KH. M. Djufri Marzuqi (1925-1965 M) dan Pondoknya yang Dibakar Marinir Belanda

KH. M. Djufri Marzuqi (1925-1965 M) dan Pondoknya yang Dibakar Marinir Belanda

KH. M. Djufri Marzuqi adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang lahir dari lingkungan pesantren di Pamekasan pada 1 Januari 1925. Dididik oleh para kiai pejuang di Jawa Timur, sejak Agustus 1945, beliau aktif dalam Barisan Pemuda Sabilillah dengan berbagai jabatan strategis.

Pada masa Revolusi Fisik, ia terlibat langsung dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda, termasuk bergerilya di sekitar Gunung Kawi, Malang, dari tahun 1947 hingga 1949.

Sebelumnya, pada tahun 1944, beliau telah merintis Pondok Pesantren Sumber Batu, yang kemudian dibakar dan dihancurkan oleh Marinir Belanda tidak lama setelah Serangan Umum 16 Agustus 1947.

Peristiwa pembakaran pesantrennya itu tidak terlepas dari konflik bersenjata yang pecah di Pamekasan.

Jejak Awal: Dari Pesantren ke Medan Juang

Konflik bersenjata tersebut terekam dalam sebuah gambar diam berwarna hitam putih, yang barangkali diambil menggunakan dan dihasilkan oleh kamera Kodak 35mm populer tahun 1940-an, menyajikan peristiwa yang memilukan.

foto kuburan massal di Pamekasan 1940
foto kuburan massal di Pamekasan 1940

Foto atau pantulan cahaya pada media film yang peka cahaya itu berisi gambar tumpukan jenazah pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Pamekasan yang gosong dibakar marinir Belanda. Foto yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum, baik di Indonesia ataupun Belanda.

Pada tahun 2008, Volkskrant mempubilkasi foto-foto kuburan massal di Pamekasan yang kemudian banyak diketahui publik setelah Nieuwsuur-Television menayangkannya kembali pada bulan November tahun 2013 lalu.

Foto inilah yang membuat koran beraliran liberal progresif di Belanda, NRC Handelsblad datang ke kota Pamekasan.

Marjolein van Pagee, setelah menemui beberapa saksi sejarah kemudian menulis laporan di koran yang sama dengan judul: Na Twee Uur Lag het plein bezaaid met lijken, atau Setelah Dua Jam Mayat-Mayat Bergelimpangan Memenuhi Alun-Alun, dimuat dalam bahasa Indonesia oleh Histori Bersama.

Tragedi Alun-Alun Pamekasan: Dua Jam yang Mengguncang

Dalam sejarahnya, serangan umum pada tanggal 16 Agustus 1947 oleh para pejuang di Pamekasan itu memang hanya berlangsung dua jam, tidak panjang, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.

Para syuhada itu seharusnya sedang bersiap-siap menyantap ketupat dan opor ayam, tapi apa boleh buat, mereka harus berjibaku dengan kembang api tajam di alun-alun kota Pamekasan.

Dua jam serangan yang menewaskan sekitar enam ratus orang Madura yang menjadi pejuang kemerdekaan. Jasad mereka, sebelum dikuburkan di tempat yang sekarang menjadi Monumen Arek Lancor atau di halaman Masjid Syuhada, dibakar terlebih dahulu oleh para marinir Belanda.

Sedangkan para pejuang yang tertangkap, ditahan dan disiksa dengan sangat kejam. Tidak hanya marinir Belanda yang menyiksa, tetapi juga orang-orang Madura yang bekerja untuk pihak kolonial, mereka tergabung dalam Resimen Cakraningrat. Masyarakat Madura menyebut mereka, Cakrah.

Karel Poetiray, seorang veteran Belanda menuturkan, para pejuang kermerdekaan itu datang dari segala arah, bahkan ada yang keluar dari dalam got saluran air.

Sedangkan Hornman, seorang veteran yang lain menyebutkan, bahwa tindakan para pejuang itu sebagai ‘kegilaan religius’.

Pembalasan Belanda: Pembakaran dan Pengabdian yang Terus Hidup

Dokumen-dokumen Belanda melaporkan, bahwa invasi ke Madura itu bertujuan untuk mengamankan industri garam, selain juga dalam rangka membentuk negara boneka bernama Negara Madura.

Tetapi menurut Sulaiman Sadik, invasi ke Madura merupakan lanjutan dari Agresi Militer I yang dilakukan Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda datang dan mengaku ingin melindungi orang-orang Madura dari pejuang kemerdekaan, tapi orang-orang Madura tidak menginginkan hadirnya Belanda kembali.

Perlawanan keras datang dari para kiai pesantren tradisional di Pamekasan, seperti Kiai Zaini Mun’im, Kiai Mohammad Thoha, Kiai Muhammad Tamim Marzuqi, Kiai Muthar, Kiai Djufri Marzuqi dan para kiai lainnya.

Pasca Serangan Umum 16 Agustus 1947, para kiai dengan pasukannya memilih bergerilya ke arah utara dari kota Pamekasan, sambil terus menuju Guluk-Guluk di Sumenep.

Marinir Belanda terus bergerak mencari para kiai itu, juga mencari kiai Djufri Marzuqi. Abdurrahman, dkk., dalam buku berjudul Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura menuliskan, bahwa marinir Belanda terus mencari para kiai tersebut.

Jika tidak ditemukan, mereka membakar pesantren mereka. Termasuk yang dibakar dan dibumihanguskan adalah pondok pesantrennya Kiai Djufri Marzuqi di Sumber Batu Pamekasan.

KH. M. Djufri Marzuqi: Perjuangan dan Pengabdian sampai Akhir

Dalam Ichtisar Riwajat Hidup Alustadul Alimun Dakwatul Islam K. H M. Djufri Marzuqi Assjahidul Kabir tulisan Kiai Haji Chalil Minhadji disebutkan, Kiai Djufri lahir dari rahim pondok pesantren tertua di Pamekasan, yaitu Pondok Pesantren Sumber Anyar pada 1 Januari 1925.

Kiai Djufri tumbuh besar dalam didikan para pejuang dari lingkaran pesantren di Jawa Timur, seperti Kiai Muhammad Toha Sumber Gayam, Kiai Abdullah Sajjad Guluk Guluk, dan Kiai Ali Wafa Tempurejo.

foto diri H. M. Djufri Marzuqi, Pamekasan
foto diri H. M. Djufri Marzuqi, Pamekasan

Di zaman Revolusi Fisik, selain aktivitas belajar mengajar, masa mudanya dihabiskan untuk berjuang merebut kemerdekaan dari pihak kolonial, sejak tanggal 20 Agustus tahun 1945, beliau memangku beberapa jabatan dalam Barisan Pemuda Sabilillah (BPS), seperti Kepala Seksi Bidang Kelaskaran, Kordinator Bidang Komunikasi dan Penerangan, hingga sebagai Kepala Staf Kesatuan Militer dalam Markas Besar Sabilillah (MBS).

Sejak tahun 1947, beliau bergerilya di sekitar Gunung Kawi Malang sampai tahun 1949. Mulai tahun 1950, Kiai Djufri banyak aktif dalam Pejuang Kemerdekaan Tujuh Belas Agustus (PK17A), sebuah organisasi gerakan bawah tanah yang didirikan sejak tanggal 26 Juli 1948 guna melawan pendirian Negara Madura bikinan Belanda.

Sebelum tahun 1945, pada tahun 1944, atas dukungan masyarakat, Kiai Djufri memang telah hijrah dari Sumber Anyar dan tinggal di Sumber Batu, merintis pendirian pondok pesantren yang pada akhir tahun 1947 dibakar dan diratakan dengan tanah oleh Marinir Belanda.

Pasca kemerdekaan, Kiai Djufri muda sempat aktif di Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). Setelah menjalani ragam dinamika politik, ideologi, hingga spiritual, Kiai Djufri kemudian menjadikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah perjuangan guna mengisi kemerdekaan, selain kembali kepada pesantren dan masyarakat Pamekasan dan Madura secara umum.

Warisan KH. M. Djufri Marzuqi: Perjuangan Panjang

Sebelum tahun 1950, pondok pesantren Sumber Batu masih terdiri dari bangunan-bangunan semi-permanen berupa gubuk-gubuk bambu, letaknya di selatan masjid dan di utaranya kediaman kiai Djufri Marzuqi, area pondok lama Sumber Batu itu saat ini menjadi kediaman Kiai Abrari Chalil.

Menurut sesepuh dan pejuang dari Sumber Batu, seperti Pak Mulawi, pembakaran Pondok Pesantren Sumber Batu itu terjadi tidak lama setelah Serangan Umum 16 Agustus 1947.

Setelah pondoknya dibakar habis dan setelah tiga tahun bergerilya di Gunung Kawi Malang, Kiai Djufri mulai merintis pembangunan pondok pesantren permanen di selatan dari kediamannya yang saat ini menjadi asrama santri putera Pondok Pesantren As-Syahidul Kabir Sumber Batu.

Pondok Pesantren As-Syahidul Kabir Sumber Batu
Pondok Pesantren As-Syahidul Kabir Sumber Batu

FAQ (Pertanyaan Seputar H. M. Djufri Marzuqi)

1. Apa inti dari peristiwa yang terjadi di Pamekasan pada 1947?

Inti peristiwanya adalah sebuah serangan umum yang dilakukan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1947, yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Serangan yang hanya berlangsung dua jam tersebut berakhir dengan tewasnya sekitar 600 pejuang dari Madura. Jasad mereka kemudian dibakar oleh marinir Belanda sebelum dikubur.

2. Mengapa foto peristiwa ini baru diketahui publik secara luas belakangan ini?

Foto yang mengabadikan tumpukan jenazah pejuang yang dibakar tersebut awalnya tidak banyak diketahui. Barulah pada tahun 2008, koran Belanda Volkskrant mempublikasikannya, dan kemudian menjadi lebih dikenal setelah program televisi Nieuwsuur menayangkannya kembali pada November 2013. Pemberitaan inilah yang mendorong koran Belanda lainnya, NRC Handelsblad, untuk melakukan investigasi lebih lanjut di Pamekasan.

3. Siapa saja pihak yang terlibat dalam konflik ini?

Pihak Pejuang Kemerdekaan: Para pejuang, santri, dan kiai dari pesantren tradisional di Pamekasan, seperti Kiai Zaini Mun’im, Kiai Mohammad Thoha, dan Kiai Djufri Marzuqi.
Pihak Kolonial: Marinir Belanda yang melakukan invasi.
Pihak Lain: Resimen Cakraningrat (disebut “Cakrah”), yaitu orang-orang Madura yang bekerja untuk pihak Belanda.

4. Apa tujuan Belanda menginvasi Madura?

Menurut dokumen Belanda, invasi bertujuan untuk mengamankan industri garam dan membentuk negara boneka yang disebut Negara Madura. Namun, menurut sejarawan seperti Sulaiman Sadik, invasi ini adalah kelanjutan dari Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947.

5. Siapa Kiai Djufri Marzuqi dan peran apa yang dia mainkan?

Kiai Djufri Marzuqi adalah seorang ulama-pejuang dari Pamekasan. Sejak muda, ia aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan memegang berbagai jabatan dalam Barisan Pemuda Sabilillah (BPS). Ia juga bergerilya di sekitar Gunung Kawi, Malang, dari 1947 hingga 1949. Pesantren yang dirintisnya di Sumber Batu dibakar dan diratakan dengan tanah oleh marinir Belanda pasca Serangan Umum 16 Agustus 1947.

6. Kapan dan mengapa Pondok Pesantren Sumber Batu dibakar?

Pembakaran Pondok Pesantren Sumber Batu terjadi tidak lama setelah Serangan Umum 16 Agustus 1947. Pembakaran ini dilakukan oleh marinir Belanda sebagai bagian dari upaya mereka untuk menangkap dan menekan para kiai yang memimpin perlawanan. Ketika para kiai tidak ditemukan, pesantren mereka menjadi sasaran pembakaran.

7. Apa yang terjadi setelah pesantrennya dibakar?

Setelah pesantrennya dibakar habis, Kiai Djufri terus bergerilya selama tiga tahun di Gunung Kawi, Malang. Setelah masa bergerilya berakhir, beliau kembali ke Sumber Batu dan mulai merintis pembangunan kembali pesantrennya dengan bangunan permanen.


Perjalanan hidup KH. M. Djufri Marzuqi adalah gambaran sempurna seorang ulama-pejuang. Dari mendirikan pesantren, bertempur melawan kolonial, hingga bergerilya, setiap langkahnya adalah pengorbanan nyata untuk kemerdekaan Indonesia.

Kisahnya tentang pesantren yang dibakar dan perlawanan tanpa menyerah mengajarkan kita bahwa kemerdekaan diraih dengan harga yang sangat mahal.

Melalui teladannya, kita terpanggil untuk terus mengisi kemerdekaan dengan karya dan semangat yang tak kalah gigih.

Hasani Utsman adalah pembaca dan penulis seputar Madura, menulis beberapa karya, baik fiksi atau non-fiksi, akan menerbitkan buku berjudul "Filsafat Humor Madura".

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam