Profil dan Sejarah Lengkap Pangeran Trunojoyo: Pemberontak atau Pahlawan?

Profil dan Sejarah Lengkap Pangeran Trunojoyo: Pemberontak atau Pahlawan?

MADURAPEDIA – Nama Pangeran Trunojoyo mungkin tak sepopuler Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin dalam narasi perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Namun, kisahnya adalah sebuah epos tentang keberanian, strategi perang, dan harga diri yang tak mau dijajah.

Ia adalah seorang putra Madura yang dengan berani menantang hegemoni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekutunya di Kerajaan Mataram.

Siapa Sebenarnya Pangeran Trunojoyo? Sejarah Singkat Putra Madura

Pangeran Trunojoyo adalah seorang bangsawan dari Madura yang memimpin pemberontakan besar-besaran terhadap Kesultanan Mataram yang saat itu berada di bawah pengaruh kuat VOC.

Pemberontakan ini berlangsung dari tahun 1674 hingga 1680 dan menjadi salah satu ancaman paling serius terhadap stabilitas kekuasaan kolonial di Jawa pada abad ke-17. 

Trunojoyo bukan sekadar pemberontak, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang mampu menyatukan berbagai kekuatan untuk mencapai tujuannya.

Nama Asli Pangeran Trunojoyo Beserta Gelarnya

Meskipun masyhur dengan sebutan Pangeran Trunojoyo, gelar tersebut tidak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan statusnya dalam perjalanan sejarah.

Dilansir dari sampangweb.id, pahlawan dari Madura ini mengalami evolusi gelar yang mencerminkan peningkatan kekuasaan dan legitimasinya.

Awalnya dikenal sebagai Raden Nila Prawata sejak lahir, lalu pada tahun 1670 ia mengambil gelar Pangeran Trunojoyo setelah berhasil menguasai Madura.

Seiring meluasnya pengaruhnya, ia memproklamasikan diri sebagai Panembahan Maduretna, raja Madura yang setara dengan penguasa Mataram.

Puncak karier politiknya adalah ketika ia menyandang gelar Sultan Intra Prista (1678-1680), sebuah gelar yang secara hierarki lebih tinggi dari raja Mataram, sebelum akhirnya dikalahkan secara licik dan tragis.

Garis Waktu Hidup Pangeran Trunojoyo

Berikut adalah tabel kronologi perjalanan hidup Pangeran Trunojoyo:

TahunPeristiwa Penting
1649Lahir di Madura, keturunan bangsawan Madura dan Mataram
1660-anMulai menunjukkan sikap perlawanan terhadap Amangkurat I
1674Memulai pemberontakan terbuka dengan dukungan ulama dan rakyat
1675Menaklukkan Madura dan merebut ibu kota Mataram
1676Berhasil menduduki ibukota Mataram di Plered
1677Membentuk pemerintahan tandingan di Kediri
1678Menghadapi serangan besar-besaran VOC dan Mataram
1680Ditangkap setelah benteng Kediri jatuh
1680Dieksekusi oleh Amangkurat II di hadapan VOC

Perjuangan Pangeran Trunojoyo Melawan Hegemoni Asing

Perjuangan Pangeran Trunojoyo merupakan perlawanan sistematis terhadap sistem yang dianggap tidak adil. 

Konflik ini bukan sekadar perselisihan internal, melainkan perang ideologi antara kedaulatan tradisional melawan imperialisme asing.

Trunojoyo berhasil memobilisasi dukungan luas dari berbagai kalangan, mulai dari petani, ulama, hingga bangsawan yang kecewa dengan pemerintahan Amangkurat I.

Trunojoyo sempat menduduki istana Plered, pusat pemerintahan Mataram, pada tahun 1677 setelah memimpin pemberontakan.

Meskipun berhasil merebut istana, Pangeran Trunojoyo tidak pernah mendaku dirinya sebagai Raja Mataram meskipun ia bisa melakukannya.

Ia berpegang teguh untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya dan percaya bahwa hanya orang yang mampu berperilaku adil yang berhak berkuasa.

Sayangnya, setelah itu pendudukan istana tidak bertahan lama karena pasukan Mataram dibantu oleh VOC. 

Alasan Pemberontakan: Lebih Dari Sekadar Ambisi Pribadi

Serangan Trunojoyo ke Mataram didasari oleh alasan-alasan fundamental yang mencerminkan suara rakyat:

  1. Protes terhadap Tirani Amangkurat I – Raja Amangkurat dikenal membantai 6.000 ulama dan anggota keluarga kerajaan. Hal ini tentunya berkebalikan dengan apa yang diyakini Pangeran Trunojoyo yang menolak terhadap penindasan yang sewenang-wenang.
  2. Penolakan Terhadap Dominasi VOC – Kebijakan ekonomi yang merugikan rakyat kecil. Terutama saat banyak hasil panen yang dirampas oleh VOC dan VOC mulai ikut campur urusan “dapur” kerajaan Mataram.
  3. Pembelaan Terhadap Nilai-nilai Islam – Perlindungan terhadap ulama dari penindasan VOC. Hal ini disebabkan banyak ulama dan pondok pesantren yang dibumihanguskan karena dianggap menjadi titik pusat perlawanan terhadap Belanda.

Strategi Militer Trunojoyo yang Cerdik

Kesuksesan spektakuler Pangeran Trunojoyo dalam menduduki ibu kota Kesultanan Mataram merupakan buah dari perpaduan strategi militer dan diplomasi yang sangat cerdik serta tepat waktu.

Dari sisi militer, Trunojoyo tidak hanya mengandalkan keberanian pasukan Madura-nya, tetapi membangun sebuah mesin perang yang masif.

Ia membangun markas besar yang sangat strategis di Kediri, yang dilindungi oleh benteng alam pegunungan dan sungai, menjadikannya pusat komando yang sulit ditembus.

Kekuatan intinya berasal dari koalisi multi-etnis yang profesional; selain prajurit Madura yang dikenal gigih dan disiplin, ia bersekutu dengan para bangsawan dan prajurit Makassar pimpinan Karaeng Galesong yang terkenal sebagai panglima perang yang tangguh dan berpengalaman.

Aliansi antara Trunojoyo dan Karaeng Galesong, salah satu putra Sultan Hasanudin, merupakan contoh kerja sama strategis yang brilian dalam sejarah perlawanan Nusantara.

Karaeng Galesong, yang merupakan pangeran dari Kerajaan Gowa, membawa pasukan dan pengalaman tempur yang sangat berharga. Pasukan Makassar terkenal dengan keahlian maritim dan taktik perang gerilya yang efektif.

Koalisi ini diperkuat oleh dukungan dari penguasa-penguasa pesisir Jawa Timur yang telah lama membenci hegemoni dan penindasan Mataram, sehingga memberinya basis logistik dan sumber daya manusia yang luas.

Pangeran Trunojoyo berhasil memerdekakan Madura dan sebagian besar daerah pesisir dari kuasa Mataram yang mulai menindas rakyat dan memihak VOC.

Strategi geraknya pun efektif, yakni serangan-serangan kilat yang memanfaatkan kelemahan internal Mataram di bawah Raja Amangkurat I yang kejam dan tidak populer.

Trunojoyo dengan pintar mengangkat isu ketidakadilan sehingga perjuangannya dilihat sebagai perang pembebasan yang melemahkan moral loyalis Mataram.

Strategi Diplomasi Pangeran Trunojoyo

Di panggung diplomasi, kecerdikan Trunojoyo bahkan lebih menonjol. Langkah paling pragmatis dan kontroversial adalah mengecoh Belanda dengan menjalin aliansi terlebih dahulu dengan VOC (Belanda).

Dengan menjanjikan hak monopoli dagang dan konsesi di pelabuhan, ia berhasil mendapatkan dukungan persenjataan, meriam, dan kapal-kapal modern yang memberi keunggulan teknologi signifikan atas pasukan Mataram yang masih tradisional.

Secara paralel, ia menjalankan diplomasi ideologi dengan memobilisasi dukungan kalangan ulama, santri, dan masyarakat dengan menyuarakan perjuangan melawan pengusa tiran yang dipandang tidak religius. Trunojoyo berjuang bersama kaum agamawan dalam menumpas tirani.

Retorika keagamaan ini berhasil menyatukan berbagai elemen yang tidak puas dalam sebuah koalisi besar, menjadikannya simbol perlawanan.

Namun, puncak kesuksesannya justru menjadi awal kejatuhannya. Kemenangannya menduduki Plered dan mengamankan harta kerajaan membuat VOC khawatir akan kekuatannya yang terlampau besar, sementara koalisinya sendiri mulai retak akibat perselisihan internal.

Menyadari strategi cerdik Trunojoyo, VOC pun berbalik haluan dan mendukung putra mahkota Mataram, Amangkurat II, dengan imbalan yang lebih menggiurkan.

Dihadapkan pada kekuatan gabungan Mataram yang didukung penuh oleh persenjataan dan taktik VOC, benteng pertahanan Trunojoyo akhirnya jatuh, mengakhiri salah satu episode pemberontakan paling berbahaya dalam sejarah Mataram.

Akhir Hidup yang Tragis: Kematian dan Lokasi Makam Pangeran Trunojoyo

Kematian Trunojoyo menandai babak akhir dari salah satu perlawanan terbesar terhadap VOC yang tercatat dalam sejarah. 

Eksekusinya dilakukan dengan cara yang sangat menghinakan untuk menunjukkan superioritas kekuasaan Mataram-VOC.

Babad Tanah Jawi (History of Java) mencatat proses eksekusi pangeran Trunojoyo yang terbilang cukup mengerikan.

Tubuhnya dipegangi oleh tentara VOC, lalu ditusuk oleh keris Kyai Balabar sampai tembus ke punggung.

Kemudian, atas perintah Amangkurat II, hati Trunojoyo dikeluarkan dan dimakan mentah-mentah oleh para petinggi keraton Mataram.

Tak sampai di situ, kepalanya dipenggal dan dijadikan keset di keraton Mataram, lalu tengkoraknya ditumbuk sampai hancur.

Hal ini menunjukkan betapa sadis dan bengisnya Amangkurat II dan seberapa besar pengaruh Trunojoyo yang nyaris menutup sejarah Kerajaan Mataram kala itu.

Namun, justru cara kematiannya ini yang mengukuhkan legenda Trunojoyo sebagai martir perjuangan. Ia menjadi simbol perlawanan atas ketamakan Raja Mataram dan hegemoni VOC.

Napak Tilas Makam dan Situs Trunojoyo yang Tersebar di Tanah Jawa

Sering kali muncul kebingungan antara mana yang merupakan makam jasadnya dan mana yang merupakan petilasan atau situs peringatan. Berikut adalah penjelasan untuk meluruskannya.

Secara historis, makam sejati Trunojoyo berada di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Setelah dikalahkan dan dihukum mati, jasadnya dimakamkan di pemakaman resmi keluarga kerajaan Mataram ini.

Pemakaman di Imogiri merupakan bentuk penghormatan sekaligus penegasan kedaulatan Mataram bahwa pemberontakannya telah berakhir.

Lokasinya terdapat di bagian Pasareyan Pangeran Sabrang Lor, yang letaknya terpisah dan lebih rendah dari makam para raja.

Selain makam sebenarnya, terdapat beberapa situs petilasan yang sangat penting. Di Desa Jatinom, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terdapat petilasan yang menandai lokasi krusial dalam hidupnya, yaitu tempat ia dikepung dan ditangkap oleh pasukan VOC dan Mataram.

Situs ini, yang dilengkapi dengan sendang (mata air) dan batu peninggalannya, menjadi saksi bisu berakhirnya perlawanan militer Trunojoyo.

Sebagai bentuk penghormatan dan napak tilas di daerah basis kekuatannya, masyarakat Jawa Timur juga mendirikan makam peringatan.

Di dalam kompleks Makam Sunan Ampel, Surabaya, terdapat Makam Tanda (Cenotaph) Kyai Trunojoyo.

Situs ini bukanlah makam jasad, melainkan simbol penghormatan bagi masyarakat Surabaya dan Madura yang mengingat perjuangannya.

Sementara itu, di Probolinggo, tepatnya di Gunung Trunojoyo, ia meninggalkan petilasan yang dipercaya sebagai bekas markas atau tempat pertapaannya selama masa perjuangan.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Trunojoyo dikenang melalui sebuah makam sejati di Yogyakarta, sebuah situs penangkapan di Jawa Tengah, serta berbagai situs peringatan dan petilasan di Jawa Timur.

Jejak-jejak ini merefleksikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dan pengabdian, yang terus dihormati dari generasi ke generasi.

Situs Pababaran Sampang: Peninggalan Situs Sejarah Trunojoyo di Tanah Madura

Meski makam dan berbagai situs yang menjadi monumen jejak perjalanan Trunojoyo terebar di tanah Jawa, namun ada satu situs yang berada di tanah kelahirannya, pulau Madura.

Petilasan kelahiran Pangeran Trunojoyo terletak di Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, yang berjarak sekitar 200 meter dari pusat kota.

Situs bersejarah ini merupakan tempat lahir sang pahlawan perlawanan rakyat Madura terhadap kolonial Belanda pada abad ke-17 dan lahir pada 10 November 1626.

Di dalam petilasan ini terdapat tempat penanaman ari-ari (plasenta) beliau, yang mencerminkan tradisi penghormatan terhadap tempat lahir dan tanah yang dibelanya.

Saat ini, kawasan ini telah ditetapkan dan dilindungi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai kawasan cagar budaya.

Proses Pengajuan Status Pahlawan Nasional Pangeran Trunojoyo

Pangeran Trunojoyo belum resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional, namun upaya pengusulan telah berlangsung sejak tahun 1967.

Proses pengajuan gelar Pahlawan Nasional diatur ketat oleh Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia. Berikut adalah tahapan dan alasan yang mendasari pengajuan Pangeran Trunojoyo.

Pengajuan ini diinisiasi secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan, didukung penuh oleh keluarga, tokoh masyarakat, sejarawan, dan budayawan Madura.

Dukungan ini tercermin dalam berbagai seminar dan pertemuan yang digelar untuk memperkuat proposal pengajuan ini.

Berdasarkan Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seorang tokoh harus memenuhi beberapa kriteria untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

Tim pengusul mencatat bahwa Pangeran Trunojoyo memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Setelah dokumen administrasi dari pemerintah daerah lengkap, proposal diajukan kepada Kementerian Sosial RI.

Kementerian Sosial kemudian membentuk Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang terdiri dari sejarawan dan pakar dari berbagai lembaga, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, LIPI (sekarang BRIN), dan Lembaga Kebudayaan Nasional.

Tim inilah yang melakukan kajian mendalam terhadap bukti-bukti historis, mengadakan seminar, dan akhirnya memberikan rekomendasi apakah tokoh tersebut layak atau tidak.

Rekomendasi dari TP2GP kemudian diajukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres). Penganugerahan gelar biasanya dilakukan pada peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Kendala Pengajuan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional

Salah satu tantangan dalam pengajuan figur dari era pra-kebangsaan seperti Trunojoyo adalah interpretasi terhadap “semangat nasionalisme” yang harus dikontekstualisasikan dengan zamannya. Namun, perjuangannya melawan kekuatan asing (VOC) menjadi argumen utama yang kuat.

Pengusungan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar tentang gelar, tetapi upaya pelurusan sejarah (historical rectification) untuk memberikan pengakuan yang setara kepada pahlawan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Hal ini juga akan memperkaya khazanah keteladanan bagi generasi muda Indonesia, khususnya dari daerah Madura dan Jawa Timur.

Pada mulanya banyak narasi yang memandang Pangeran Trunojoyo sebagai pemberontak, terutama dari pihak Mataram.

Persepsi tentang Trunojoyo di Yogyakarta memang kompleks dan berlapis. Di kalangan akademisi dan generasi muda, mulai muncul apresiasi terhadap perjuangannya sebagai bagian dari dinamika sejarah Nusantara.

Banyak yang melihatnya sebagai pelaku sejarah dengan motivasi yang dapat dipahami dalam konteks zaman tersebut, yaitu semangat juangnya dalam menentang penjajahan dan kekejaman penguasa, serta kejujurannya untuk menolak tahta meskipun ia telah menduduki Keraton Mataram di kala itu.

Pewarisan semangat dan nilai-nilai luhur itulah yang membuat Pangeran Trunojoyo harus diabadikan sebagai pahlawan nasional dengan menjadi panutan bagai generasi mendatang.

Sejarah bukan hanya tentang membicarakan masa lalu. Ia adalah identitas yang diwariskan kepada generasi penerusnya.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Mengapa perlawanan Trunojoyo dianggap penting dalam sejarah Indonesia?

Perlawanan Trunojoyo penting karena menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme bersifat multidimensi dan melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Pemberontakannya juga memperlemah Mataram dan VOC secara signifikan, membuka jalan bagi perubahan politik di Jawa.

Apa dampak jangka panjang dari pemberontakan Trunojoyo?

Pemberontakan ini menyebabkan:
1. Keuangan VOC terkuras habis
2. Mataram semakin tergantung pada VOC
3. Munculnya kesadaran anti-kolonial di Nusantara
4. Terbukanya jalur perdagangan alternatif di luar kontrol VOC

Bagaimana kondisi makam Pangeran Trunojoyo saat ini?

Makam Pangeran Trunojoyo saat ini terpelihara dengan baik sebagai cagar budaya. Lokasinya menjadi tujuan wisata sejarah dan ziarah spiritual, terutama bagi masyarakat Madura dan para pecinta sejarah.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam