Pendidikan Harusnya Membebaskan, Sekolah Justru Terkungkung oleh Sistem

Pendidikan Harusnya Membebaskan, Sekolah Justru Terkungkung oleh Sistem

“Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang kita nobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Akan tetapi, mengapa pada kenyataannya pendidikan kita masih terjebak dalam mindset kolonialisme?”

Itu adalah kereahan yang penulis angkat dalam acara Sabtoan Jhembhear Ate (5/12) kemarin. Dalam acara yang mengusung tema “Wacana Poskolonial Pendidikan Nasional” di Tambelangan, Sampang,

Menanamkan Identitas Budaya di Usia Dini

Contoh yang sering penulis temui dan alami, pada dasarnya Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan itu proses untuk merdeka dan menjadi diri sendiri.

Namun hingga saat ini, penulis merasa semakin banyak generasi yang kebingungan akan budayanya sendiri.

Bahkan merasa malu untuk mengakui budaya dan tanah kelahirannya sendiri.

Misalnya seperti di tingkat PAUD, anak sudah mulai diajari bahasa asing.

Bukan berarti Bahasa asing tidak penting untuk dipelajari, namun pada usia ini penguatan akan rasa cinta tanah air serta kebudayaannya lebih penting.

Sehingga nantinya ia menjadi pribadi yang berbudaya dan bangga akan budaya dan tanah kelahirannya.

Penulis merasa bahwa saat ini banyak pemangku kebijakan pendidikan yang masih belum mengetahui tentang bagaimana leluhur kita memaknai arti pendidikan.

Ikatan Guru-Siswa dalam Ajaran Taman Siswa

Taman Siswa yang merupakan sekolah cetusan Ki Hajar Dewantara berdiri berdasarkan sistem kekeluargaan (Pondokan) di mana setiap siswa dianggap seperti anak sendiri oleh setiap guru.

Saat itu di Taman Siswa disediakan rumah untuk para guru. Apabila ada siswa yang ingin makan, mandi, bahkan tidur, maka mereka bisa melakukan itu di rumah guru, sebagaimana rumah rumah siswa itu sendiri.

Jadi, Ki Hajar Dewantara menolak menciptakan gap antara siswa dan guru seperti yang diterapkan oleh pemerintah kolonial saat itu.

Hubungan mereka bukan hanya sebatas proses belajar mengajar saja akan tetapi membentuk ikatan yang lebih kuat secara emosional.

Dalam Pendidikan saat ini ternyata masih sering dijumpai guru yang hanya berperan sebagai tenaga pengajar dan dibatasi oleh jam kerja, sehingga ikatan antara siswa dan guru tidak cukup kuat secara emosional.

Pendidikan ala Syaikhona Kholil yang Memanusiakan

Mari mencoba melihat lebih jauh ke belakang soal bagaimana sebenarnya corak pendidikan sebelum Indonesia merdeka dan sebelum Taman Siswa berdiri.

Sejak Islam masuk ke Nusantara, corak pendidikan saat itu berupa pesantren, di mana saat ini masih marak dijumpai di Madura.

Madura mempunyai seorang tokoh yang sangat termasyhur dan dijuluki guru dari para guru yaitu Syaikhona Kholil.

Meski selama ini beliau lebih dikenal dengan berbagai karomah yang dimiliki, namun penulis mencoba melihat dari sisi yang berbeda.

Sistem pendidikan yang diterapkan oleh beliau adalah dengan mengutamakan pemahaman kemampuan santri-santrinya.

Sebagaimana Ki Hajar Dewantara yang menyampaikan bahwa setiap anak itu memiliki kodratnya masing-masing, begitu pun dengan Syaikhona Kholil.

Mereka mendidik santri-santrinya berdasarkan kemampuan masing-masing. Dalam kata lain, memanusiakan para anak didik dengan keunikan pribadi masing-masing.

Saat ini kita di sekolah melakukan assessment diagnostik untuk mengenal karakteristik anak dengan memberikan soal dalam sebuah kertas misalnya.

Syaikhona Kholil telah melakukan hal itu secara langsung secara kontekstual.

Konsep Catur Warna dalam Pendidikan Karakter Siswa

Pembahasan semakin menarik ketika salah seorang peserta, Mas Arik, menyampaikan corak pendidikan zaman Hindu yang disebut dengan “Pasraman”.

Beliau memulai penjelasan dengan menyebut catur warna yaitu macam-macam karakter manusia yang terdiri dari Brahmana, Ksatria, Weisya, dan Sudra.

Brahmana berperan dalam ranah pengetahuan yaitu sebagai pendidik, ksatria berperan dalam ranah pemerintahan yaitu sebagai wakil rakyat, weisya berperan di ranah pengelolaan atau manajemen, dan sudra berperan di ranah kemampuan fisik (kinestetik).

Pada konsep catur warna ini ternyata tidak seperti yang kita pahami selama ini, bahwa hal tersebut merupakan kasta atau tingkatan kemulyaan seseorang secara vertikal.

Melainkan di antara keempat karakter tersebut saling melengkapi satu sama lain karena sejatinya setiap orang memang terlahir sesuai fitrahnya masing-masing.

Kesadaran akan peran masing-masing perlu ditanamkan dan diasah dalam mewarisi kearifan para leluhur tersebut.

Kembali ke Hakikat Historis Sekolah

Diskusi menjadi semakin berwana dengan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Yusuf, Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang.

Beliau mengajak kami untuk melihat kembali apa itu arti sekolah, yang secara etimologis berasal dari Bahasa Latin yaitu Schola yang memiliki arti harfiah adalah waktu luang atau waktu senggang.

Kemudian kata tersebut diadopsi oleh Bahasa Inggris menjadi School, dinukil dari buku Sekolah Biasa Saja (Toto Rahardjo, 2019:7).

Dari sini penulis melihat ada relevansi makna dari Schola (Latin) dengan Asram (Jawa) yang mana di kala itu seseorang merasa lelah sehingga kemudian ia mengistirahatkan dirinya.

Beliau juga menyampaikan bahwa setelah masa revolusi industri, peran sekolah hanya menjadi alat untuk membentuk para pekerja.

Sejak saat itu sekolah tersistemasi sedemikian rupa dengan dikemas sebagai wacana yang indah namun pada kenyataanya jauh berbeda.

Dengan adanya sistem tersebut, terjadi pengkerdilan cara berpikir karena seseorang dianggap pintar dan keren ketika ia bisa menghafal.

Saya menganggap bahwa sekadar menghafal informasi yang diterima di sekolah tanpa adanya proses penalaran kritis, adalah hal yang hampa.

Memahami Makna Guru

Bapak Yusuf melanjutkan bahwa kompetensi para guru kita memang masih rendah terutama dalam hal komunikasi.

Dalam sebuah kegiatan, saya bertanya kepada para guru tentang apa arti dari kata “guru” dan mereka semua ternyata tidak paham akan makna guru itu sendiri.

Pada kesempatan ini Mas Arik menjadi menjelaskan bahwa guru itu berarti Menepis Kegelapan.

Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang terdiri dari Gu dan Ru yang artinya adalah gelap dan terang.

Jadi guru adalah seseorang yang menuntun anak menuju cahaya. Ironisnya, saat ini para guru kita hanya sebagai pengajar bukan pendidik sehingga kemampuan bernalar kritis itu sangat kecil.

Padahal sekolah itu seharusnya mengajarkan bahwa “Tanpa selembar Ijazah manusia masih bisa bertahan hidup”.

Pendidikan, Politik, dan Kebijakan

Pak Yusuf kembali menjelasakan bahwa dalam sebuah sistem itu terdapat tiga posisi, yaitu: Pengusaha yang menjadi penguasa, Politikus untuk membuat kebijakan-kebijakan yang muaranya di bagian Birokrasi.

Cara kerjanya adalah pengusaha menekan para politikus untuk membuat kebijakan yang nantinya digunakan untuk menekan Birokrasi supaya menjalankan kebijakan tersebut.

Bapak Sumadi selaku Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Tambelangan serta Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sampang juga hadir.

Beliau menambahkan bahwa banyak guru mendapat masalah hukum karena memberi peringatan fisik kepada siswanya sehingga menyebabkan mereka mengambil sikap untuk lebih baik diam daripada menasehati.

Masih banyak kejadian di mana para siswa dapat disikapi dengan hukuman fisik, karena dengan menggunakan lisan sudah tidak bisa.

Oleh karena itu, Peraturan Undang-Undang terkait perlindungan guru sudah diajukan dalam satuan Pendidikan yang lebih fleksibel sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Otokritik untuk Guru yang Kehilangan Ruhnya

Saat ini, guru semacam menjadi paradoks. Guru adalah wujud nyata dari sistem pendidikan kaku yang berjalan selama ini.

Sikap dan perilaku yang mereka tunjukkan hanya sebagai pengajar dari jam 07:00 pagi hingga jam 12:00 siang dan hanya melakukan aktivitas menyampaikan informasi atau pengetahuan pada siswanya.

Hal ini sama saja dengan manusia tanpa ruh.

Harusnya, informasi atau pengetahuan tersebut dikelola dan diterapkan secara tepat sesuai dengan kemampuan atau karakter masing-masing siswa.

Mindset para guru masih terkotak dalam wacana bahwa mengajar sebatas menyampaikan teks pengetahuan.

Memang, pekerjaan menyampaikan informasi lebih mudah untuk dilakukan daripada proses melatih kemampuan siswa dalam bernalar kritis, memainkan imajinasi, serta mengolah pengetahuan menjadi perilaku.

Mas Arik menyampaikan bahwa dalam Pasraman ada dua macam guru, yaitu Upayana dan Acariya.

Upayana adalah guru yang menyiapkan siswa dan mendapat gaji/upah yang besar sedangkan Acariya adalah guru yang berdasar atas nilai-nilai kemanusiaan.

Guru tipe kedua ini biasanya mendapat gaji/upah yang sangat kecil dan jumlahnya masihlah minoritas.

Dalam hal ini lagi-lagi kita kembali terjebak dalam sistem.

Maiyah dan Semangat Pendidikan

Bagi penulis, Maiyah merupakan sosok di mana Acariya-Acariya berada di luar sistem yang menerapkan ilmunya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mereka pegang.

Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta juga berada di luar sistem dalam menerapkan proses pembelajarannya.

Dengan demikian, pada dasarnya setiap guru memiliki cara dan metode sendiri-sendiri dalam mendidik anaknya.

Yang perlu diperhatikan oleh para guru adalah bagaimana mindset kolonialisme ini tidak menjadi dasar dalam keberlangsungan pendidikan anak-anak kita.

Penulis berharap dengan adanya diskusi-diskusi seperti yang dilakukan oleh Maiyah, masyarakat Sampang dapat menemukan setitik cahaya.

Dalam konteks apapun, mindset kolonial itu perlu direduksi supaya tidak menjadi racun terutama dalam konteks pendidikan.

Selain itu penulis juga ingin menyampaikan bahwa yang perlu kita benahi pada tingkat usia dini dalam menguatkan wadah kecintaan terhadap budayanya sendiri.

Keunikan para siswa juga dapat disikapi dengan perbadingan antara siswa dan guru sebanyak 5:1 sehingga setiap anak dapat ditangani berdasarkan karakter dari Catur Warna mereka masing-masing.

Mari kita menciptakan pendidikan sejati dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Sebagimana yang disampaikan oleh Bapak Yusuf dalam closing statement-nya bahwa “pendidikan itu membebaskan, sekolah itu terkungkung sistem”.

Namun sebagai khalifah di bumi sejatinya kita hidup dengan sistem alam.

Pengamat pendidikan yang aktif di Jhembhar Ate

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu