
Di antara sekian banyak nama besar yang terukir dalam lembaran sejarah Islam Nusantara, terdapat seorang sufi agung yang dijuluki sebagai “paku bumi” dan “paku Madura”.
Dialah Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy, ulama kharismatik yang menjadi mahaguru bagi para kyai di tanah Madura.
Muhammad Rizky Taufan mengutip Valentijn (1726) dalam catatannya tentang Sampang dalam Arus Sejarah: Lintasan Zaman, Tokoh Sentral dan Genealogi Monarki menyebutkan pasca Perang Trunajaya (1674-1680 M) ibu kota Madura dipindah dari Sampang ke Maduretna (Tonjhung, Burneh).
Ketika itu, terdapat enam kota penting di Madura, yaitu Maduretna, Arosbaya, Blega, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Fakta sejarah ini dengan jelas menunjukkan betapa Blega memiliki posisi yang strategis dan penting dalam percaturan sejarah Madura.
Saat ini, Blega merupakan nama salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Bangkalan, berbatasan langsung dengan Kabupaten Sampang.
Karena letaknya yang strategis—berada di jalur perlintasan antara Bangkalan dan Sampang—Blega menjadi salah satu tujuan utama para pendatang dari mancanegara yang hendak menginjakkan kaki di pulau Madura pada masa lampau.
Mereka datang bukan hanya untuk singgah, tetapi banyak pula yang kemudian memilih menetap dan menyebarkan agama Islam di tanah yang subur ini.
Sejarah Blega tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik kerajaan-kerajaan awal di Madura. Pasca wafatnya Panembahan Lemah Duwur (w. 1592 M), putranya yang bernama Pangeran Tengah (1592-1620 M) menggantikan kedudukan ayahnya.
Sementara itu, anak yang lain yaitu Pangeran Blega diberi amanah untuk memimpin tanah yang kemudian dikenal dengan nama Blega.
Pangeran Blega, “saudara dari timur” pernah terlambat membayar upeti tahunan kepada Arosbaya. Keterlambatan ini kemudian ditafsirkan sebagai bentuk pembangkangan, yang akhirnya menjadi pemicu pecahnya perang antara Arosbaya dan Blega.
Pasukan Arosbaya yang berusaha keras memenangkan pertempuran berkali-kali menemui kegagalan. Pangeran Tengah pun mengirimkan bala bantuan besar-besaran ke Blega dengan persenjataan lengkap—suatu tindakan yang tidak bisa lagi dimaknai sekadar sebagai upaya menarik upeti.
Peperangan sengit pun pecah. Dalam tradisi tutur masyarakat setempat, peristiwa “putar balik” pasukan Arosbaya dari Blega inilah yang kemudian menjadi asal-usul penamaan Blega.
Kata abaliggha dalam bahasa Madura berarti putar balik, merujuk pada mundurnya pasukan Arosbaya dari medan laga. Meskipun pada akhirnya Keraton Blega harus tunduk kepada Pangeran Tengah, kisah heroik perlawanan ini tetap terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat.
Setelah peristiwa itu, Raden Praseno putra Pangeran Tengah dibawa oleh ibunya ke Madegan, Sampang. Sementara itu, Arosbaya kemudian dipimpin oleh adik Pangeran Tengah yang lain.
Dalam makalah Sejarah Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi yang ditulis oleh Raden Kyai Haji Moh. Ibrahim Musaddad Djuwaini, terdapat sebuah cerita tutur yang disampaikan oleh Kyai Haji Zarkasi, dan kemudian juga oleh putranya, Kyai Haji Dahlawi Zarkasi.
Kisah itu bercerita tentang Kyai Muzakki atau Bhujuk Batoh Kolong yang memiliki beberapa putra, salah satunya adalah Kyai Shoheh (Bhuju’ Shoheh). Ketika Kyai Shoheh hendak mencari kawasan untuk memulai dakwahnya, Kyai Muzakki membantu mencarikan tempat yang cocok untuk putranya itu.
