Membongkar Era Masuknya Islam di Jawa: Transisi Majapahit Hingga Bangkitnya Mataram

Membongkar Era Masuknya Islam di Jawa: Transisi Majapahit Hingga Bangkitnya Mataram

Apakah masuknya Islam di Jawa benar seperti yang kita pahami selama ini?

Tulisan resensi ini akan membongkar pemahaman tersebut secara mendalam.

“Sejarah bukanlah sesuatu yang mati dan selesai. Ia bernafas, berubah, dan seringkali bersembunyi di antara baris-baris babad dan batu nisan yang terlupakan.”

Inilah esensi yang diangkat oleh Dr. H.J. de Graaf dan Dr. Th.G.Th. Pigeaud dalam karya monumental mereka, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram.

Sebagai lanjutan resensi dari tulisan ini, buku ini bukan sekadar kronik pergantian dinasti, melainkan upaya revolusioner untuk menghidupkan kembali abad ke-15 dan 16.

Sebuah periode yang oleh penulis disebut sebagai “sebuah episode sejarah yang sebelumnya banyak dilalaikan, bahkan hingga sekarang masih kurang sekali dijamah para sejarawan.”

membongkar sejarah islam di jawa

Metodologi Baru dalam Membaca Sejarah Islam di Jawa: Melampaui Narasi Kolonial untuk Menulis Ulang Sejarah

Ketika penulis-penulis Barat terdahulu seperti Raffles atau Veth menulis sejarah Jawa, mereka cenderung bergantung pada dokumen-dokumen Eropa.

Sumber utamanya berupa laporan VOC, catatan misionaris, dan arsip kolonial.

Hasilnya adalah sejarah Jawa yang dilihat melalui kaca mata asing, penuh dengan bias dan kesenjangan.

De Graaf dan Pigeaud melakukan terobosan metodologis yang radikal dengan menolak sudut pandang kolonial yang terlalu berjarak.

Mereka memelopori penggunaan sumber-sumber pribumi secara sistematis:

  • Babad Tanah Djawi – Kronik utama kerajaan Mataram
  • Serat Kandha – Kumpulan cerita sejarah dan legenda
  • Babad Sangkala – Daftar tahun peristiwa dengan sistem kronogram
  • Babad Mataram – Sejarah khusus dinasti Mataram

“Berbeda dengan penulis-penulis Barat terdahulu yang terutama mendasarkan uraiannya pada bahan-bahan keterangan asing,” tertulis di bagian pengantar penerbit.

Artinya, metode ini memungkinkan pemahaman sejarah secara lebih membumi dengan sudut pandang yang menjadikan dimensi etnografis lokal sebagai pelaku, bukan hanya objek penelitian.

Pendekatan menggunakan metode ini dalam memahami sejarah kian marak digunakan.

Seorang arsiparis dari kab. Sampang, Fathor Rosi menggunakan paradigma ini dengan menggolongkan cerita rakyat sebagai arsip sejarah sebagai bentuk dokumentasi perspektif orang di masa lalu dalam memahami fenomena sejarah.

Iqbal H. Saputra, seorang penulis, peneliti, dan budayawan dari Belitung juga menggunakan metode yang sama dalam penelitian dan penulisan bukunya.

Dengan semakin banyaknya para ahli yang menggunakan pendekatan ini, sejarah tak lagi dipandang dari sudut pandang koloniali, namun menjadi milik pelaku budayanya.

Ketika Kisah Menjadi Sumber Sejarah dan Arti Nama Sunan Kalijaga

Salah satu kontribusi terbesar buku ini adalah pendekatan terhadap legenda dan mitos sebagai sumber sejarah budaya.

Dalam kata pengantar yang mendalam, Prof. Soemarsaid Moertono mengingatkan:

“Dalam sejarah kebudayaan, anggapan dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat juga merupakan ‘fakta sejarah’ yang mempunyai arti sendiri.”

Contohnya adalah legenda Sunan Kalijaga dan Masjid Demak.

Menurut tradisi, Sunan Kalijaga datang terlambat dalam pembangunan masjid, sehingga hanya bisa menyumbang tiang dari potongan-potongan kayu sisa.

Cerita ini bukan sekadar dongeng – ia mencerminkan posisi Kalijaga sebagai pendakwah yang berakar pada tradisi lokal, berbeda dengan wali-wali lain yang lebih “ortodoks”.

Sunan Kalijaga menjadi semacam icon brilian yang memadukan islam dan tradisi Jawa, menjadikannya salah satu Sunan yang mereformasi cara berdakwah di tanah Jawa.

Ada sebuah kisah tak tertulis mengenai nama Sunan Kalijaga, yang mana bukan hanya sebatas seseorang yang menjaga sungai.

Apa arti nama Kalijaga? Beberapa sumber menyebut bahwa yang dimaksud ‘kali’ adalah sungai atau sumber air yang berarti identitas masyarakat yang hidup di tanah Jawa.

Alkisah, Sunan Kalijaga sebelum berdakwah meminta izin kepada iblis purba penunggu tanah Jawa. Sang iblis ini mengizinkan dengan syarat ‘sungai’ itu tetap harus dijaga.

Mitos ini diyakini memiliki makna tersembunyi. ‘Iblis’ merupakan representasi dari penguasa Jawa pada saat itu.

Sementara ‘sungai’ berarti identitas kejawaan yang harus tetap dijaga dan tidak hilang dan diganti buaya arab.

Sehingga yang dijaga oleh Sunan Kalijaga adalah identitas kejawaan dan budaya dengan memasukkan islam sebagai ruh dari ajarannya.

Runtuhnya Majapahit Bukan Kehancuran, Melainkan Transformasi

Selama berabad-abad, historiografi tradisional menggambarkan runtuhnya Majapahit sebagai peristiwa dramatis dan final.

Peristiwa yang menggambarkan sebuah keruntuhan peradaban Hindu-Buddha yang digantikan oleh Islam secara tiba-tiba.

Buku ini membongkar narasi simplistik tersebut dengan paradigma adanya transformasi kebudayaan.

Fakta menarik yang diungkapkan di antaranya:

  • Majapahit masih eksis hingga pertengahan abad ke-16, jauh setelah munculnya Demak
  • Proses Islamisasi berlangsung gradual selama dua abad (abad 15-16)
  • Banyak institusi Majapahit diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan Islam

Artinya, struktur kebudayaan Majapahit tidak ditinggalkan pasca keruntuhannya, namun berubah bentuk dengan identitas yang masih senafas dengannya.

Kekuasaan dapat diartikan hanya berpindah tangan di lapisan atas saja, sementara struktur kelembafgaan dan masyarakatnya masih tetap sama.

Bukti-bukti tidak langsung seperti sistem pemerintahan, institusi, serta proses islamisasi yang jauh dari kata ‘penaklukan’ mempertegas hal ini.

Musafir Portugis Tome Pires, yang mengunjungi Jawa sekitar tahun 1515, memberikan gambaran berharga tentang keadaan akhir Majapahit:

“Ibu kotanya dinamakan Dayo, dan rajanya diberi nama Batara Vigiaja… Raja ini tunduk pada Fiso-Rey a Capitam Mor, Guste Pate yang dahulu juga dinamakan Pate Amdura atau Pate Andura.”

Yang menarik, Pires tidak pernah menyebut nama “Majapahit” – ia menyebutnya “Dayo” (mungkin dari kata Sunda dayeuh yang berarti ibu kota).

Ini menunjukkan bahwa pada awal abad 16, Majapahit mungkin sudah kehilangan kemegahannya, tetapi masih diakui sebagai pusat simbolis.

Mengintip Sejarah Islam Pertama di Jawa: Demak dalam Pusaran Kuasa dan Agama

Salah satu temuan paling menarik buku ini adalah asal-usul dinasti Demak yang multi-etnis.

Berbeda dengan legenda Mataram yang menyebut Raden Patah sebagai keturunan Majapahit, sumber-sumber dari Banten mengungkapkan cerita yang berbeda:

Tiga versi asal-usul penguasa Demak pertama:

  1. Versi Portugis (Tome Pires): Seorang “budak belian” (kawula/abdi) dari Gresik
  2. Versi Banten (Sadjarah Banten): Seorang patih raja Cina yang masuk Islam
  3. Versi Hikayat Hasanuddin: Pembesar bernama Cek Ko-Po dari Munggul (Mongolia)

“Berdasarkan beberapa berita abad ke-17 dan yang dari Jawa Barat,” tulis penulis, dapat disimpulkan bahwa asal usul dinasti Demak itu dari ‘Cina’ pada waktu ini dapat dipercayai dengan adanya bukti-bukti tak langsung tersebut.

Lebih lanjut, buku ini juga membahas tentang fungsi masjid di masa pemerintahan Demak lebih dari sekadar tempat ibadah.

Ia adalah lambang legitimasi politik dan spiritual. Penelitian terhadap candrasangkala (kronogram) di masjid tersebut mengungkapkan:

  • Tahun 1401 Jawa (1479 Masehi): Diduga tahun pembangunan bagian tertua (mihrab)
  • Tahun 1428 Jawa (1506 Masehi): Merupakan tahun yang tertera di pintu gerbang utama

Dapat ditarik kesimpulan bahwa teradapat upaya dalam menjaga tempat yang dianggap suci sebagai simbol peneguhan monumental penguasa pada saat itu.

Menariknya, legenda menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga-lah yang memperbaiki arah kiblat masjid ini.

Cerita ini diduga merupakan metafora untuk peran Kalijaga dalam “menyesuaikan” Islam dengan budaya Jawa.

Golongan Menengah Islam: Motor Perubahan Sosial di Kota Pesisir Gresik-Surabaya

Bagian menarik lainnya dari buku ini membahas tentang memperkenalkan konsep penting tentang golongan menengah Islam.

Mereka adalah para pedagang, pelaut, dan ulama di kota-kota pelabuhan yang menjadi penggerak perubahan di masa itu.

Karakteristik golongan menengah Islam:

  • Asal campuran: Keturunan Jawa, Cina, Arab, India
  • Basis ekonomi: Perdagangan regional dan internasional
  • Jaringan luas: Terhubung dengan komunitas Muslim di Malaka, Pasai, bahkan Timur Tengah
  • Fleksibilitas budaya: Mudah beradaptasi dengan tradisi lokal

Dengan karakteristik tersebut, para golongan menengah Islam ini dapat dengan mudah menyebarkan keislaman lewat budaya tutur dan tulis.

“Kesusastraan Jawa abad ke-17 dan ke-18 mengenal banyak cerita tradisional mengenai para wali… Dikisahkan kehidupan, mukjizat, dan keyakinan mereka di bidang mistik Islam dan teologi.”

Perniagaan di masa itu tidak hanya berfungsi secara ekonomi, namun dipenuhi saling tukar kisah, budaya, dan informasi mengenai negeri yang jauh.

Pelabuhan-pelabuhan pertama yang tercatat sebagai pusat interaksi penyebaran islam ini di antaranya adalah pelabuhan Gresik dan Surabaya.

Penelitian mendetail tentang Gresik dan Surabaya mengungkapkan pola Islamisasi yang berbeda dengan Demak.

Fakta tentang Pelabuhan Gresik-Surabaya:

  • Memiliki makam Islam tertua di Jawa (Makam Fatimah binti Maimun, wafat 1082 M)
  • Raden Rahmat (Sunan Ngampel) berasal dari Campa (Vietnam), bukan Arab atau Jawa
  • Jaringan keluarga ulama yang kompleks dan berpengaruh di antara pelabuhan Gresik-Surabaya

Selama proses itu, hubungan antara orang Cina dan penyebaran Islam menjadi tema penting.

Beberapa wali awal disebutkan memiliki nama Cina atau keturunan Cina, menunjukkan peran komunitas Cina Muslim yang sering diabaikan dalam historiografi konvensional.

Dalam sebuah ceramah di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta pada 2014, B. J. Habibie pernah mengungkapkan bahwa “Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam.”

Keberhasilan Islamisasi Mataram: Pola Peralihan Kekuasaan Tradisional Jawa

Buku ini menegaskan bahwa pola politik tradisional Jawa terus bertahan meskipun terjadi perubahan agama.

Hal ini dapat dilihat pada karakteristik sistem politik Jawa abad 15-16 yang meliputi:

  1. Raja sebagai pusat kosmos – Konsep cakravartin (penguasa semesta) bertahan dalam bentuk Islam
  2. Hubungan patron-klien – Pengakuan kekuasaan melalui hubungan personal, bukan administrasi teritorial
  3. Pergeseran pusat kekuasaan – Dari pesisir (Demak) ke pedalaman (Pajang, kemudian Mataram)

Artinya, islam tidak menumbangkan penguasa sebelumnya dengan cara anarkis, namun tetap menjaga otoritas yang ada.

Berbeda dengan eropa, terdapat hubungan personal (bukan administratif) yang didasarkan bukan pada wilayah, namun corak budaya.

Mengapa Mataram berhasil dengan cara perpindahan kekuasaan semacam ini?

Analisis tentang keberhasilan Mataram mengungkapkan faktor-faktor kompleks:

  • Letak geografis strategis di pedalaman yang relatif aman dari serangan laut
  • Aliansi dengan kekuatan spiritual dari Sunan Giri, kemudian ulama pedalaman
  • Kebijakan transplantasi penduduk dari daerah taklukan ke pusat kerajaan
  • Adaptasi institusi Majapahit lama dengan sentuhan Islam tanpa mengubah struktur lembaga

Buku ini menjabarkan bahwa sejak abad ke-17, pedalaman Jawa Tengah menjadi pusat politik dan kebudayaan keraton Jawa.

Bagaimana Menulis Ulang Sejarah Zaman Transisi Islamisasi di Jawa?

Buku ini tidak hanya menyajikan narasi sejarah, tetapi juga panduan metodologis untuk penelitian lanjutan.

Penulis buku mengklasifikasikan sumber-sumber menjadi tujuh kategori utama seperti tertera pada tabel berikut:

Kategori SumberContohNilai SejarahKeterbatasan
Sumber Pribumi NaratifBabad Tanah Djawi, Serat KandhaMemberikan perspektif JawaSering bercampur legenda dan mitos
Sumber Pribumi KronologisBabad SangkalaKerangka waktu peristiwaSingkat dan kering
SilsilahSadjarah DalemJaringan keluarga penguasaSering dimanipulasi untuk legitimasi
Legenda WaliKisah Wali SongoSejarah mentalitas dan agamaBanyak unsur supernatural
Sumber Asing KontemporerSuma Oriental (Tome Pires)Perspektif luar yang sezamanBias perdagangan dan budaya
Sumber CinaKronik Dinasti MingInformasi ekonomi dan politikTerfokus pada hubungan dengan Cina
Sumber ArkeologiMakam, masjid, prasastiData material yang obyektifSering tanpa konteks naratif

Tabel: Klasifikasi Sumber Sejarah Jawa Abad 15-16

Di sisi lain, penulis dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuan tentang periode ini:

“Jika memiliki pengetahuan kita tentang sejarah sosial dan ekonomi di Jawa waktu itu, maka lebih parah lagi kekurangan-kekurangannya, suatu hal yang diakui sepenuhnya oleh Dr. de Graaf dan Dr. Pigeaud.”

Area yang membutuhkan penelitian lebih lanjut:

  1. Sejarah ekonomi pedesaan – Sistem pertanian, pasar, jaringan distribusi
  2. Kehidupan sosial di luar keraton – Masyarakat desa, golongan menengah, perempuan
  3. Sejarah kota-kota pesisir – Tata ruang, komposisi penduduk, kehidupan sehari-hari
  4. Peran perempuan dalam proses Islamisasi dan transformasi politik

Membaca buku ini di abad ke-21, kita menyadari bahwa banyak pola sejarah yang berulang:

  • Identitas hybrid – Percampuran budaya lokal, Islam, dan pengaruh global
  • Tensi pusat-daerah – Otonomi lokal versus sentralisasi kekuasaan
  • Ekonomi jaringan – Pentingnya perdagangan dan konektivitas
  • Pluralisme agama – Koeksistensi dan ketegangan antar tradisi

Buku ini diakhiri dengan seruan untuk melanjutkan penelitian. Soemarsaid Moertono dalam kata pengantarnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis:

“Tetapi sudah benarkah jika kita menamakan masa ini suatu ‘masa transisi’, suatu peralihan dari kebudayaan yang lama ke kebudayaan yang baru? Bukankah itu hanya suatu transmisi atau pergeseran kekuasaan yang terjadi dari pedalaman ke tepian pantai (dan sebaliknya) suatu proses sejarah yang telah berulang kali terjadi?”

Hal ini menjadi penting sebab memberikan ruang untuk terus memahami, mencari, dan kemudian menghasilkan sintesis baru.

Membuka Ruang Dialog Sejarah Islam di Pesisir Jawa dan Relevansinya Kini

Namun, di balik pertanyaan dalam kata pengantar tersbut, pembaca dapat memahami bahwa pemaknaan baru dapat terus ditafsirkan.

Sebagaimana masa depan yang memiliki jutaan kemungkinan untuk berubah, masa lalu pun demikian.

Sejarah bukan hanya dimaknai, namun dapat memeri makna terhada[ identitas budaya di masa kini dan nanti.

Akhir kata, “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa” bukan sekadar buku sejarah. Ia adalah undangan untuk berdialog dengan masa lalu yang kompleks.

Dalam era di mana identitas keindonesiaan terus diperdebatkan, memahami proses panjang pembentukan masyarakat Jawa-Islam memberikan perspektif berharga.

Warisan terbesar buku ini adalah pengingat bahwa sejarah Nusantara bukanlah garis lurus dari Hindu-Buddha ke Islam ke kolonialisme.

Tetapi jalinan kompleks percampuran, adaptasi, dan transformasi yang terus berlanjut hingga hari ini.


FAQ: Pertanyaan-Pertanyaan tentang Sejarah Jawa

Mengapa periode abad 15-16 sering disebut “zaman yang terlupakan”?

Karena sumber-sumber tentang periode ini tersebar, fragmentaris, dan sering diabaikan oleh sejarawan yang lebih tertarik pada masa kejayaan Majapahit (abad 14) atau Mataram (abad 17-18). Selain itu, dominasi sumber kolonial membuat periode pra-kolonial menjadi “gelap” dalam historiografi.

Benarkah Wali Songo adalah mitos belaka?

Tidak sepenuhnya. Meski banyak legenda yang menyelimuti mereka, Wali Songo merepresentasikan jaringan ulama awal yang berperan dalam Islamisasi. Yang perlu dikritisi adalah narasi romantis yang menyederhanakan proses kompleks menjadi karya sembilan individu.

Bagaimana pengaruh buku ini terhadap historiografi Indonesia modern?

Buku ini membuka jalan bagi pendekatan kritis terhadap sumber pribumi dan menginspirasi generasi sejarawan Indonesia untuk menulis sejarah “dari dalam”. Karya-karya seperti Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer (meski fiksi) menunjukkan pengaruh perspektif revisionis ini.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Film Foufo: Paduan Komedi, Sci-Fi, Bahasa Madura, dan Drama Keluarga

Film Foufo: Paduan Komedi, Sci-Fi, Bahasa Madura, dan Drama Keluarga

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Ghost in The Cell adalah Film tentang Kondisi Negeri yang Mirip Penjara

Ghost in The Cell adalah Film tentang Kondisi Negeri yang Mirip Penjara

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam