
Di kecamatan Robatal kabupaten Sampang Madura, hidup seorang sepuh (bangatowa), Mbah Sumarrah, yang sehat dan Panjang umur. Beliau disebut bangatowa karena banyak dilibatkan dalam urusan dan rembuk masyarakat dalam proses penyelesaian masalah.
Selain karena keilmuan dan pengaruh sosialnya, usianya juga terbilang senior. Beliau lahir pada tahun 1909M, atau usianya hari ini telah mencapai sekitar 115 tahun.
Beliau seusia dengan Sutan Sjahrir Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, seusia juga dengan Ratu Juliana dari Belanda, juga dengan Abdulrachman Saleh, seorang penerbang di zaman perang kemerdekaan yang mana mereka semua sama-sama dilahirkan tahun 1909-M.
Sosok yang hampir 20 tahun lebih tua dari Sumpah Pemuda, hanya kalah tua 4 tahun saja dengan didirikannya Syarikat Islam (SI).
Cara dan karakter berpakaianya sangat kuat dan khas, dengan mengenakan pakaian adat Madura berupa kemeja lengan panjang warna hitam (pesa’an), celana warna hitam (gombor) dan ikat kepala (odheng) yang terbuat dari kulit sapi.
Ikat kepala yang dikenakannya sudah jarang diperjualbelikan. Bahkan, orang yang bisa mencuci ikat kepala itu tinggal satu di seluruh dunia, tukang cuci itu tinggal di Bangkalan saja.
Cara berpakaiannya sering dilengkapi dengan pengenaan sabuk berwarna hijau (sabbhu’ bhiruh) dan pengenaan cincin batu akik mahal aneka jenis yang hampir memenuhi seluruh jari-jari tangannya.
Wajahnya memang sudah sepuh dan tampak datar, tapi tidak dengan mulutnya yang selalu terlihat menghisap kretek melalui pipa rokok atau cangklong dari tulang ikan duyung.
Sosok bangatowa itu bernama Mbah Sumarrah yang merupakan santri sepuh Pondok Pesantren Prajjan Camplong Sampang. Rumahnya berada di Robatal, di mana beliau masih tinggal di sana hingga saat ini.
Beberapa tahun yang lalu, di akhir bulan Oktober 2021, Jhembharate: Majlis Masyarakat Maiyah Sampang menghadirkannya sebagai salah seorang pembicara dalam acara yang bertema “Bangatowa Madhura” di Kantor Wakil Bupati Sampang.

Dalam kesempatan itu, Mbah Sumarrah bercerita tentang Madura dan Indonesia di masa pra dan pasca Merdeka, terutama dalam hal dimensi sosial, politik dan budaya.
Pertemuan anak-anak muda Madura dengan beliau dalam sebuah forum diskusi, menjelma menjadi momentum kebudayaan dan merupakan konektor nilai antara generasi tua dengan generasi muda Madura khusunya di Kabupaten Sampang.
Panjangnya usia beliau serta kesehatan yang terpelihara merupakan sesuatu yang perlu dinapak tilas – yang kalau dalam tradisi tasawuf disebut dengan rahasia (sirr).
Dalam bidang tasawuf, terutama di lingkaran Ahlusunah Waljamaah tradisional di Indonesia, mayoritas menganut doktrin-doktrin yang diajarkan oleh Imam Abu Qasim Al-Junaidi, Al-Ghazali dan tokoh keilmuan islam lainnya.
Namun dalam lingkaran muslim modernis di Indonesia, banyak yang tidak percaya terhadap doktrin tasawuf Imam Abu Qasim Al-Junaidi dan madrasah tasawufnya yang kemudian mereka – tidak atau bahkan jarang, disebut sebagai bagian dari lingkaran Ahlusunah Waljamaah tradisional.
Bagi penulis, Panjang usia dan kesehatan Mbah Sumarrah yang terpelihara merupakan sebuah pengecualian, keunikan, dan bisa juga merupakan hasil usaha (riyadhah) sehingga dianugerahi tubuh yang sehat dan usia yang panjang.
Di tengah peradaban pola makan dan peradaban pola pikir yang mudah sakit, mengetahui peradaban pola makan dan peradaban pola pikir yang sehat menjadi sangat penting. Para sufi, termasuk Al-Ghazali juga membahas tentang kesehatan, terutama menyangkut perut dan pola makan manusia secara khusus.
Al-Ghazali menyebutkan dalam Ihya’ tentang kekenyangan yang bisa menyebabkan penyakit lepra (barangkali yang dimaksud lepra oleh Al-Ghazali adalah penyakit diabetes, atau penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar glukosa atau gula darah yang tinggi di atas normal).
Menurut Al-Ghazali, persoalan di sistem pencernaan disebabkan oleh makan berlebih yang mengakibatkan produksi lendir juga menjadi berlebih dalam tubuh manusia, sebuah kondisi yang ditandai oleh sendawa berupa asam dari dalam perut.
Pola konsumsi yang salah dan berlebih melemahkan otot perut dan organ-organ yang lain, yang kemudian berimbas terhadap tabiat manusia. Al-Ghazali termasuk sufi yang memberikan resep, seperti sesekali minum air hangat sebagai salah satu solusi kesehatan tubuh manusia.
Hal senada juga dapat ditelusuri dari doktrin tasawuf yang benar, yang bersandar kepada ajaran Nabi Muhammad Shallaallahu ‘Alaihi Wasallam. Semangat tasawuf adalah semangat cinta kepada kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan rasul-Nya, serta cinta dan belas kasihan kepada seluruh makhluk-Nya.
Suatu ketika, sahabat Anas bin Malik RA bercerita tentang dirinya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “Wahai anakku, jika kamu mampu pada pagi hari dan sore hari tanpa ada dengki dalam hatimu kepada seorang pun, maka lakukanlah.”
Kemudian Rasulullah bersabda kepada Anas bin Malik RA: “Wahai anakku, itu termasuk dari sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barang siapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.” Sabda Rasulullah kepada sahabat Anas bin Malik.
Hal ini menekankan betapa pentingnya memahami cinta sebagai landasan untuk bersikap, berpola pikir yang baik, serta pola hidup sesuai sunnah Rasulullah.
Dalam acara Bangatowa Madhura itu, penulis sempat memberi informasi dan bertanya kepada Mbah Sumarrah.
Adapun informasinya tentang generasi muda hari ini yang banyak tidak sehat fisiknya dan serba buru-buru semua keinginannya: buruk pola makannya, buruk pola pikirnya, serta pola hidup secara keseluruhan.
Generasi muda hari ini, banyak ditemui ketika umur empat puluh tahun sudah sakit-sakitan lalu mati muda. Generasi muda hari ini adalah generasi yang boros (tarapas).
Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan: Apa resep hidup Mbah Sumarrah sehingga masih mampu bertahan hidup hingga usia seratus dua belas tahun (ketika itu) selain faktor ajal dari Allah?
Setelah diberikan waktu menjawab, Mbah Sumarah memberikan penjelasan sekaligus resep hidup sehat sebagai berikut. Pertama, kalau badan dirasa tidak normal, sebaiknya kita diperintah oleh Mbah Sumarrah minum jamu tradisional (jhamuh pagharan) seperti kunyit, temulawak, jahe dan yang lain-lain.
Kedua, dalam satu pekan sekali, kita diperintah menyempatkan diri makan singkong, entah itu direbus, dibuat nasi, atau dalam bentuk tape dan olahan sehat lainnya, tetapi yang paling bagus dimakan dalam bentuk nasi.
Ketiga, resep dan rahasia sehat sekaligus panjang umur Mbah Sumarrah adalah; kalau tetangga kita mampu bikin rumah, maka kita diperintah jangan iri, jangan dengki.
Dengan demikian, keteladanan Mbah Sumirah bukan hanya terletak pada usia beliau yang melampaui seabad, melainkan pada keselarasan hidup yang dijalaninya.
Resep yang beliau wariskan—dari jamu tradisional, konsumsi bahan alami, hingga kebersihan hati dari iri dan dengki—adalah sebuah wejangan hidup yang relevan melampaui zaman.
Di tengah arus modernitas yang kerap menjerumuskan pada pola hidup instan dan penuh kecemburian, ajaran sang Bangatowa bagai oase yang mengingatkan kita pada hakikat hidup sejati: bahwa umur panjang dan kesehatan yang paripurna adalah buah dari harmoni antara merawat raga, mensyukuri rezeki, dan membersihkan batin.
Akhir kata, Mbah Sumirah bukan hanya menyimpan sirr, tetapi telah menghidupkannya dalam laku nyata, menjadi warisan budaya dan spiritual yang patut kita turuti.