
Madurapedia – Batik Madura memiliki motif khas dan Sejarah yang Panjang. Hal ini dapat dilhat pada perayaan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, yang merupakan momentum untuk mengingatkan kembali bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, dan salah satunya adalah batik.
Setiap daerah di Nusantara memiliki ciri khasnya tersendiri, tak terkecuali pulau Madura yang terkenal dengan batik Madura-nya yang berani dan ekspresif. Namun, jika kita menyebut batik Madura, pikiran seringkali langsung tertuju pada Batik Tanjung Bumi dari Bangkalan, batik tulis Pamekasan, atau batik Sumenep dengan bahan alamnya. Lalu, di manakah posisi Sampang?
Sampang seringkali jarang terdengar kekhasan batiknya dibandingkan tiga kabupaten lainnya di Madura. Namun, sebuah babak baru dimulai pada tahun 2023. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang secara resmi menetapkan batik serser sebagai pakaian resmi yang melengkapi Busana Adat pada prosesi Hari Jadi Kabupaten.
Keputusan bersejarah ini bukanlah langkah yang dibuat-buat, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris terlupakan.
Untuk memahami sejarah batik di Madura, khususnya di Sampang, kita perlu melihat ke belakang. Penetapan batik serser ini berawal dari temuan tim ahli yang melakukan penelitian mendalam. Seperti yang diungkapkan oleh Aba Imron, owner Sentra Batik Salempang, pemilihan motif ini disesuaikan dengan permintaan yang didasarkan pada hasil penelitian tersebut.
Tim ahli berhasil menemukan arsip foto kolonial yang menunjukkan bahwa dalam acara-acara resmi, para bangsawan Sampang pada masa lalu banyak mengenakan batik serser.
Temuan arsip ini menjadi bukti otentik bahwa Sampang memiliki identitas batik Madura-nya sendiri yang telah ada sejak lama. Sejak di-launching sebagai elemen penting busana adat, batik serser pun menghidupkan kembali corak batik Sampang yang sempat lama hilang dari peredaran.
Harapan pun disampaikan oleh mantan kepala dinas bidang kebudayaan, Ibu Dewi, bahwa dengan diresmikannya busana adat ini, kekhasan batik Sampang akan semakin dikenal, tidak hanya di lingkungan pemerintah daerah, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Lantas, seperti apa sebenarnya batik serser ini? Secara visual, batik serser sepintas memiliki kemiripan dengan motif “larangan” yang biasa dipakai oleh keraton Yogyakarta. Kemiripan ini bukanlah suatu kebetulan. Fakta sejarah budaya menjelaskannya.
Seperti tutur Pak Bustomi, seorang budayawan Sampang, kemiripan ini disebabkan oleh kondisi politis Sampang pada masa lalu yang menjadi pusat kekuasaan di Madura dan secara budaya banyak terpengaruh oleh kultur Mataraman (Jawa). Interaksi politik dan budaya inilah yang kemudian mempengaruhi ragam motif batik Madura di wilayah Sampang. Meski terinspirasi, batik serser tentu memiliki karakter dan makna lokalnya sendiri yang membedakannya.
Nama “serser” sendiri konon berasal dari kata “serat” atau “susur”, yang berarti menggambarkan jalur atau alur yang berkesinambungan. Motifnya didominasi oleh garis-garis geometris yang berulang dan simetris, melambangkan keteraturan, ketegasan, dan kesinambungan pemerintahan.
Sebagai bagian dari motif batik Madura, serser menawarkan kesan yang lebih klasik dan berwibawa dibandingkan dengan batik Madura dari daerah lain yang biasanya lebih flamboyan dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan hijau. Warna dasar batik serser cenderung lebih gelap, seperti soga tua, hitam, atau biru indigo, yang memperkuat kesan aristokrat dan sejarahnya yang panjang.
Sebagai bagian dari motif batik Madura, serser menawarkan kesan yang lebih klasik dan berwibawa dibandingkan dengan batik Madura dari daerah lain yang biasanya lebih flamboyan dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan hijau.
Keberadaan batik serser kini mulai mendapatkan tempatnya kembali. Bagi para pecinta batik dan pelancong yang ingin menyaksikan langsung keindahan batik serser serta motif batik Madura lainnya yang diangkat dari kearifan lokal, dapat mengunjungi Sentra Batik Salempang yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto, Pliyan, Tanggumong, Kec. Sampang.
Kebangkitan batik serser adalah bukti nyata bahwa sejarah batik di Madura masih terus ditulis. Upaya Pemkab Sampang dan para pelaku budaya seperti Aba Imron dan Pak Bustomi patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya sekadar melestarikan, tetapi juga menghidupkan kembali sebuah identitas yang hampir punah.
Batik Serser bukan lagi sekadar motif di atas kain, melainkan simbol kebanggaan, penutur sejarah, dan penegas bahwa Sampang memiliki ceritanya sendiri dalam peta kekayaan batik Madura yang tak ternilai.
Ke depannya, diperlukan terus menerus inovasi, seperti menyelipkan unsur kontemporer atau mempromosikannya ke kancah yang lebih luas, agar warisan ini tidak hanya hidup di upacara adat, tetapi juga diterima oleh generasi muda dan pasar modern.