
MADURAPEDIA – Lebih dari sekadar ibadah, tradisi haji di Madura itu unik. Bagi masyarakat Madura, gelar “Haji” atau “Kaji” bukan hanya secuil embel-embel di depan nama.
Di balik panggilan hormat itu, tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan, status sosial, dan gotong royong yang sangat unik.
Tradisi haji di Madura berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Ada sebuah mekanisme sosial kuno yang masih hidup hingga kini, yaitu Lam-Salam atau Bet-Selabet.
Lam-Salam atau Bet-Selabet adalah tradisi memberikan sangu (modal atau bekal) kepada calon jemaah haji.
Ibarat menanam benih, tetangga, kerabat, dan kawan bahu-membahu mengumpulkan uang, bahan makanan, hingga pakaian agar orang yang berangkat bisa selamat sampai ke Makkah dan kembali ke kampung halaman.
Jika menilik sejarah, tradisi ini lahir dari kondisi yang sulit. Pada zaman kolonial dulu, berangkat haji dari Madura adalah perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan, menumpang kapal layar, dan rawan akan bahaya penyakit hingga badai di lautan.
Bahkan, tak sedikit yang gugur dan tidak kembali. Karena itu, rasa haru dan “lepas” yang dirasakan warga saat melepas calon haji sangat kuat.
Mereka tidak hanya melepas seorang musafir, tetapi juga melepas pahlawan yang berjuang untuk mati syahid atau pulang membawa berkah.
Dalam kultur Madura, istilah Lam-Salam dan Bet-Selabet sering digunakan untuk menggambarkan aksi kolektif ini. Secara harfiah, ini adalah proses “menyisihkan rezeki”.
Sistem ini menjadi semacam dana talangan sosial. Di era modern seperti sekarang, biaya haji memang mahal.
Namun, di Madura, beban itu terasa lebih ringan karena diringankan oleh tetangga dan keluarga. Fenomena ini nyaris mirip dengan “tenurial society” di mana investasi sosial yang diberikan saat keberangkatan akan “dicairkan” kembali suatu hari nanti.
Meskipun begitu, beberapa masyarakat merasa bahwa tidak seharusnya mengharap dari orang yang berangkat ke ibadah.
Saat calon haji berpamitan, orang-orang memberikan sangu dengan ikhlas dan penuh pengharapan agar calon haji bisa sampai dengan selamat.
Mereka yang memberi ini biasanya tidak mau disebut sebagai “pemberi utang”. Namun, siklus sosial dan tradisi tengka yang kuat biasanya membuat orang yang diberi sangu menjadi merasa berhutang.
Maka begitu sang Haji pulang ke Madura, dinamika pun berubah. Kini giliran tuan rumah (sang haji) yang membalas budi.
Di beberapa wilayah, terjadi sebuah pergeseran budaya yang menarik. Para kerabat yang datang kembali (atau didatangi oleh haji) mengharapkan oleh-oleh dari Tanah Suci, seperti kurma, air zamzam, atau sajadah.
Memberi oleh-oleh untuk sanak keluarga dan tetangga itu bagus, namun akan menjadi beban jika hal itu seakan menjadi kewajiban.
Dampak negatifnya, jika tidak dikelola dengan baik, ekspektasi ini bisa menjadi beban psikologis. Sang haji baru pulang merasa “dikejar” oleh permintaan orang-orang yang dulu memberinya sangu.
Hal ini sering kali membuat tradisi ini terasa seperti transaksi dagang. Titik tengahnya, biasanya para haji tidak membeli oleh-oleh dari Tanah Suci, namun dengan mampir terlebih dahulu di Surabaya, misalnya di daerah Ampel untuk membeli oleh-oleh.
Tidak peduli di mana dibeli, yang penting ada buah tangan yang biasanya berupa tasbih, sajadah, peci, atau minyak wangi.
Dalam tradisi Madura yang lebih tua dan otentik, justru tidak boleh meminta kepada haji kecuali sang haji yang memberikan terlebih dahulu.
Kenapa? Karena haji adalah ibadah, orang yang telah kembali dari Tanah Suci dianggap memiliki barokah. Status haji di Madura sangatlah tinggi; mereka dianggap sebagai tamu Allah.
Banyak masyarakat yang tetap memegang teguh keyakinan ini. Mereka datang bukan untuk meminta oleh-oleh, melainkan untuk meminta doa dan mencium tangan sang haji sebagai simbol penghormatan dan ngalap berkah.
Oleh karena itu, ritual penyambutan kedatangan haji di Madura biasanya meriah dan bahkan sampai diarak dari bandara ke depan rumah. Tidak hanya untuk berharap oleh-oleh, namun dimensinya sudah di taraf sosio-spiritual.
Mengapa masyarakat madura begitu menghormati haji? Karena status haji di Madura mengubah strata sosial seseorang menjadi Ka’ Towan atau Bangatowa (orang yang dituakan atau dihormati seperti bangsawan).
Secara historis, naik haji di mata orang Madura bukan hanya urusan akhirat. Data dari Lontar Madura menyebutkan bahwa di awal abad ke-20, hanya 4 dari 1.000 penduduk yang bisa berangkat.
Mereka yang pulang sering kali menjadi pemimpin agama, guru ngaji, atau bahkan pemberontak melawan Belanda karena mendapat pengaruh dari gerakan Pan-Islamisme di Makkah.
Hal ini membuat Belanda di masa itu membuat daftar tertulis yang mencatat siapa saja yang sudah berhaji, sebab dapat menjadi ancaman pemberontakan lokal.
Orang yang sudah haji menandakan ia mampu dalam hal ekonomi, punya massa, serta status sosialnya meningkat.
Karena prestise inilah, tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet menjadi sangat mengakar. Memberi sangu kepada calon haji adalah investasi untuk kebaikan akhirat dan investasi prestise sosial di dunia.
Agar lebih jelas, berikut perbedaan cara pandang dalam tradisi memberi dan menerima oleh-oleh haji di masyarakat Madura berdasarkan data dan observasi:
| Aspek | Perspektif Tradisional (Positif) | Perspektif Modern (Negatif/Kritis) |
|---|---|---|
| Tujuan | Mencari berkah & mendoakan keselamatan tanpa pamrih | Saling menjaga gengsi sosial & ekspektasi imbal hasil |
| Penerimaan | Haji memberi karena keikhlasan; penerima tidak boleh memaksa | Haji dianggap “wajib” membayar utang budi lewat oleh-oleh |
| Oleh-Oleh | Air zamzam & kurma sebagai simbol doa | Beban makin berat karena tuntutan jumlah dan jenis barang |
| Status Haji | Suci, didoakan, dijaga kemuliaannya | Terkadang dieksploitasi secara ekonomi oleh kerabat |
Secara agama, tidak wajib. Namun, secara budaya dan sosial di Madura, tradisi ini sudah menjadi kewajiban moral (social obligation). Jika tetangga pergi haji dan kita tidak ikut menyumbang (bet-selabet), hal itu bisa dianggap tidak hormat atau “lo’ ce’”. Tradisi ini muncul karena dahulu perjalanan haji sangat berat dan berbahaya, sehingga kebutuhan saling bahu-membahu sangat vital.
Dalam pandangan adat yang terjaga, meminta oleh-oleh khusus kepada haji sangat tidak dianjurkan. Haji adalah ibadah, bukan aktivitas komersial. Sebaiknya, jika haji memberi, itu adalah hadiah. Jika belum diberi, masyarakat tidak boleh menuntut. Konsep “mebarokai” lebih utama daripada “me’orotan” (mencari berkah lebih utama daripada menambah beban).
Haji baru sebaiknya meluruskan niat sejak awal. Saat menerima sangu (Lam-Salam), komunikasikan bahwa ini adalah amanah untuk ibadah, bukan untuk utang oleh-oleh. Jika ada tekanan, para kiai setempat menyarankan untuk tetap fokus pada ibadah syukur, misalnya dengan mengadakan selamatan sederhana (tasyakuran) dan membagikan makanan, tanpa harus memenuhi permintaan material individu satu per satu.
Tradisi haji di Madura adalah cerminan gotong royong yang unik dan kompleks. Lam-Salam dan Bet-Selabet adalah bukti bahwa masyarakat Madura tidak melepas saudaranya sendiri berjuang sendirian.
Namun, di era modern ini, makna luhur itu perlu terus dijaga. Jangan sampai tradisi yang lahir dari rasa cinta ini berubah menjadi ajang transaksi yang membebani status haji sebagai tamu Allah.
Mari kita lestarikan tradisi sokongan dengan ikhlas, dan hormati para tamu Allah tanpa membebani mereka dengan tuntutan duniawi.