
MADURAPEDIA – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang tinggal menghitung hari, harga bahan pokok di Madura turut menggenjot ritme denyut nadi perekonomian di Pulau Madura.
Lonjakan permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pokok kerap menjadi pemicu gejolak harga di pasar tradisional.
Lantas, bagaimana sebenarnya pergerakan harga bahan pokok di Madura menjelang Lebaran tahun 2026 ini?
Para ibu rumah tangga mulai waspada, dan pemerintah daerah bersama berbagai elemen masyarakat pun bergerak untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga tetap terkendali.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep menunjukkan adanya tren kenaikan pada beberapa komoditas, meski secara umum pasokan masih terbilang aman.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional, fluktuasi harga menjelang hari raya adalah fenomena nasional yang memerlukan intervensi pasar.
Untuk mendapatkan data real-time di Madura, masyarakat dapat mengakses situs resmi panelharga.badanpangan.go.id yang menyediakan update harga harian hingga bulanan.
Peningkatan harga menjelang Lebaran adalah siklus tahunan yang hampir pasti terjadi. Faktor utamanya adalah peningkatan konsumsi rumah tangga untuk kebutuhan memasak, menyajikan hidangan Lebaran bagi keluarga dan tamu, serta tradisi berbagi sesama.
Komoditas yang biasanya paling terpengaruh adalah bahan pokok strategis seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai, dan bawang.
Seorang pedagang di Pasar Bangkalan, Ibu Fatimah (45), mengungkapkan bahwa permintaan mulai meningkat sejak awal pekan ini.
“Biasanya seminggu sebelum Lebaran itu puncaknya, Mbak. Sekarang harga beras medium masih di angka Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tapi kami was-was kalau tiba-tiba distributor naikkan harga,” ujarnya saat ditemui tim reportase, Selasa (10/3/2026).
Namun, di sisi lain, daya beli masyarakat juga menjadi perhatian. Tidak semua lapisan masyarakat mampu membeli kebutuhan pokok dengan harga yang melambung tinggi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan adanya tekanan ekonomi bagi keluarga prasejahtera. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah dan berbagai organisasi mulai menggelar operasi pasar dan bazar sembako murah demi menstabilkan harga bahan pokok di Madura.
Salah satu upaya konkret untuk menekan laju inflasi dan membantu masyarakat terlihat di Kabupaten Sampang.
Ketua PWI Kabupaten Sampang, Hanggara Pratama Syaputra, menegaskan dukungan terhadap program pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok di Madura, Sampang khususnya.
“Kami dari PWI Sampang berkolaborasi dengan Dispeta KP Sampang dan Bulog menggelar bazar sembako murah untuk membantu masyarakat meringankan kebutuhan pokok, khususnya di momentum bulan suci Ramadan,” ujar Hanggara.
Antusiasme warga sangat tinggi. Sejak pagi, stan penjualan dipadati oleh ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan kebutuhan dapur dengan harga terjangkau.
“Alhamdulillah, kami senang. Adanya bazar sembako murah ini sangat membantu untuk menghemat pengeluaran membeli kebutuhan pokok,” kata Nunung, warga Permata Selong, Sampang.
Berikut adalah daftar komoditas yang biasanya tersedia dalam bazar serupa:
Meskipun data harga resmi untuk seluruh wilayah Madura masih menunggu rilis Disperindag, kita bisa melihat gambaran fluktuasi harga dari wilayah lain di Indonesia sebagai pembanding.
Di Pasar Gedhe Klaten, Jawa Tengah, misalnya, harga sejumlah komoditas menunjukkan tren beragam. Kepala Pasar Gedhe Klaten, Purwadi, menyatakan bahwa secara umum harga masih stabil dan pasokan aman.
