: selalu meminta kenaikan gaji dan kerap berbuat tidak sopan kepada Nabilah, anak perempuan Paman Gomah.
Paman Gomah sangat antusias ketika penulis bercerita tentang pencak silat dari Indonesia, terutama yang digunakan untuk melumpuhkan musuh (fan al-difa’) dan kental dengan nuansa mistisme Islam serta tarekat, seperti tradisi Rifaiyah.
Ia memaksa penulis menjadi guru, namun hati kecil penulis hanya mampu mengaku bahwa penulis dulu pernah belajar silat Pamur, tapi tidak tuntas dan tidak pantas mengajar.
Perasaan menyesal itu langsung mengingatkan penulis pada sosok Muhammad Tuki, guru silat aliran Pamur di Dusun Sumber Batu, Pamekasan.
Andai saja dulu penulis tuntas belajar kepadanya, mungkin penulis bisa menjadi duta silat sejati yang membantu keluarga Paman Gom’ah di tanah Mesir.
Mat Tuki, begitulah panggilan akrabnya. Sosoknya berbadan kecil dan kurus, bicaranya tegas, disiplin tinggi dalam urusan silat, ibadah, dan kemasyarakatan.
Penulis pertama kali melihatnya pada 1994 ketika ikut orang tua, Bapak Utsman Bahwi, yang hendak belajar teknik tangkapan dalam bela diri.
Karena takut menggunakan pisau sungguhan, pisau diganti dengan singkong. Namun, Pak Mat Tuki yang kecil tetap membuat ayah penulis yang jauh lebih besar selalu kalah gesit.
Setelah itu, penulis sering bertemu dengannya ketika membeli songkok nasional di Pasar Malem, tempat ia berjualan songkok bermerek Padi Mas seharga Rp3.500.
Muhammad Tuki dilahirkan di Dualas Larangan Luar pada tahun 1943. Nama “Tuki” sempat dituduh tidak memiliki arti oleh seorang kiai, namun menurut penulis, nama itu berasal dari bahasa Arab yang berarti “Nabi Muhammad sebagai kalungku.” Kecintaannya pada silat dimulai dari pamannya, Dulakmad, yang keras dan disiplin.
Karena bosan dengan didikan keras pamannya, ia justru lari dan berguru langsung kepada Raden Hasan Habuddin Sastrosubroto, pendiri Pencak Silat Angkatan Muda Rasio (PAMUR) pada 1965.
Sebelum mendirikan perguruan, sebagai pendatang di Sumber Batu, Mat Tuki sowan (menghadap) kepada Kiai Cholil Minhaji. Kiai Cholil memberi izin dengan syarat tegas dan penuh kearifan: para murid laki-laki dan perempuan tidak boleh dicampur, karena selain mudaratnya besar, menurut sejarah Madura banyak pembesar yang dikhianati oleh perempuan pandai silat.
Patuh pada sang kiai, pada 1975, Mat Tuki mendirikan dua perguruan aliran Pamur: Garuda Putih untuk warga Sumber Batu dan Rukun Damai untuk Blumbungan Barat, yang diresmikan langsung oleh gurunya, R. Hasan.
Sejak 1986, kesibukan Mat Tuki bertambah setelah ia dipilih menjadi ketua Kelompok Tani Bina Karya.
Fokus utama Bina Karya adalah mengembangkan tanaman cabai alas (Piper retrofractum), tanaman asli Indonesia yang digunakan untuk obat kuat hingga obat bronkitis.
Bagi masyarakat Sumber Batu, di masa kejayaannya (sekitar 2013), cabai alas kering bagaikan emas hitam, dengan harga mencapai Rp100.000 per kilogram.
Sayang, hari ini harganya jatuh hingga separuhnya akibat ekosistem yang rusak (mahonisasi lahan), bibit yang banyak dikirim ke Jawa, serta ulah tengkulak yang mencampuri dengan potongan ekor buah kelapa (manggher).
Meski begitu, prestasi Bina Karya di bawah Mat Tuki patut diacungi jempol. Pada 1993, mereka menjadi juara pertama tingkat Kabupaten Pamekasan, dan pada 1996 di Magelang meraih juara kedua se-Jawa Timur dalam pengembangan cabai alas.
Yang paling legendaris adalah ketika tahun 1990-an, kelompok ini mendapatkan Banpres (Bantuan Presiden) berupa 135 ekor sapi yang langsung diserahkan kepada anggota untuk dikembangbiakkan.
Selain pertanian, Bina Karya juga mengagendakan pertemuan rutin (kolom) setiap malam Minggu, dihadiri tujuh orang kiai dan diisi acara keagamaan.
Setiap anggota wajib membayar Rp2.000, yang separuhnya menjadi kas kematian untuk santunan, dan separuhnya untuk pembangunan musala, masjid, dan jalan sebagai amal jariyah.
Pak Mat Tuki adalah gambaran orang Madura sejatinya. Teguh dalam agama, hatinya yang selalu condong untuk membantu masyarakat, serta keuletannya dalam berlatih pencak dan bertani menjadi cermin antik yang kini kian buram.
Kini Pak Mat Tuki sang pendekar Garuda Putih sekaligus penggerak petani Bina Karya, telah berpulang pada 2020 silam.
Semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima semua amal baiknya. Amin