Radikalisme Tidak Muncul dari Luar, Tapi Tumbuh dari Dalam Keluarga

Radikalisme Tidak Muncul dari Luar, Tapi Tumbuh dari Dalam Keluarga

Apakah radikalisme benar-benar lahir dari ajaran agama semata, atau justru tumbuh dari ruang-ruang paling dekat dengan kita: rumah dan sekolah?

Hal ini perlu kita sadari dan pahami di tengah meningkatnya kegelisahan publik terhadap sikap intoleran, ujaran kebencian, dan cara pandang eksklusif.

Semua itu kini kian mudah dijumpai, terutama di kalangan anak muda.

Radikalisme tidak muncul secara tiba-tiba. Ia bukan produk instan dari satu peristiwa atau satu bacaan.

Dalam banyak kasus, radikalisme tumbuh perlahan melalui proses pembentukan cara berpikir, cara memaknai perbedaan, dan cara merespons ketidakadilan.

Proses ini sering kali dimulai sejak usia dini, jauh sebelum seseorang berhadapan dengan ideologi ekstrem secara terbuka.

Benih Radikalisme dalam Keluarga yang Jarang Terlihat

Keluarga merupakan ruang pertama tempat anak belajar memahami dunia. Melalui keluarga, sebuah nilai diwariskan dan diajarkan.

Seorang anak akan mengenal untuk pertama kalinya sebuah nilai benar dan salah, belajar mengekspresikan emosi, serta menyerap sikap orang dewasa terhadap perbedaan.

Cara orang tua berbicara tentang orang lain yang berbeda pandangan, agama, atau latar belakang sosial, akan direkam kuat oleh anak, bahkan ketika tidak disampaikan secara langsung.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang terbiasa berdialog, membuka ruang bertanya, dan menghargai perbedaan pendapat, cenderung memiliki sikap yang lebih terbuka.

Sebaliknya, keluarga yang mempraktikkan pola asuh otoriter, penuh prasangka, atau menormalisasi kebencian, tanpa disadari sedang menanam benih eksklusivisme.

Dalam jangka panjang, benih ini bisa berkembang menjadi sikap radikal.

Radikalisme Muncul dari Hilangnya Makna

Penting dipahami bahwa radikalisme sering kali menawarkan rasa kepastian. Ia hadir dengan jawaban sederhana atas persoalan yang kompleks.

Bagi anak dan remaja yang sedang mencari identitas dan makna hidup, narasi semacam ini terasa menenangkan.

Jika rumah gagal menjadi tempat aman untuk berdiskusi dan memahami kegelisahan, maka ideologi ekstrem bisa tampil sebagai alternatif yang tampak meyakinkan.

Di sinilah pendidikan mengambil peran yang sama pentingnya. Sekolah seharusnya menjadi ruang pembelajaran nilai, bukan sekadar tempat mengejar capaian akademik.

Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana cara berpikir.

Kemampuan berpikir kritis, empati, dan kesadaran sosial merupakan bekal utama agar generasi muda tidak mudah terjebak pada narasi hitam-putih.

Sekolah Kehilangan Fungsinya: Bukan Lagi Tempat Pendidikan

Sayangnya, pendidikan sering kali terjebak pada rutinitas administratif. Kurikulum padat, tekanan nilai, dan orientasi pada hasil ujian membuat ruang dialog semakin sempit.

Padahal, sikap toleran dan kemampuan menerima perbedaan tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari proses perjumpaan dan diskusi yang jujur.

Ketika sekolah kehilangan fungsi ini, pendidikan karakter tinggal menjadi slogan.

Realitas hari ini juga menunjukkan bahwa anak-anak hidup di tengah arus informasi yang sangat deras. Media sosial menjadi ruang belajar baru, namun sekaligus ruang yang rawan.

Di sana, anak bisa dengan mudah terpapar konten yang menyederhanakan persoalan, memelihara kebencian, dan membingkai dunia secara antagonistik.

Tanpa pendampingan yang memadai, anak dapat menyerap informasi tanpa kemampuan memilah dan mengkritisi.

Menangkal Radikalisme Sejak Dini: Peran Keluarga dan Pendidikan yang Tak Tergantikan

Keluarga dan sekolah tidak bisa saling melempar tanggung jawab.

Orang tua tidak cukup hanya menyerahkan pendidikan nilai kepada sekolah, sementara sekolah tidak bisa bekerja efektif tanpa dukungan keluarga.

Keduanya harus berjalan beriringan. Orang tua perlu hadir secara emosional dan intelektual, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi anak.

Mendengarkan, berdialog, dan menumbuhkan rasa percaya menjadi kunci utama.

Sekolah pun perlu berani merefleksikan kembali perannya. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi figur yang dicontoh.

Cara guru menyikapi perbedaan pendapat di kelas, merespons pertanyaan kritis, atau menghadapi konflik antarsiswa, secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai sosial.

Pendidikan toleransi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dipraktikkan.

Menangkal radikalisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan keamanan atau penindakan hukum. Pendekatan tersebut penting, tetapi bersifat reaktif.

Pencegahan yang paling mendasar justru terletak pada pembentukan manusia sejak dini. Manusia yang terbiasa berpikir rasional, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam perbedaan.

Radikalisme dan Ketidakadilan di Indonesia

Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk itu. Keberagaman budaya, agama, dan tradisi sejatinya menyediakan ruang belajar yang kaya tentang hidup bersama.

Namun, modal ini hanya akan bermakna jika diterjemahkan dalam praktik pengasuhan dan pendidikan sehari-hari. Tanpa kesadaran tersebut, keberagaman justru bisa berubah menjadi sumber konflik.

Radikalisme juga kerap tumbuh subur di tengah rasa ketidakadilan dan keterpinggiran.

Anak-anak yang merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak memiliki masa depan yang jelas, lebih mudah tertarik pada ideologi yang menjanjikan perubahan instan.

Karena itu, pendidikan yang adil dan inklusif menjadi bagian penting dari pencegahan radikalisme.

Menangkal radikalisme sejak dini adalah kerja panjang yang menuntut kesabaran. Hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Namun, inilah investasi paling penting bagi masa depan bangsa. Keluarga yang hangat dan pendidikan yang humanis merupakan benteng paling kokoh dalam menghadapi ideologi kebencian.

Pilihannya ada di tangan kita. Apakah kita ingin membesarkan generasi yang mudah curiga dan menolak perbedaan, atau generasi yang mampu berdialog dan hidup berdampingan secara bermartabat?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak ditentukan oleh pidato atau kebijakan semata, melainkan oleh cara kita mendidik anak-anak hari ini, di rumah dan di sekolah.

Alumnus Ponpes Nurul Jadid, Pengurus AISNU Jawa Timur, Pengurus PKC PMII Jawa Timur, Pengurus GP Ansor Giligenting Sumenep, Pelayan Kader.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu