
Menurut keyakinan saya, MBG itu M-nya mistis. Saking mistisnya, bahkan lebih mistis daripada praktik sesajen dan ritual-ritual lain yang dianggap bid’ah.
Ketika saya kecil dulu, di banyak bhujuk atau makam tua di Madura, marak ditemui orang meletakkan sesajen berupa uang, rokok, atau makanan. Apalagi di malam-malam tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat Madura.
Mirip dengan cerita dengan teman saya yang asli Jombang. Di sana, adalah hal lumrah bagi para santri untuk “berburu sesajen” di kompleks makam.
Praktik berburu sesajen di makam ini seperti gacha. Kalau beruntung, bisa nemu uang yang nyelip di antara nisan atau diberi uang sedekah oleh para peziarah. Paling apesnya ya dapat makanan.
Spot paling populer ada di makam almarhum Gus Dur. Presiden kita satu ini memang luar biasa. Sudah meninggal pun, beliau masih mampu memberi makan para santri. Nggak perlu efisiensi dan menghamburkan APBN.
Belum lagi kisah teman saya di Bali dengan sesajen yang serba mewah. Bermodal nekat dan bodo amat dengan tradisi dan pamali, bisa makan enak dengan gizi lengkap. Ada nasi, protein, dilengkapi dengan sayur dan buah. Rasanya jauh lebih bergizi daripada MBG.
Coba deh, sekali-kali ahli gizi coba melakukan kajian kecil-kecilan: mana yang lebih bergizi antara menu MBG dan sesajen?
Praktik sesajen ini jangan melulu dipandang buruk. Asal kata sesajen berasal dari bahasa Sanskerta ‘sajj’ yang berarti persiapan atau perbaikan. Dalam bahasa Jawa, ‘saji’ yang berarti sajian atau hidangan menunjukkan bahwa dimensi sesajen jauh melampaui program semata. Namun sebuah kesadaran, praktik sosial, serta spiritual.
Sebagai anak bahasa, saya sendiri sejujurnya merasa kurang sreg dengan penamaan MBG ini. Sejak nama saja sudah perlu dipertanyakan.
Huruf G dari Makan Bergizi Gratis itu nggak gratis. Anggarannya diambil dari pajak rakyat dengan banyak pengorbanan. MBG mengorbankan anggaran sektor lain. Contohnya, dana pendidikan yang disunat hampir seperempatnya dan dana perpustakaan yang dibotakin sampai setengahnya.
Yang dikorbankan adalah fasilitas pendidikan, kesejahteraan guru, dan tingkat literasi bangsa. Terlalu mahal untuk sebuah program yang lebih banyak politiknya daripada kegunaan buat masyarakat.
Ini sama saja seperti praktik purba mengorbankan anak kecil di mulut kawah berapi biar mencegah dewa tidak ngamuk. Full mitos.
Huruf B dari MBG juga sama mistisnya. Banyak contohnya. Mulai dari kotak susu MBG yang kandungan susunya cuma 30%, menu junk food dengan nutrisi serupa bisikan gaib, sampai porsi yang saingan dengan nasi kucing.
Huruf M dari MBG juga tak kalah absurd. BBC mencatat bahwa sampai Oktober 2025, jumlah keracunan gara-gara MBG itu mencapai lebih dari tujuh ribu korban. Data BGN juga mencatat bahwa kasus keracunan MBG menyumbang sampai 48% dari kasus keracunan pangan di Indonesia.
Kalau dibandingkan, kok kayaknya kesurupan karena habis mengunyah sesajen di batu nisan masih lebih baik daripada keracunan makan MBG. Kalo kesurupan kan sebentar juga selesai. Tinggal manggil Pak Ustad. Tapi saat negara meracuni, kita bisa sambat sama siapa?
Buntut masalah MBG tak berhenti di situ. Banyak isu yang melingkupi. Ini belum menyoal polemik guru vs pegawai SPPG, anak pejabat yang punya 41 dapur, mal-administrasi tata kelola, sampai mitos bahwa MBG menyerap produk UMKM. Ini bukan saya yang bilang. Tapi dari kajian ombudsman loh, ya.
Kalau bagi saya, mendukung kebijakan yang baik dari pemerintah itu pasti. Sebagai orang Madura yang udik dan katanya “agamis”, bahkan saya percaya kalau MBG itu singkatan positif dari Muhasabah, Barokah, dan Gaib.
Muhasabah atas kesalahan sendiri, berkah dengan harapan agar bermanfaat untuk semua orang, dan gaib karena itu program memang sangat mistis, misterius, dan sakral bagi saya yang tak tahu apa-apa ini.
Sebagai masyarakat yang baik, tentunya kita perlu mendukung dengan segala cara, baik saran serta kritik yang membangun.
Katanya sih, kritik harus disertai dengan solusi, ya. Biarpun sebenarnya beda soal, tapi biarlah. Coba saya ajukan salah satu solusi ala orang Madura.
Siapalah saya yang nggak paham soal tata pemerintahan, kebijakan, dan gizi ini. Saya cuma orang Madura biasa yang kebetulan beruntung kuliah di Fakultas Ilmu Budaya. Jadi, izinkan saya mengajukan solusi dari dimensi budaya Madura yang jarang sekali dibahas.
Saya ingat celetukan teman saya yang Muhammadiyah soal orang Madura. Kata teman saya, orang Madura itu juara satu kalau soal bid’ah.
Hal ini dibuktikan dengan acara adat dan keagamaan di Madura yang saking banyaknya, melebihi event promo tanggal kembar dan jatah cuti buruh di Indonesia.
Ada mauludan yang diadakan dari H-1 bulan sampai H+ sebulan, selamatan haji yang dirayakan sampai 40 hari, haul 7-40-100 hari hingga setahun, sampai yasinan rutin tiap Jumat bahkan di tingkat RT. Belum lagi tahlilan, pelet betteng, les-balesan, dan lain-lain.
Semuanya pasti ada sajian makanannya. Dan makanannya enak-enak. Menurut pengalaman saya pun jauh lebih bergizi daripada menu MBG.
Solusi saya sederhana. Cukup galakkan tradisi yang isinya event makan-makan ini sih. Saya percaya bahwa MBG itu B-nya diganti bid’ah saja. Solusi praktisnya tinggal didata saja jadwalnya. Kalau perlu, sampai setahun itu dijadwalkan penuh.
Bikin saja portal online yang mendata acara apa, di mana, jadwalnya kapan, sampai pembicaranya kiai atau ustaz siapa. Biar masyarakat bisa tahu hari ini mending masak atau nggak.
Ini punya dampak yang positif untuk mengurangi food waste. Programnya bisa kerja sama dengan Greenpeace, bukan Onepiece atau Board of Peace, ya.
Kalau bisa, ditambahkan sistem quality control. Setiap sesajen dan menu selametan harus memenuhi nutrisi dan gizi bare minimum, misalnya.
Masyarakat itu simpel. Kalau perut kenyang dan hidupnya sejahtera, mereka nggak gampang emosi terhadap kebijakan pemerintah. Apalagi masyarakat yang agamis dan percaya sama mitos, pastinya lebih adem ayem.
Ini membuktikan bahwa tradisi dan agama di Madura itu sudah lebih progresif dan berorientasi pada umat. Kalau kata Kyai Abraham Al-Lincoln: dari umat, untuk umat, dan oleh umat.
Selain punya tujuan demi kesejahteraan rakyat, selametan juga punya dampak sosial. Dengan adanya selametan yang semakin rutin menunjukkan semangat peleburan sosial dalam ruang publik.
Meminjam konsep Jurgen Habermas, di acara selametan semua orang setara. Mulai dari kepala dinas, polisi, guru petigaka, dan pengangguran yang madesu duduk sama rendah dan memakan menu yang sama. Dengan kata lain, penghilangan sekat antarkelas dapat membuka ruang dialog antarlapisan masyarakat. Sangat marxisme sekali.
Sepertinya cuma di Madura konsep keislaman, demokrasi, mazhab Frankfurt, dan sosialisme bisa hidup dan menyatu.
Tapi jangan khawatir. Tidak ada niatan untuk mengadopsi ideologi asing dan menjadi antek-antek asing di sini. Sebagai orang Madura, saya berani jamin bahwa seasing-asingnya panutan masyarakat Madura itu ya Rasulullah.