
Majelis Masyarakat Maiyah Sampang, Jhembharate, kembali mengadakan Sabtoan
—rutinan mingguan yang diselenggarakan setiap Jumat malam, berisi agenda dzikir dan diskusi bersama.
Jumat kemarin (28/11), bertempat di kediaman Mas Habibur Rohman, pemuda asal Pangarengan Sampang, Sabtoan kembali diadakan.
Sabtoan bertema Identitas Visual yang dipandu oleh Mas Alfin, pemantiknya adalah sahibulbait yang dalam dunia kepenulisan lebih dikenal dengan nama HR Kamari.
Mas Habib menjuluki dirinya sendiri sebagai seorang multi passion person yang memiliki ketertarikan kepada desain grafis, komedi, dan pelestarian Bahasa Madura.
Daripada Mas Habib, rasanya masih lebih mending seorang sarjana jurusan kelautan yang setelah lulus sibuk dengan usaha laundry-nya.
Sebabnya, tidak banyak menimbulkan persoalan karena antara latar belakang pendidikan dan pekerjaannya pun masih sama-sama berhubungan dengan air.
Mas Habib tidak demikian. Ia merupakan alumni Fakultas Pertanian jurusan Agro Teknologi Universitas Islam Malang (Unisma), yang setelah lulus justru lebih dikenal sebagai seorang desainer grafis, komedian tunggal, dan ahli Bahasa Madura.
Sebagai seorang komedian tunggal, materi komedinya yang paling penulis ingat dalam sebuah pertunjukan berbunyi, “saya Habib, saya cadel, tidak bisa berteriak kafir.”
Mas Habib memang seorang komedian tunggal yang menjadikan kondisinya yang cadel sebagai personanya.
Ketika ia sedang meneriakkan kata “kafir” kemudian terdengar seperti ia sedang meneriakkan kata “café”.
Sebagai pemerhati bahasa Madura, Mas Habib adalah seorang yang serius.
Jangan menulis kata hujan dalam bahasa Madura dengan ocen di depannya, kalau tidak ingin dibakar hidup-hidup olehnya, karena yang benar adalah Ojhân.
Bagi penulis, menjadi seorang Mas Habib yang juga seorang komedian tunggal merupakan beban yang sangat berat dari Tuhan.
Bagaimana ia harus melucu di tengah-tengah masyarakat Madura yang sudah lucu? Bagaimana kalau ia tidak lucu?
Belakangan, Mas Habib lebih banyak menulis dan berbicara menyangkut bahasa Madura, yang juga anggota Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Latar belakang dan kapasitasnya dalam desain grafis bermula ketika ia mendapatkan dukungan dari orang tuanya untuk mengikuti lomba desain brosur dalam acara Porseni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-Kabupaten Jombang beberapa tahun yang lalu.
Karena pekerjaannya itu kemudian Mas Habib diminta menjadi pemantik dalam acara Sabtoan.
Ketika penulis bertanya kepadanya tentang kesadaran identitas visual di kalangan anak muda di Madura pada umumnya dan di Sampang khususnya, ia mengatakan bahwa kesadaran identitas visual itu rendah dan memerlukan adanya intervensi dari pemerintah di semua tingkatan.
Menurut Mas Habib, mengutip Surianto Rustan S.Sn dalam buku Mendesain Logo yang mengumpamakan wajah sebagai logo, identitas adalah penampilan fisiknya (termasuk logo) komunikasi dan perilakunya.
Sedangkan brand adalah keseluruhan manusia itu: jiwa dan raganya (termasuk identitas, otomatis termasuk logo juga). Brand merupakan rangkuman nilai-nilai esensial dari entitas.
Dalam penjelasannya, identitas visual berkaitan dengan elemen-elemen seperti logo, warna, tipografi dan grafik, yang digunakan untuk mewakili dan memberikan perbedaan pada suatu merek atau organisasi dari yang lain.
Identitas visual berguna untuk mengkomunikasikan nilai, kepribadian, visi dari suatu merek atau organisasi.
Identitas visual membantu dalam pengenalan merek, memperkuat persepsi positif, dan memfasilitasi komunikasi yang efektif dengan audiens.
Mas Habib mencontohkan tentang aksara yang merupakan identitas visual yang terbentuk dari perilaku, seperti ‘hieroglif’ di Mesir, yang merupakan sistem penulisan kuno menggunakan gambar simbol untuk mewakili suara dan makna.
Dalam konteks kemaduraan, penulis memiliki ketertarikan khusus kepada apa yang telah disampaikan oleh Dr. Abdul Gaffar Karim beberapa bulan lalu.
Beliau mengatakan bahwa Madura itu tidak tunggal, dalam Madura banyak sub-sub kultur, anggapan Madura tunggal merupakan kesalahan.
Menurut penulis, celurit menjadi identitas bagi Madura yang sulit dipisahkan. Bahkan di Sampang, tiang lampu-lampu kota berbentuk celurit.
Berbeda dengan Kota Sumenep di-branding sebagai Kota Keris, bukan Sumenep Kota Celurit tentunya karena pertimbangan kesejarahan. Keduanya sama-sama berada di Madura.
Menurut Mas Habib, identitas visual merupakan luapan perasaan yang kemudian membentuk apa itu yang disebut dengan identitas visual.
Disebut ikonik karena familiar tapi tetap menunjukkan perbedaan dengan yang lain.
Identitas visual merupakan bagian dari pencitraan kota (city branding). Identitas visual dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai elemen penting dalam membangun citra sebuah kota.
Identitas visual dan pencitraan kota memiliki perbedaan peran, yang pertama sebagai wajah sedangkan yang kedua adalah menyangkut keseluruhan kepribadian.
Beberapa dekade yang lalu, pencitraan kota-kota di Madura dengan logo berbasis topografis, dengan slogan berdasarkan akronim.
Di antaranya: Sumenep Keraton (Sumekar), Pamekasan Bersih Tertib Aman (Berteman) Sampang Kota Maritim (Sampang Bahari) Bangkalan Kota Salak.
Saat ini, Sumenep Keraton sudah mulai jarang digunakan karena digantikan oleh Sumenep Kota Keris, digantikan oleh Sumenep Makin Sejahtera, Pemerintahan Mandiri, Agamis, Nasionalis, Transparan, Adil dan Profesional (Sumenep Super Mantap).
Pamekasan Berteman digantikan oleh Pamekasan Gerakan Pembangunan Masyarakat Islam (Gerbang Salam).
Sampang Bahari digantikan oleh Sampang Hebat Bermartabat, dan Bangkalan Kota Salak menjadi Bangkalan Kota Dzikir dan Sholawat.
Menurut Mas Habib, identitas visual berangkat dari peradaban dan peradaban berangkat dari budaya.
Dengan kata lain, perilaku yang akan melahirkan identitas visual dengan bantuan kreatifitas, intelektualitas, dan logika.
Menurut penulis, dalam konteks identitas visual, kabupaten-kebupaten di Madura menunjukkan adanya banyak kebingungan menentukan identitas kemaduraannya.
Lebih memilih identitas berbasis budaya, agama, topografis, atau klimatologis? Yang paling sering digunakan adalah identitas kota berbasis budaya, agama, dan pemerintahan.
Seperti Sumenep Super Mantap, Pamekasan Gerbang Salam, Sampang Hebat Bermartabat, dan Bangkalan Kota Dzikir dan Sholawat, yang tampaknya tidak berangkat dari data tapi berangkat dari doa.
Tradisi yang kemudian terasa membuat kota kehilangan sejarah dan jati dirinya adalah suasana di dalam pemerintahannya, bukan lagi kota dan dinamikanya.
Kalau saja identitas visual memang berangkat dari peradaban, dan peradaban berangkat dari budaya, maka situasi yang seperti ini tidak mengherankan.
Sebab mewakili budaya politik dan budaya keislaman tertentu sehingga terbentuklah identitas kota yang unik.
Bagi penulis, identitas visual di Jawa Timur yang paling kuat dimiliki oleh kota Surabaya dengan Lambang Suro dan Boyo dan julukannya sebagai kota Pahlawan.
Beberapa bulan lalu, bertepatan dengan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke-732, pemerintah Kota Surabaya memperkenalkan identitas visual terbarunya, yaitu Surabaya City of Heroes.
Logo dan slogan baru ini menggantikan Sparkling Surabaya yang sering digunakan dalam konteks promosi wisata.
Surabaya City of Heroes tidak hanya akan digunakan dalam konteks promosi wisata, tapi digunakan dalam semua sektor kehidupan kota.
Surabaya Kota Pahlawan (Surabaya City of Heroes) menjadi kuat dan efektif karena menjadikan sejarah sebagai spektrum utama dalam membangun identitas visual.
Menurut Mas Arie, “Branding berkaitan dengan nilai (value), ketika identitas visual menjadikan sejarah Madura sebagai elemen utama nilainya menjadi tidak laku karena pemerintahan tidak melakukan banyak intervensi, selain masyarakatnya yang memang sudah banyak lupa kepada sejarah.”
Dalam identitas visual, keberadaan simbol dan nilai yang sangat melekat.
Menurut penulis, masyarakat Madura masih memiliki pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Yaitu mewujudkan identitas kemaduraan yang telah ada menjadi identitas visual yang mempresentasikan kemaduraan yang kaya dan beragam.