
Setelah menonton film ini, saya punya penafsiran bahwa Ghost in the Cell tidak pernah tentang horor. Namun, ia adalah film satir tentang ironi negeri ini.
Secara umum, film ini memang gore, lucu, dramatis, grounded, kadang ganjil, bahkan adegan disturbing-nya pun estetik, dan terlebih lagi sangat absurd.
Di luar itu semua, pesannya jelas. Sosok hantu, komedi, action, scene gore hanyalah pembungkus yang mengantarkan pesan satir.
Segala aspek dalam film merupakan simbol ironi. Secara mise-en-scène, di mana semua hal yang muncul dalam film adalah hal yang disengaja, dirangkai, dan diposisikan sedemikian rupa untuk menyampaikan sesuatu, film ini adalah bentuk kegeraman movie maker-nya, Joko Anwar, terhadap kondisi negara ini.
Perasaan itu tersampaikan. Sepanjang menonton film ini, di samping merasa terhibur, saya merasa miris dan tidak aman. Sepanjang menonton, saya sering sekali tersenyum kecut atau tertawa getir dengan potongan-potongan scene yang satir.
Saking satirnya, film ini seakan mengejek kita, “Yakin bisa kabur aja dulu? Ini kita sedang terpenjara, loh, dan semua masyarakat Indonesia adalah tahanannya.”
Simbol penjara dalam film ini ibarat miniatur negeri ini, dan kita, masyarakat, adalah tahanannya. Kita tidak pernah bebas bicara, lantas dipaksa merasa semua baik-baik saja.
Padahal ada penyiksaan sepihak, ada kekerasan yang dipelihara, ada pemotongan makan dan fasilitas negara, ada koruptor yang hidup mewah dalam penjara, dan ada “hantu” yang bisa saja membunuh kita kapan saja.
Ada sepenggal dialog saat seorang narapidana ditanya perihal kenapa ia masuk penjara padahal tidak bersalah, “Ya, kan kita tinggal di Indonesia, bang!”

Di saat banyak film horor Indonesia berlomba-lomba untuk menampilkan sosok yang seram, Ghost in the Cell tidak memiliki bentuk hantu yang sejati.
Alih-alih pamer sosok seram, hantu dalam film ini adalah bentuk teror dan ketakutan kita sendiri.
Sosok hantu dalam film ini menjelma menjadi cermin atas dosa masing-masing korbannya. Uniknya, hantu ini memiliki rule atau aturan, sehingga hanya orang tertentu saja yang menjadi korban.
Hantu dalam film Ghost in the Cell merupakan representasi 2 hal. Pertama adalah bentuk teror bahwa kita dipaksa merasa aman, tenang, dan tidak boleh marah di negeri yang serupa penjara.
Kedua adalah metafora kekuatan. Seandainya kita punya hantu yang bisa membunuh siapa pun, siapa yang akan kita lenyapkan nyawanya? Saingan kita, penjahat yang ada di penjara, atau… koruptor?
Di saat kita lebih percaya bahwa hantu itu lebih nyata daripada harapan akan masa depan negeri, berarti ada yang salah dengan kondisi negeri ini.

Poin keren dari Ghost in the Cell adalah bahwa setiap karakter benar-benar tampak hidup dan memiliki perannya masing-masing. Tidak ada karakter yang sia-sia. Lebih kerennya lagi, setiap karakter yang ada mewakili setiap kelompok masyarakat.
Ada intelektual yang dipenjarakan karena terlalu “berisik” bersuara, ada sipir sok kuasa, ada pejabat korup yang dulunya aktivis, ada narapidana yang dibayar buat membela koruptor, ada napi artis pengalih isu, ada gembong narkoba yang berkuasa di dalam penjara, dan ada orang yang mencoba mengubah sistem dari dalam.
Saking banyaknya, mungkin keterwakilan tokoh di dalam film ini jauh lebih banyak daripada jumlah suara kita yang terwakilkan oleh pejabat, eh.
Apa jangan-jangan justru kebalikannya, di mana ternyata selama ini kita mempercayakan suara kita kepada orang yang seharusnya pantas dipenjara? Maksudnya di Zimbabwe, bukan di Indonesia, ya.

Film ini mungkin memiliki beberapa PR, seperti finishing yang simplisistik, adegan serius yang tiba-tiba dipatahkan dengan humor, serta banyaknya scene yang absurd dengan humor gelap yang bagi sebagian orang mungkin kurang cocok.
Namun, semua itu hanya sebagian kecil saja. Ada terlalu banyak kelebihan yang sangat worth buat dibahas. Bagi saya, film yang bagus memberikan kita bekal untuk direnungkan dan didiskusikan, bahkan setelah kita keluar dari ruangan bioskop.
Ghost in the Cell benar-benar memberi kesan yang tidak biasa, terutama jika disandingkan dengan film-film horor Indonesia alakadarnya.
Kapan lagi kita bisa nonton film yang ada scene korban mutilasi yang disusun menjadi karya seni instalasi?
Kapan lagi kita menonton orang yang tiba-tiba sujud berdoa dan berdansa di tengah-tengah scene pertarungan?
Terutama, kapan lagi kita bisa nonton film yang berani melayangkan kritik serta menghadirkan ironi sekaligus satir dibungkus humor, horor, drama, dan absurditas?
This movie is sick!
Film ini benar-benar sakit, isinya orang-orang pesakitan, ditonton oleh masyarakat yang sakit, di negeri yang sedang sakit!