
MADURAPEDIA – Tahukah Anda, momen Idul Adha di Madura justru lebih ramai dibandingkan Idul Fitri?
Jika sebagian besar masyarakat Indonesia berbondong-bondong mudik saat Lebaran, berbeda dengan pemandangan di Pulau Garam.
Di sinilah tradisi Idul Adha di Madura menyuguhkan fenomena unik bernama Toron, sebuah kearifan lokal yang menyatukan spiritualitas, sejarah panjang, dan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat.
Dalam bahasa Madura, Toron secara harfiah berarti “turun” atau “pulang ke kampung halaman”. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar perjalanan fisik.
Toron adalah simbol kerinduan, penghormatan kepada leluhur, dan penguatan identitas sebagai orang Madura.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada tiga momen besar: Idul Fitri (Tellasan Aghung), Idul Adha (Tellasan Reraja), dan Maulid Nabi.
Namun, puncak keramaian justru terjadi saat Idul Adha. Mengapa demikian? Karena momen kurban dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga besar, bersedekah, dan menunjukkan rasa syukur.
Lalu, sejak kapan tradisi ini mengakar? Menurut Moordinati, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, akar tradisi Toron sudah terlihat sejak sebelum abad ke-19.
Meskipun belum ditemukan catatan spesifik dari peninggalan kolonial mengenai awal mulanya, fakta sejarah menunjukkan bahwa migrasi orang Madura sudah masif terjadi pada masa itu.
Didorong oleh kondisi alam Madura yang sebagian tandus dan kebutuhan ekonomi, para leluhur Madura merantau ke berbagai penjuru Nusantara.
“Toron diduga dari kata toronan atau turunan, lebih lekat dengan tradisi orang Madura yang migrasi,” jelas Mutmainnah, Sosiolog Universitas Trunojoyo Madura.
Mereka yang merantau kemudian memiliki kewajiban moral untuk “turun” kembali ke tanah kelahiran, menjadikan Toron sebagai perekat budaya yang menjaga agar rantai keluarga tidak putus (nyambung bheleh).
Tradisi Idul Adha di Madura tidak berhenti saat kaki menginjak kampung halaman. Ada serangkaian ritual sakral yang menyertainya:
Fenomena Toron menciptakan pola mobilitas yang menarik. Jika kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya biasanya sepi saat Lebaran, justru Pulau Madura berubah menjadi lautan manusia saat Idul Adha.
Jelang Idul Adha, Jembatan Suramadu dan pelabuhan feri seperti Ujung (Surabaya) serta Kamal (Bangkalan) dipadati ribuan kendaraan. Para perantau rela mengantre berjam-jam demi bisa merasakan suasana Lebaran Haji di kampung halaman.
Tradisi ini juga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat. Menurut pengamatan, perputaran uang meningkat drastis di sektor transportasi, kuliner, hingga jasa penitipan hewan kurban. ”Kebanyakan perantau sukses, ketika pulang membuat masyarakat Madura lainnya termotivasi,” ungkap Moordinati.
Namun, di balik kemeriahan ini, perlu diingat akan pentingnya keselamatan berkendara. Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Jatim, Ajun Komisaris Besar Hendrix Kusuma Wardhana, mengimbau para pemudik untuk selalu berhati-hati, terutama bagi pengguna sepeda motor.
Jika mudik Idul Fitri lebih bersifat personal setelah sebulan berpuasa, Toron Idul Adha lebih berorientasi pada kolektif dan sosial. Momen ini lebih ditekankan untuk gotong royong kurban, ziarah keluarga besar (yang mungkin hanya setahun sekali bertemu saat Idul Adha), serta memperkuat identitas budaya Madura secara massal.
Secara prinsip, Toron adalah warisan budaya Suku Madura. Namun, di daerah Pendalungan (kawasan Tapal Kuda Jawa Timur seperti Jember, Bondowoso, Situbondo) yang memiliki akulturasi kuat antara Jawa dan Madura, fenomena mudik besar-besaran saat Idul Adha juga mulai terlihat. Intinya, siapa pun yang memiliki ikatan keluarga dan menghormati budaya Madura dapat ikut merasakan euforianya.
Tentu saja. Inti dari Toron adalah menyambung silaturahmi. Di era digital, jika halangan fisik seperti biaya atau pekerjaan menghalangi, Anda bisa mengirim terateran (kiriman) ke kampung atau melakukan video call bersama keluarga besar saat pemotongan hewan kurban. Doa dan niat baik untuk kampung halaman tetap menjadi nilai utama dari tradisi ini.
Tradisi Idul Adha di Madura melalui ritual Toron bukan sekadar nostalgia kampung halaman. Ini adalah pusaka budaya yang membuktikan bahwa modernitas tidak serta-merta menghapus akar tradisi. Ini adalah tentang pulang—kembali ke tanah asal, kembali ke keluarga, dan kembali ke jati diri.
Dari filosofi “bhuppa’ bhabhu’ ghuru rato” (hormat pada orang tua, guru, dan pemimpin), tradisi ini mengajarkan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kita tidak melupakan dari mana kita berasal -1.
Apakah Anda siap merasakan hangatnya tradisi Toron di Madura tahun ini?
Referensi Sumber: