
Perlawanan buruh di Madura adalah sebuah rantai sejarah panjang yang dimulai dari pabrik gula era kolonial hingga krisis industri garam di abad ke-21.
Di balik reputasinya sebagai pulau dengan tradisi carok yang keras, Madura menyimpan narasi sejarah yang jauh lebih kompleks dan berakar pada perjuangan kelas.
Jika kita menelusuri sejarah peringatan Hari Buruh Internasional, akarnya terletak pada ledakan kemarahan kaum proletar terhadap sistem kapitalisme yang eksploitatif, dimulai dari aksi mogok kerja besar-besaran di Chicago pada 1 Mei 1886 yang menuntut penerapan delapan jam kerja per hari yang lebih manusiawi.
Tragedi Haymarket Affair di Chicago itu kemudian menjadi titik balik perlawanan buruh global. Namun, sedikit yang tahu bahwa di waktu yang hampir bersamaan, di Pasuruan dan Madura, seorang mandor perkebunan tebu bernama Sakera sudah lebih dulu mengangkat celurit.
Ia adalah sebuah simbol perlawanan rakyat jelata kepada kesewenang-wenangan Pemerintah Hindia Belanda, penguasa otoriter yang menindas rakyat.
Perlawanan ini penting untuk dipahami karena perlu merayakan Hari Buruh bukan sekadar menikmati libur nasional yang ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013.
Melainkan untuk menghidupkan ingatan kolektif bahwa kesejahteraan buruh saat ini adalah hasil dari tumpukan darah dan keringat para pendahulu, termasuk mereka yang berasal dari kampung-kampung terpinggirkan di Madura.
Untuk memahami pola perlawanan di Madura, kita harus menyelami biografi yang merupakan simbol orang Madura sekaligus tragis dari Sakera, atau yang dikenal dengan nama asli Sadiman.
Lahir di Bangil, Pasuruan, Sakera adalah seorang mandor perkebunan tebu di Kancil Mas yang mengawasi para buruh pabrik gula.
Mayoritas buruh yang dipimpinnya adalah perantau asal Madura yang menjadi korban kebijakan ekspansi lahan Belanda. Secara historis, nama “Sakera” berasal dari kata Sang Kerah yang berarti “ringan tangan”.
Konflik puncak terjadi ketika pabrik gula milik perusahaan Belanda membutuhkan lahan baru untuk menanam tebu.
Dengan cara licik, pihak kolonial menyuruh Carik Rembang (semacam aparat desa) untuk membeli tanah rakyat semurah-murahnya, bahkan dengan paksaan dan kekerasan.
Melihat ketidakadilan ini, Sakera selalu menggagalkan upaya Carik Rembang karena membela hak para petani dan buruh.
Carik Rembang yang terdesak memanfaatkan seorang pegawai pabrik bernama Markus untuk menantang dan menjebak Sakera. Dalam amarahnya, Sakera membunuh Markus, yang membuatnya menjadi buronan.
Nasib tragis menimpa Sakera saat ia dijebak oleh teman seperguruannya sendiri, Aziz, yang diiming-imingi kekayaan oleh Pemerintah Belanda Bangil.
Setelah ilmunya dilumpuhkan (karena masyarakat meyakini Sakera memiliki kesaktian), Sakera akhirnya ditangkap. Ia dijatuhi hukuman mati dan digantung di Penjara Bangil.
Jenazahnya dimakamkan di Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kota Bangil, Pasuruan.
Salah satu aspek paling menarik dari perlawanan buruh di Madura adalah bagaimana simbol senjata berubah makna akibat intervensi politik.
Bagi Sakera dan para buruh tani, celurit (arit) adalah alat pertanian untuk panen tebu yang disulap menjadi senjata pembelaan diri melawan kekejaman pemerintah Hindia Belanda.
Celurit, yang baru muncul di abad ke-18 adalah simbol rakyat jelata yang melawan kesewenang-wenangan.
Namun, setelah Sakera gugur, Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan strategi adu domba yang cerdik namun kejam.
Untuk merusak citra Sakera dan mencegah lahirnya gerakan serupa, Belanda mengeluarkan kebijakan provokatif dengan memberikan celurit kepada kaum blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan mereka, dan menyuruh mereka untuk saling bertikai satu sama lain.
Akibatnya, stigma tentang carok (perkelahian antarsesama warga) menggunakan celurit pun melekat pada masyarakat Madura, mengubur narasi bahwa celurit sejatinya adalah simbol perlawanan kelas melawan modal dan negara kolonial.
Tradisi carok yang terlihat brutal saat ini, sebagaimana diakui para sejarawan, merupakan warisan “lisah” (kotor) yang ditinggalkan Belanda sejak abad ke-18 untuk memecah belah solidaritas kaum tertindas di Madura.
Memasuki era reformasi, bentuk perlawanan buruh di Madura bergeser dari insiden bersenjata menjadi aksi terorganisir dan terukur.
Sebuah penelitian monumental berjudul “Sosiologi Garam: Deindustrialisasi, Perlawanan, dan Nasib Petani di Madura” (2023) oleh Iskandar Dzulkarnain mengupas bagaimana kebijakan kontrol produksi warisan Hindia Belanda (seperti pachtstelsel dan zoutregie) yang dilestarikan oleh pemerintah Indonesia dari Orde Lama hingga Reformasi telah menciptakan formasi sosial masyarakat pegaraman yang marginal, miskin, dan rentan.
Selama 150 tahun, petani garam di Sumenep khususnya berjuang melawan perbudakan industri. Ketika Jembatan Suramadu dibuka, masuknya pemodal besar dan tambak udang semakin mengalienasi petani kecil dari tanah mereka. Namun, orang Madura memiliki cara perlawanan yang unik.
Dalam buku tersebut dijelaskan adanya tiga bentuk perlawanan petani garam: insidental, kolektif, dan kultural. Perlawanan dilakukan secara diam-diam, misalnya dengan menyiramkan air laut ke talangan (lahan garam yang siap panen) untuk menunda produksi hingga 1-2 hari sebagai bentuk protes terhadap harga yang tidak adil.
Selain itu, ritual keagamaan yang dilakukan setiap Jumat di makam Syekh Raden Anggasuto juga berfungsi sebagai medium resistensi kultural terhadap hegemoni kapital.
Yaitu menjadi ruang berbagi kesadaran atas nasib yang diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan.
Berdasarkan jejak sejarah ini, kita bisa menarik benang merah bahwa perlawanan buruh di Madura adalah cermin dari rapuhnya struktur kesejahteraan di daerah sentra komoditas.
Masyarakat Madura, yang identik dengan etos kerja keras dan harga diri tinggi, tidak akan pernah tinggal diam jika kebijakan publik, baik soal RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah), cukai tembakau, maupun monopoli garam, mengancam hajat hidup orang banyak.
Menjadi orang Madura bukan soal melawan Belanda atau bersikap kontra terhadap penguasa. Namun tetap menjadi waras dan bersikap gigih untuk memahami bahwa yang dihadapi adalah kesewenang-wenangan dan penindasan.
Mengapa perlu merayakan hari buruh bagi orang Madura? Lebih dari sekadar hype, jawabannya adalah untuk melawan stigma. Stigma bahwa Madura hanya menghasilkan “carok” yang merupakan hasil rekayasa kolonial untuk menutupi fakta bahwa Madura menghasilkan pahlawan kelas seperti Sakera.
Merayakan 1 Mei adalah bentuk rehabilitasi moral bahwa kekerasan di masa lalu adalah perlawanan, dan aksi sunyi petambak garam saat ini adalah wujud kedewasaan politik.
Dari celurit Sakera di Bangil hingga pembebasan tambak garam, semangat untuk hidup layak tetap sama. Mari kita kawal terus kebijakan yang berpihak pada buruh.
Jangan jadi hama di tempat orang. Jika tak bisa menjadi pihak yang membebaskan, setidaknya jangan renggut kebebasan orang lain.
Bangkit dan bersatulah, para pekerja, karyawan, serta anak cucu Sakera, dan selamat Hari Buruh bagi yang merayakan!
Referensi Sumber Primer: