
Kalau kamu lewat sekitar Sumber Omben di Kabupaten Sampang, konon akan terdengar suara seolah ada gua besar di bawah tanah. Bukan cuma indah dipandang, mata air ini juga menyimpan legenda turun-temurun yang jadi bagian penting sejarah masyarakat Madura, khususnya warga Sampang dan Pamekasan yang sampai sekarang masih menikmati alirannya.
Menurut cerita rakyat setempat, air dari sumber ini dulunya tidak mengalir keluar Desa Omben sama sekali. Konon airnya justru jatuh ke sebuah lubang atau gua besar di dalam tanah, sehingga tak sampai ke luar desa.
Cerita rakyat menyebut fenomena ini berkaitan dengan sumpah tokoh legendaris bernama Kudho Panule. Menariknya, kepercayaan warga setempat mengaitkan sumpah ini dengan kisah masa kecil Kudho Panule, yang konon dulu disusui oleh seekor kerbau betina berbulu putih atau yang disebut kebo bule.
Baca juga: Mengenal Baju Adat Lilin, Warisan Pengantin Khas Sumenep
Bagian menarik lain dari kisah ini adalah usaha manusia untuk “menaklukkan” sumpah tersebut. Sebelum tahun 1920, pemerintah pada masa itu dikabarkan sudah berkali-kali mencoba menyalurkan air sumber dengan teknik capteering atau penyemenan, dikerjakan sejumlah insinyur, namun selalu gagal hingga belasan kali percobaan.
Baru pada 1921, seorang camat setempat mengambil langkah budaya sekaligus teknis. Ia lebih dulu menggelar selamatan desa dan memotong seekor kerbau betina berbulu putih, sebagai simbol penghormatan pada kisah masa kecil Kudho Panule. Dengan dukungan warga Desa Omben, air kemudian berhasil disalurkan, disambung dari sumber Napo di dekat Sampang, menuju kota Sampang, sampai ke perbatasan Kabupaten Pamekasan.
Percobaan penyemenan pun diulang untuk ketiga belas kalinya setelah 1921, dan kali ini berhasil. Hasilnya, pada awal 1926 terbentuklah jaringan saluran air bersih (waterleiding) yang melayani seluruh Kabupaten Sampang dan Pamekasan, memakai jalur yang sama seperti yang dibangun warga bersama camat tersebut.
Legenda ini juga bercerita panjang lebar soal perjalanan Kudho Panule setelah singgah di Omben. Ia melanjutkan perjalanan bersama istrinya menuju Sumenep untuk menemui ibunya, Dewi Saini yang dijuluki “Puteri Kuning”, di kediaman sang kakek, Pangeran Setyodiningrat II.
Cerita rakyat bahkan menghubungkan sejumlah sumber air lain dengan perjalanan Kudho Panule ini, di antaranya:
Sesampainya di Sumenep, Kudho Panule bertemu ibunya dan mendengar kisah asal-usulnya secara utuh, termasuk soal ayahnya, Adipoday (Panembahan Sapudi), yang tengah bertapa di Gunung Geger, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan.
Singkat cerita, sang kakek yang sudah lanjut usia akhirnya menyerahkan pemerintahan Sumenep Utara dan Selatan kepada Kudho Panule, dengan restu Raja Majapahit. Ia pun dinobatkan dengan gelar Pangeran Setyodiningrat III, dan dikaruniai dua putra: Raden Ario Begonondo dan seorang putri yang kelak menjadi istri Sunan Padusan.
Untuk versi lengkap naskah sejarah ini, kamu bisa membaca arsip resminya di situs Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Catatan validasi: kisah ini berasal dari tradisi lisan dan naskah sejarah lama, sehingga sebagian detail seperti angka tahun (1920, 1921, 1926) dan nama-nama tokoh kerajaan bersifat historis-legendaris dan menunggu konfirmasi resmi dari sumber sejarah tertulis yang lebih valid. Perlu dicatat juga, ada versi lain dari asal-usul Sumber Omben yang menyebut tokoh Jokotole dan istrinya Dewi Ratnadi sebagai asal mula nama Omben, sehingga masyarakat Madura mengenal lebih dari satu versi legenda untuk tempat yang sama.
Sumber Omben terletak di Desa Omben, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, dan menjadi sumber utama saluran air bersih untuk wilayah Sampang dan Pamekasan.
Kudho Panule adalah tokoh legendaris yang dipercaya masyarakat setempat berkaitan dengan sumpah yang membuat air Sumber Omben awalnya tidak mengalir keluar desa, sebelum akhirnya berhasil dialirkan pada awal abad ke-20.
Menurut kisah yang beredar, saluran air atau waterleiding dari Sumber Omben baru berfungsi penuh untuk wilayah Sampang dan Pamekasan pada awal tahun 1926, setelah belasan kali percobaan penyemenan sumber sejak sebelum 1920.
Legenda Sumber Omben jadi bukti kalau cerita rakyat Madura selalu punya lapisan sejarah dan makna tersendiri. Yuk, bagikan kisah ini supaya warisan budaya Madura makin dikenal luas!