Sesampainya di tanah bernama Blega, Kyai Muzakki mencium aroma yang tidak biasa—bau anyir darah yang begitu kental. Ia kemudian berkata kepada putranya, “Ella Kakeh jhe’ adakwah edinnak, edinna’ benni kennengah kakeh, kakeh ta’ kerah mampu.” Artinya, “Jangan, kamu jangan berdakwah di tanah ini, tanah ini bukan tempatmu, kamu tidak akan mampu.”
Pada akhirnya, Kyai Shoheh memang berdakwah di kawasan lain yang hingga kini dikenal dengan daerah Tlokoh. Petuah sang ayah membuktikan bahwa Blega adalah tanah yang memiliki sejarah panjang pertumpahan darah, tanah yang kelak akan didiami oleh ulama-ulama besar dengan perjuangan yang tidak kalah berat.
Dalam makalah Sejarah Sayyid disebutkan bahwa salah satu pendatang mancanegara yang mengunjungi dan kemudian menetap di tanah Blega adalah Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi. Sekitar tahun 1795 M, Sayyid Abu Bakar yang lahir pada tahun 1770 M pertama kali menginjakkan kaki di Blega dengan motivasi mulia: penyebaran Islam, pendidikan, pengembangan kepesantrenan, dan dakwah Islamiyah.
Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi datang ke Madura bersama seorang saudaranya yang kemudian memilih menetap di kota Pamekasan. Sementara itu, Sayyid Abu Bakar sendiri memutuskan untuk tinggal di Blega dan menikahi seorang perempuan dari Mlajeh, Bangkalan, bernama Nyai Yamani.
Aktivitas dakwah pertama yang dilakukan Sayyid Abu Bakar sangat erat kaitannya dengan sebuah masjid yang saat ini lebih dikenal dengan nama Masjid Al-Jihad Blega. Sayyid Abu Bakar menjadi takmir pertama Masjid Al-Jihad, mengajarkan masyarakat sekitar dasar-dasar keislaman, dan membimbing mereka dalam melaksanakan rukun Islam seperti shalat lima waktu. Dari masjid inilah cahaya Islam mulai menyebar ke seluruh pelosok Blega.
Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi dikaruniai seorang putri bernama Syarifah Marni. Putri inilah yang kelak dinikahi oleh seorang ulama besar yang menjadi tokoh sentral dalam tulisan ini: Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy.
Syaikhona Muhsin lahir dengan nama Muhsin. Nama Muhsin mengandung harapan dari kedua orang tuanya, semoga kelak putranya menjadi seorang yang baik dan membawa kebaikan, saleh, ahli ibadah, dan menjadi seorang ulama besar.
Harapan itu tidaklah berlebihan, karena terbukti kelak namanya akan dikenang sebagai salah satu wali Allah yang menjadi rujukan para kyai di seluruh Madura.

Syaikhona Muhsin lahir di Anjun, Kedungdung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan pada tahun 1802 M. Ayahnya adalah seorang kyai bernama Kyai Muhammad dari Anjun. Garis keturunan Syaikhona Muhsin bersambung kepada seorang wali yang telah banyak menurunkan para ulama dan wali di Madura, yaitu Sunan Cendana.
Adapun silsilah Sunan Cendana dari satu jalur adalah sebagai berikut: Sunan Cendana Bangkalan atau Raden Umar Mairi Syaikh Zainal Abidin bin Raden Rahmatullah Al-Khatib bin Sunan Drajat Raden Qasim bin Sunan Ampel Raden Rahmatullah bin Sayyid Ibrohim Asmoro bin Jumadil Kubro.
Sedangkan nasab Sunan Cendana dari jalur lainnya: Sunan Cendana Raden Umar Mairi Syaikh Zainal Abidin Kwanyar bin Nyai Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Kanjeng Sunan Giri Raden Ainul Yaqin bin Maulana Ya’qub Wali Lanang Al-Masyhur bi Maulana Ishaq bin Sayyidah Zainab binti Jumadil Kubro.
Dengan silsilah semulia itu, tidak mengherankan jika Syaikhona Muhsin tumbuh menjadi pribadi yang istimewa. Dalam sebuah makalah berjudul “Biografi Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy”, Kyai Moh. Ibrahim Musaddad Djuwaini menyebutkan bahwa Syaikhona Muhsin lahir dan terdidik di lingkungan pesantren di Anjun, di bawah didikan langsung kedua orang tuanya yang memiliki pesantren di sana. Setelah dewasa, ia memulai pengembaraan panjang dalam mencari ilmu.
Syaikhona Muhsin menyantri di banyak pondok pesantren, tetapi tradisi tutur lebih banyak merekam masa belajarnya di Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, yang diasuh oleh Kyai Asyik atau Kyai Abdul Latif.
Pada saat menyantri di Bangil, Syaikhona Muhsin tinggal satu kamar dengan seorang santri muda yang kelak menjadi ulama besar: Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif dari Bangkalan.
Di pesantren Cangaan, Syaikhona Muhsin tergolong santri senior yang diberi kepercayaan untuk mengajar para santri junior. Salah satu juniornya adalah Syaikhona Muhammad Kholil—yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Syekhona Kholil Bangkalan.
Hubungan guru-murid yang terjalin di pesantren ini kelak akan menjadi benang merah yang menghubungkan dua ulama besar Madura tersebut.
Setelah bertahun-tahun mengembara dan menimba ilmu dari berbagai guru, Syaikhona Muhsin akhirnya memutuskan pulang ke kampung halamannya di Anjun, Bangkalan.
Tidak lama kemudian, ia menikahi Syarifah Marni, putri Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi. Pernikahan ini dikaruniai empat orang putri: Nyai Rahma, Nyai Hamidah (atau Nyai Maimunah), Nyai Tuhfah, dan Nyai Rohmah (atau Nyai Sufiyah). Keempat putri inilah yang kelak menjadi mata rantai penyebaran keturunan dan keberkahan Syaikhona Muhsin.
Secara kultural, proses pendirian institusi pendidikan tradisional atau pondok pesantren berpola dan tidak banyak mengalami perubahan sejak zaman para wali sampai akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pola ini kemudian berlanjut di zaman setelahnya.
Para wali menjadikan kediaman mereka sebagai pusat aktivitas keislaman, membangun tempat ibadah di sekitarnya. Kediaman para wali yang bersebelahan dengan tempat ibadah ini menjadi pola yang kemudian diikuti oleh banyak ulama dan menjadi embrio pendirian pondok pesantren di berbagai tempat, termasuk di Madura. Penulis sering menyebut pola ini dengan istilah “pola tradisional-kultural”.
Menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai”, sebuah pesantren memiliki lima elemen yang membedakannya dengan institusi pendidikan lainnya, yaitu adanya masjid, santri, tempat tinggal santri atau pondok, kyai, dan pengajian kitab-kitab keislaman klasik.
Apabila kelima elemen tersebut sudah tersedia dalam sebuah institusi, maka institusi itu akan berubah statusnya menjadi pondok pesantren.
Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy sendiri tidak pernah secara resmi mendirikan pondok pesantren dalam pengertian fisik yang lengkap. Beliau hanya membuka pengajian di kediamannya. Bagi para santri yang ingin mengaji dan mondok kepadanya, mereka harus membuat kamar sendiri di sekitar kediaman beliau.
Sistem ini menunjukkan kesederhanaan dan ketawadukan Syaikhona Muhsin yang tidak ingin disebut sebagai pendiri pesantren, meskipun pada kenyataannya, aktivitas pengajian yang beliau pimpin telah memenuhi semua elemen pesantren sebagaimana disebutkan oleh Dhofier.
Sekitar tahun 1840 M, Syaikhona Muhsin mendapatkan tanah wakaf yang saat ini terletak di Dusun Kauman RT. 03 RW. 05, Desa Blega, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun sebuah surau atau langgar.
Oleh karena itu, kawasan pesantren tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kampung Planggaran—tempat berdirinya langgar. Tahun 1840 M menandai dimulainya era baru, di mana banyak orang berdatangan, baik dari tempat dekat maupun jauh, untuk mengaji dan mondok kepada Syaikhona Muhsin.
Kyai Ibrahim dalam Biografi yang ditulisnya mencatat panjang lebar tentang para kyai yang pernah mengaji kepada Syaikhona Muhsin dan kepada para kyai di Planggaran setelah wafatnya beliau.
Keempat putri Syaikhona Muhsin menikah dengan para kyai yang masih terhitung sebagai santri beliau. Dari pernikahan-pernikahan inilah kemudian menyebar luas keturunan dan keberkahan Syaikhona Muhsin.
Nyai Rahma atau Nyai Sufiyah dinikahi oleh Kyai Haji Ali Bakri dari Junglorong, Kedungdung, Sampang. Pasangan ini kemudian menempati kediaman Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi di Segit, Kauman, Blega—tempat yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwir.
Nyai Maimunah dinikahi oleh Kyai Haji Fathullah dari Sloros Birem, Sampang. Mereka kemudian bertempat tinggal di Planggaran Timur dan meneruskan estafet perjuangan Syaikhona Muhsin.
Nyai Nafisah atau Nyai Tuhfah (juga dikenal dengan sebutan Nyai Bungkol) dinikahi oleh Kyai Haji Syafiuddin. Pasangan ini kemudian mengembangkan Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Kebun Sari, Blega.
Nyai Romlah dinikahi oleh Kyai Haji Marzuki dari Sendeng. Mereka kemudian menempati kawasan yang sekarang disebut Planggaran Tengah.
Pada awalnya, pondok pesantren peninggalan Syaikhona Muhsin dikenal dengan nama Pondok Pesantren Planghgaran. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini berkembang dan memiliki nama-nama yang berbeda sesuai dengan cabangnya. Bagian timur menjadi Pondok Pesantren Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy. Bagian tengah menjadi Pondok Pesantren Al-Muhsiny. Bagian barat menjadi Pondok Pesantren Al-As’ady.
Setelah wafatnya Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy pada tahun 1911 M, kepemimpinan, aktivitas dakwah, dan pengajaran Islam di Pondok Pesantren Planggaran diteruskan oleh keluarga dan para dzurriyah beliau.
Estafet kepemimpinan pertama dilanjutkan oleh Nyai Sakhowah—seorang santri Syaikhona Muhsin yang kemudian diperistri oleh Syaikhona Muhsin atas wasiat Syarifah Marni sebagai istri pertama. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Raden Kyai Haji Fathullah, Kyai Haji Marzuki, dan generasi ketiga seperti Raden Kyai Haji Imam Djuwaini, Kyai Haji Umar Faruq, Kyai Haji Muhammad atau Kyai As’ad, hingga generasi saat ini.
Setiap generasi hidup dengan sebuah tradisi dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Seperti pernah disampaikan oleh Kyai Haji Imam Djuwaini, salah satu nilai yang berakar dari tradisi leluhur Planggaran adalah: “Tang nak poto kodhu ngaji kodhu andik elmo, polana bedhe e dhimma e kaparlo oreng.” Artinya, “Anak keturunanku harus mengaji, harus berilmu, karena di manapun berada akan diperlukan oleh masyarakat, agar tidak menyesatkan.”
Salah satu kisah paling terkenal tentang Syaikhona Muhsin adalah kebiasaannya menangkap ikan di Sungai Blega, dekat kediamannya. Para calon santri yang belum pernah bertemu dengannya sering kali terkecoh—mereka tidak menyangka bahwa laki-laki tua yang sedang asyik menangkap ikan dengan tubuh berlumur lumpur itu adalah Syaikhona Muhsin, ulama besar yang hendak mereka tuju.
Sebagaimana disampaikan oleh Kyai Mohammad Ibrahim, “Setiap santri yang hendak mondok kepada Syaikhona Muhsin pertama bertemu dengan beliau di pinggir Sungai Blega, sambil membaca syair dengan bahasa yang sulit dimengerti, langka, dan gharib.”
Salah satu keteladanan terbesar Syaikhona Muhsin adalah ketawaduannya yang luar biasa. Beliau tidak pernah merasa dirinya sebagai seorang kyai, apalagi seorang ulama besar. Beliau menjalani hari-harinya dengan sederhana, tanpa sedikit pun menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.