Tabel berikut menyajikan data harga eceran di Madura secara umum per 9 Maret 2026 sebagai ilustrasi fluktuasi:
| Komoditas | Harga per 9 Maret 2026 | Keterangan |
|---|---|---|
| Beras Lokal Medium IR-64 | Rp 14.000 | Stabil |
| Beras Bulog SPHP | Rp 12.500 | Stabil |
| Minyak Goreng Minyakita | Rp 15.700 | Stabil (Sesuai HET) |
| Minyak Goreng Curah | Rp 19.000 | Naik Rp 1.000 |
| Cabai Rawit Merah | Rp 82.000 | Turun Rp 8.000 |
| Bawang Merah | Rp 42.000 | Stabil |
| Bawang Putih | Rp 35.000 | Stabil |
| Telur Ayam Ras | Rp 28.500 | Turun |
| Daging Ayam Ras | Rp 37.000 | Stabil |
| Daging Sapi | Rp 130.000 | Stabil |
Data ini menunjukkan bahwa kenaikan tidak selalu terjadi pada semua komoditas. Cabai rawit yang sempat melambung tinggi justru mulai turun, sementara minyak goreng curah mengalami kenaikan tipis.
Kondisi serupa mungkin juga terjadi di pasar-pasar Madura, meski dengan skala harga yang bisa berbeda.
Pengendalian inflasi, terutama di sektor pangan, membutuhkan kerja sama lintas sektor dan wilayah. Di Kalimantan Barat, peluncuran TPID Kuponwah (Kubu Raya-Pontianak-Mempawah) menjadi contoh inovasi sinergi antardaerah untuk memantau harga pangan secara digital.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menekankan bahwa infrastruktur dan distribusi adalah kunci utama.
“Terutama terkait distribusi pangan. Untuk masuk ke Kota Pontianak, pasokan tidak selalu melalui jalur udara. Jalur darat juga berperan penting… Oleh karena itu, infrastruktur jalan harus dipastikan memadai,” katanya.
Pelajaran dari Pontianak ini relevan dengan Madura. Sebagai wilayah kepulauan yang terhubung dengan Jembatan Suramadu, kelancaran distribusi dari Surabaya dan daerah sentra produksi lainnya sangat menentukan harga di tingkat pengecer.
Jika terjadi hambatan di jalur distribusi, harga dipastikan akan bergejolak.
Menghadapi periode Lebaran, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying).
Pemerintah menjamin stok bahan pokok aman hingga beberapa bulan ke depan. Perum Bulog, misalnya, secara konsisten memastikan ketersediaan beras dan minyak goreng tetap terjaga.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai kanal informasi resmi untuk memantau harga. Badan Pangan Nasional menyediakan aplikasi dan situs web Panel Harga Pangan yang bisa diakses kapan saja.
Menjelang Lebaran 2026, harga bahan pokok di Madura menunjukkan tren fluktuatif, dengan potensi kenaikan pada komoditas tertentu seperti minyak goreng curah dan bawang, namun ada juga yang stabil seperti beras SPHP.
Inisiatif seperti bazar sembako murah di Sampang menjadi napas lega bagi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, Bulog, insan pers, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di Madura dan memastikan hari raya tetap penuh berkah tanpa beban ekonomi berlebih.
Anda bisa mengakses informasi harga terkini melalui situs resmi Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional di panelharga.badanpangan.go.id -9. Selain itu, pantau terus media lokal terpercaya seperti Harian Madura, dimadura.id, atau akun media sosial Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) di masing-masing kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep).
Ya, beberapa daerah sudah mulai mengadakan pasar murah. Contohnya di Sampang yang digelar PWI pada 9-10 Maret 2026. Untuk jadwal terbaru di wilayah Anda, sebaiknya hubungi kantor kelurahan/desa setempat atau cek pengumuman di media sosial pemerintah daerah masing-masing.
Kenaikan harga cabai rawit umumnya disebabkan oleh faktor produksi (musim hujan dapat mengganggu panen) dan tingginya permintaan selama bulan puasa dan Lebaran. Rantai distribusi yang panjang juga kerap menjadi penyebab tingginya harga di tingkat konsumen.
Catatan:
Berdasarkan hasil pencarian, data harga spesifik untuk Madura per 11 Maret 2026 masih terbatas dan menunggu rilis resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat.
Artikel ini menggunakan data pembanding dari wilayah lain dan informasi kebijakan untuk memberikan gambaran umum yang akurat.
Sumber data dan informasi harga pangan nasional dapat diakses melalui situs resmi Badan Pangan Nasional RI.