
Makam para raja dan tokoh Bangkalan seperti Lembu Peteng, Kiai Lemah Duwur, dan Pangeran Tengah kini menjadi destinasi ziarah sejarah dan spiritual. Mereka bukan sekadar simbol masa lalu, tapi juga inspirasi bagi masyarakat Madura untuk terus menjaga nilai keberanian dan persaudaraan.
Setelah masa Pangeran Mas berakhir, kepemimpinan Bangkalan berlanjut kepada Raden Praseno yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Cakraningrat I. Dinasti Cakraningrat menjadi tonggak penting pemerintahan Madura Barat, membawa pengaruh besar terhadap politik Jawa dan hubungan dengan VOC Belanda.
Nama asli beliau adalah Raden Praseno, putra dari Pangeran Tengah. Ia menikah dengan Ratu Ibu (Syarifah Ambami) dan dikaruniai tiga putra:
Dari istri lain, beliau juga memiliki putra bernama Deman Melaya, ayah dari Trunojoyo — tokoh legendaris Madura.
Pangeran Cakraningrat I sering berurusan dengan Kerajaan Mataram, hingga akhirnya wafat karena tikaman keris Setan Kober milik Pangeran Alit dalam sebuah perlawanan di Mataram.
Makamnya kini berada di Kompleks Pemakaman Imogiri, Yogyakarta.
Raden Undakan, putra Cakraningrat I, naik takhta setelah ayahnya. Seperti ayahnya, ia juga banyak beraktivitas di Mataram. Pada masa pemerintahannya meletus pemberontakan Trunojoyo (keponakannya sendiri) terhadap Mataram.
Trunojoyo sempat mengasingkan Pangeran Cakraningrat II ke Ledoyo, Kediri, namun kemudian beliau bekerja sama dengan VOC dan kembali memimpin di Sampang.
Ia wafat di Kamal, saat perjalanan pulang dari Mataram ke Madura. Karena itu, beliau dikenal dengan gelar Pangeran Siding Kamal.
Putra Cakraningrat II ini dikenal sebagai penguasa yang dekat dengan bangsawan Pamekasan, sebab menantunya adalah Arya Adikoro, Bupati Pamekasan.
Cakraningrat III disebut juga Pangeran Siding Kapal, karena wafat di atas kapal setelah berselisih dengan pihak Belanda.
Kisahnya menggambarkan hubungan kompleks antara Bangkalan dan VOC di awal abad ke-18.
Saudara Cakraningrat III ini memindahkan Kraton Tonjung ke Sembilangan. Namun saat perang melawan Belanda, kraton itu jatuh ke tangan VOC.
Beliau melarikan diri ke Banjarmasin, tapi ditangkap oleh Sultan setempat dan diserahkan ke VOC di Batavia, sebelum akhirnya dibuang ke Tanjung Harapan (Kaap de Goede Hoop).
Karena itulah ia dijuluki Pangeran Sidingkap.
Jenazahnya kini disemayamkan di Kompleks Makam Aer Mata, Bangkalan.
Setelah wafatnya, gelar raja Bangkalan berubah menjadi Pangeran Cakradiningrat.
Bernama asli Penimbahan Sidho Mukti, beliau adalah putra Cakraningrat IV.
Pemerintahannya relatif stabil dan menandai pemulihan kekuasaan lokal Bangkalan.
Beliau juga dimakamkan di Makam Air Mata Bangkalan.
Cucu dari Cakraningrat V ini naik takhta karena ayahnya meninggal muda.
Meski pemerintahannya singkat, beliau dikenal bijak menjaga hubungan baik antara bangsawan dan rakyat.
Makamnya juga berada di kompleks Makam Air Mata Bangkalan.
Bernama asli Raden Tawangalun, beliau adalah putra Pangeran Sidho Mukti, sekaligus paman dari Cakradiningrat VI.
Ia menjadi penguasa terakhir dengan gelar Sultan Bangkalan dan kemudian dikenal sebagai Sultan Cakradiningrat I.
Kepemimpinannya membawa transisi Bangkalan ke era kolonial VOC dan Hindia Belanda.
Beliau dimakamkan di Makam Air Mata, tempat suci para raja Bangkalan bersemayam.
Warisan Dinasti Cakraningrat masih hidup melalui arsitektur, situs makam, dan nilai kepemimpinan yang diwariskan turun-temurun. Kompleks Makam Air Mata menjadi saksi sejarah panjang hubungan Madura dengan Jawa dan kolonial Belanda.
Bagi masyarakat Bangkalan, kisah para Cakraningrat bukan sekadar legenda — mereka adalah simbol kejayaan dan keteguhan hati orang Madura.
Lembu Peteng adalah putra Prabu Brawijaya dari Majapahit yang memeluk Islam dan menjadi penyebar Islam pertama di Madura.
Makam ini berada di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, menjadi tempat peristirahatan raja-raja awal Bangkalan.
Pangeran Cakraningrat I adalah Raden Praseno, putra Pangeran Tengah, pendiri Dinasti Cakraningrat yang memimpin Madura Barat.
Sumber : Lontar Madura
Kunjungi situs sejarah Bangkalan dan kenali lebih dalam akar budaya Madura yang mengagumkan.