Kisah paling terkenal tentang ketawadukan ini adalah pengalaman Kyai Fathullah ketika pertama kali hendak menyantri kepada Syaikhona Muhsin. Diceritakan dalam Sejarah Sayyid, pada awalnya Kyai Fathullah berniat menyantri dan mondok kepada Syaikhona Kholil di Bangkalan. Namun, setibanya di hadapan Syaikhona Kholil, mahaguru itu justru meminta Kyai Fathullah pergi ke Blega.
“Pergi ke Blega, cari kyai yang bernama Kyai Muhsin,” perintah Syaikhona Kholil.
Kyai Fathullah pun berangkat menuju Blega. Setibanya di sana, ia berhenti di tepian sungai besar yang mengingatkannya pada Bengawan Solo. Di sungai Blega itu, ia melihat seorang tua yang sedang menangkap ikan, dengan tubuh penuh lumpur.
“Di mana rumah Kyai Muhsin?” tanya Kyai Fathullah.
Pria tua dengan tubuh berlumur lumpur itu menjawab dengan tenang, “Di sini, di Blega, tidak ada Kyai Muhsin. Kalau Muhsin ada, yaitu saya.”
Mendengar jawaban itu, Kyai Fathullah kembali lagi ke Syaikhona Kholil Bangkalan. Ia melaporkan bahwa di Blega tidak ada Kyai Muhsin, yang ada hanyalah orang tua sedang menangkap ikan di sungai dan bernama Muhsin.
Dalam pengalaman itu, Syaikhona Muhsin menangkap ikan menggunakan jaring. Namun yang didapat bukanlah ikan, melainkan seekor buaya yang kemudian dilepas kembali ke sungai. Hal itu dilakukan berulang kali.
Syaikhona Kholil Bangkalan tersenyum mendengar laporan Kyai Fathullah. “Ya, itu Kyai Muhsin dari Blega. Ia guru saya,” kata Syaikhona Kholil.
Kyai Fathullah pun kembali ke tanah Blega, kali ini dengan keyakinan penuh untuk menyantri dan mondok kepada Syaikhona Muhsin. Ternyata benar, Syaikhona Muhsin adalah pria tua bertubuh penuh lumpur yang sedang menangkap ikan—dan anehnya, yang didapat selalu seekor buaya—di Sungai Blega.
Dalam kesempatan lain, Syaikhona Kholil Bangkalan pernah berkata tentang Syaikhona Muhsin, “Kiyai Muhsin Blega orang alim allamah, beliau pakunya alam, pakunya Madura (panconga alam-panconga Madhureh).” Sebutan “paku bumi” dan “paku Madura” ini menunjukkan kedudukan Syaikhona Muhsin sebagai salah satu wali Allah yang menjadi penyangga keseimbangan alam, khususnya di tanah Madura.
Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy wafat pada tahun 1911 M dalam usia 109 tahun. Usia yang panjang itu ia habiskan untuk beribadah, mengajar, dan menyebarkan ilmu kepada ribuan santri yang kemudian menjadi ulama-ulama besar di seluruh Madura dan sekitarnya.
Bagi penulis sendiri, Syaikhona Muhsin merupakan guru tidak langsung, karena kakek penulis merupakan santri dari seorang kyai yang pernah mengaji ilmu dan hikmah langsung kepada Syaikhona Muhsin.
Keberkahan itu terus mengalir dari generasi ke generasi, membuktikan bahwa seorang wali tidak pernah benar-benar pergi. Ilmunya terus diajarkan, keteladanannya terus dikenang, dan doanya terus menyertai orang-orang yang mencintainya.
Di Pondok Pesantren Planggaran, namanya tetap hidup. Di hati para santri dan dzurriyahnya, semangatnya tetap membara. Sungai Blega mungkin tetap mengalir seperti sedia kala, tetapi sosok tua yang sedang menangkap ikan di tepiannya akan selalu dikenang sebagai seorang sufi agung, paku bumi, mahaguru para kyai: Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy.
Semoga kita semua, terutama para santri dan generasi muda, senantiasa mendapat berkah dari beliau. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Tulisan yang mirip pernah diterbitkan di NU Konang dan Blog PP Syaikhona Muhsin oleh penulis yang sama.