
Di balik beredarnya isu mengenai suku Madura yang terkucil dan terbelakang, sejarah Madura sejatinya jauh leboih kompleks.
Pada abad ke-16, Madura tidak hanya menjadi pulau di sebelah timur Pulau Jawa, melainkan bagian penting dari pergolakan politik, sosial, dan keagamaan di Nusantara.
Sejarahnya terjalin erat dengan kerajaan-kerajaan besar Jawa, terutama Majapahit dan Demak, serta mengalami proses Islamisasi yang signifikan.
Sumber-sumber sejarah seperti karya De Graaf dan Pigeaud menunjukkan hal tersebut.
Buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa” karya Dr. H.J. De Graaf dan Dr. Th.G. TH. Pigeaud menafsirkan ulang peran Madura dalam pusaran sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa.

Madura—baik bagian barat maupun timur—telah masuk ke dalam pengaruh kekuasaan Islam sejak paruh pertama abad ke-16.
Bertepatan dengan meluasnya hegemoni Demak pasca-runtuhnya Majapahit (De Graaf & Pigeaud: Bab XIII–XIV).
Proses Islamisasi di Madura berjalan melalui jalur politik dan kultural. Kapan islam masuk ke Madura? Hal ini dijawab oleh De Graaf & Pigeaud.
Salah satu catatan penting menyebutkan bahwa pada tahun Jawa 1450 atau 1528 Masehi, keluarga raja Madura telah memeluk agama Islam.
Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah jatuhnya ibu kota Majapahit pada tahun 1527, yang membuka jalan bagi penyebaran Islam lebih lanjut di wilayah timur Jawa (De Graaf & Pigeaud: hal 66).
Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan Islam oleh elit lokal Madura merupakan respons terhadap pergeseran kekuasaan di Jawa, sekaligus upaya menjaga posisi politik di tengah perubahan zaman.
Madura juga berperan dalam konstelasi kekuasaan Jawa yang lebih luas.
Dalam legenda dan babad disebutkan bahwa penguasa Madura—seperti Lembu Sora dan Lembu Peteng—merupakan bagian dari jaringan keluarga dan bawahan Majapahit.
Setelah Majapahit runtuh, Madura perlahan masuk ke dalam orbit kekuasaan Demak, yang berambisi menyatukan wilayah-wilayah pesisir utara Jawa di bawah panji Islam (De Graaf & Pigeaud: hal 50–51).
Hal ini senada dengan apa yang ditulis oleh Hasani Utsman dalam opininya di 4 subbab terakhirnya yang menceritakan kronik penaklukan madura oleh Kesultanan Demak di abad ke-17.
Pada abad ke-17 itu, Madura bahkan mengalami perpindahan penduduk besar-besaran atas perintah raja Mataram.
Perpindahan banyak orang dari wilayah taklukannya—termasuk Madura—ke Jawa Tengah dalam rangka memperkuat tenaga kerja dan mendukung konsolidasi kekuasaan (De Graaf & Pigeaud: hal 20).
Selama ini, banyak dipercaya bahwa Madura adalah daerah terbelakang, kuno, dan terisolir dari pulau Jawa.
Namun sejarah mengungkapkan hal sebaliknya. Dari sisi kultural, Madura tidak terisolasi.
Interaksinya dengan Jawa Timur, Bali, serta para pedagang dan penyebar agama dari pesisir utara Jawa—seperti Gresik dan Surabaya—telah memperkaya dinamika masyarakatnya.
Interaksi Madura dengan kebudayaan lain sudah jauh lebih ekspansif sejak lama, jauh sebelum era transmigrasi yang digalakkan oleh Soeharto pada 1979-1984.
Salah satu buktinya adalah peran saudagar yang menguburkan dan memakamkan jasad Bangsacara dan Ragapadmi, berasal dari makassar.
Sumber cerita rakyat lain menyebutkan bahwa pedagang tersebut berasal dari Sumbawa.
Bahkan, dalam beberapa cerita tutur, tokoh-tokoh seperti Sunan Kudus disebut berperan dalam mengislamkan wilayah-wilayah yang masih menganut kepercayaan pra-Islam.
Termasuk daerah yang berdekatan dengan Madura (De Graaf & Pigeaud: hal 73) seperti bawean dan kangean.
Dengan demikian, Madura pada abad ke-16 bukanlah entitas pasif, melainkan wilayah yang aktif beradaptasi, bernegosiasi, dan akhirnya terintegrasi ke dalam peta politik dan keagamaan Jawa yang sedang berubah.
Beberapa peneliti mencurigai penggambaran suku Madura yang terkesan udik merupakan citra yang dilanggengkan oleh catatan-catatan di era Belanda.
Penelitian lebih lanjut tentunya diperlukan untuk memperluas khasanah ini.
Namun, apa yang ditulis oleh De Graaf dan Pigeaud ini menjadi pintu masuk dalam mengubah paradigma terkait sejarah Madura secara lebih mendalam.
Sumber kutipan dari dokumen: