Syi’ir Madura: Merangkai Agama, Moral, Tarekat dan Sejarah dalam Untaian Bait

Syi’ir Madura: Merangkai Agama, Moral, Tarekat dan Sejarah dalam Untaian Bait

Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X1 menyelenggarakan acara diskusi terpumpun pra-kajian analisis ekosistem syi’ir Madura bertema “Identifikasi Ekosistem Kebudayaan Sy’iir Madura” yang bertempat di Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan Madura pada Kamis (23/10) lalu, menghadirkan tiga narasumber.

Para narasumber tersebut yaitu KH. D. Zawawi Imron yang dalam ceramah-ceramah kebudayaan dan keislamannya memang sering menyampaikan syi’ir-syi’ir Madura, Dr. Abdul Ghani ahli bahasa Madura dari Universitas Wiraraja Sumenep dan KH. Habibullah Bahwi S. Fill.I sebagai pengasuh Padepokan Raden Umro Pondok Pesantren Sumber Anyar Pamekasan Madura.

Bagaimana kemudian diskusi dan kajian mengenai syi’ir in menjadi krusial?

Acara diskusi terpumpun pra-kajian analisis ekosistem syi’ir Madura bertema “Identifikasi Ekosistem Kebudayaan Sy’iir Madura”.
Acara diskusi terpumpun pra-kajian analisis ekosistem syi’ir Madura bertema “Identifikasi Ekosistem Kebudayaan Sy’iir Madura”.

Syi’ir Madura yang Abadi dalam Tradisi Pesantren

Masyarakat Madura mengenal tradisi penulisan puisi lama berupa syi’ir yang berisi cerita, nasehat, moral, agama hingga berisi rekaman sejarah. Syi’ir terdiri dari kumpulan baris yang dalam setiap barisnya memiliki konsep dan tujuan yang beragam, bisa berupa satu ide pokok atau sekadar menuntun pembacanya kepada ragam ide selanjutnya.

Dalam tradisi pesantren di Madura, syi’ir Madura ditulis menggunakan pegon, atau bahasa Madura yang ditulis dengan aksara Arab. Syi’ir dilantunkan dengan pola rima, atau setiap baris memiliki bunyi akhir yang sama dalam setiap baitnya.

Salah seorang narasumber, KH. Habibullah Bahwi S. Fill.I menyampaikan makalah singkat berjudul Pesantren Syi’ir dan Syiar yang menempatkan pesantren dalam peran panjangnya tidak hanya sebagai tempat pendidikan dan pengajaran ragam ilmu agama.

Pesantren juga merupakan entitas budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dalam tradisi pesantren, sosok Kiai memiliki peran yang sangat sentral dan sakral. Situasi dan kondisi internal suatu pesantren banyak dipengaruhi oleh orientasi dan visi pemimpinnya yang disebut dengan Kiai.

Menurut Kuntowijoyo dalam Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940 yang menyebutkan bahwa dalam sejarahnya, peranan Kiai di Madura telah mengalami transformasi dari masa ke masa.

Di zaman kerajaan Kiai hanya berperan sebagai pemimpin ritual keagamaan, yang kemudian di zaman penjajahan Kiai juga menjadi pemimpin masyarakat. Setelah Indonesia merdeka, peran Kiai juga sekaligus menjadi pemimpin politik di tengah-tengah masyarakat.

Oleh sebab itu, masing-masing pesantren memiliki corak sendiri yang khas, termasuk juga dalam tradisi pendidikan dan pengajaran, dakwah hingga tradisi politiknya. Corak khas yang tidak sampai menghilangkan pesantren dan orang-orangnya sebagai suatu entitas budaya yang dipenuhi persamaan karakteristik, bahasa, adat istiadat; hingga visi pesantren yang kemudian membentuk identitas kolektif tertentu.

Ragam Syi’ir di Madura: Syariat, Moral, dan Tarekat

Seperti dalam konteks dakwah orang-orang pesantren di Madura, penulisan syi’ir menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai salah satu media dakwah yang terus dijalankan. Syi’ir sebagai salah satu produk budaya orang-orang pesantren dengan ide pokok dan unsur ekstrinsik yang khas.

KH. Ahmad Bushiri Nawawi pendiri Pondok Pesantren Kajuk, Sampang di akhir tulisannya yang berjudul Arrisalah fi Kaifiyati Shalat al-Qashri wa al-Jam’i wa Al-Jama’ati menulis tentang puasa, berisi 21 baris:

Orèng sè apasa kudhu pangastètè, sè ngèlangngaghi ḍâ’ ghânjhârna ngabâktè
Akadhi omongan kandhâ rasan jhubâ’, apètenna ngaddhu ta’ nèser ka abâ’

Artinya:
“Orang yang sedang berpuasa harus hati-hati, dari hal yang menghilangkan pahala berbakti
Seperti bicara gosip yang jelek, fitnah adu domba tidak kasian kepada diri dan jiwa.”

KH. Habibulloh Rois dari Pondok Pesantren Al-Is’af Kalabaan Guluk Guluk, Sumenep menulis Tarbiyah as-Shibyan Mandhumah al-Arabiyah Walmanduriyah fi ‘Ilmi al-Akhlaq dalam Tatakramanah Oreng Apolong (Adab al-Mu’asyirah) atau tata krama dalam pergaulan; beliau menulis:

Lamun dhika èhormat bi’ cakancana, bâles palebbi otabâ sapaḍâna
Sè aberri’ bhâghusân bi’ sè narèma, dhâddhi palèbur ḍâ’ sè lebbi otama

Artinya:
“Jika Anda dihormat para teman, balas dengan lebih hormat atau paling tidak sepadan
Yang memberi lebih bagus dari yang menerima, sukalah pada yang lebih utama.”

Menurut Kiai Habibulloh Bahwi, tradisi di pesantren kuat akan pengajaran gramatika bahasa Arab yang sebagian dalam bentuk bait-bait syi’ir (nadham) seperti Kitab Alfiyah karya Ibnu Malik. Kedekatan orang-orang pesantren dengan tradisi nadham itu yang kemudian menyebabkan dari pesantren banyak lahir penulis syi’ir, baik dalam bahasa Arab atau Madura, sebagai sarana pengajaran dan media dakwah dengan bahasa yang mudah dipahami dan diingat oleh santri dan masyarakat umum.

Kiai Habubulloh Bahwi menganggap peran syi’ir juga bisa dijumpai dalam tradisi kesufian masyarakat Madura, seperti dijumpai dalam tradisi samman yang menggunakan media dzikir dan syi’ir bahasa Madura sebagai tareka-nya.

Di Pamekasan, terutama di Sumber Anyar, Samman diperkenalkan oleh Kiai Haji Syukriwa bin Umro dari Pondok Pesantren Sumber Anyar sekitar tahun 1700-M yang kemudian secara estafet dilestarikan oleh para keturunannya seperti oleh KH. Muhammad Djufri Marzuqi dan KH. Muhammad Tamim Marzuqi yang merupakan putra Kiai Marzuqi bin Kiai Syukriwa. Samman yang melingkar sambil berputar, berdzikir, membaca baris-baris syi’ir Madura yang di antara contohnya adalah:

Kalowar Dâjjâl para’ kèyamat, bân cakancana nyobhâ ḍâ’ ommat
Dâjjâl nèka talèbât rajâ, matana kècek karè salajâ.

Artinya:
“Dajjal keluar hampir kiamat, bersama para temannya mengganggu umat
Dajjal sangat besar, matanya hanya satu.”

Syi’ir Madura sebagai Rekaman Sejarah

Syi’ir juga tidak hanya digunakan oleh orang-orang pesantren di Madura sebagai sarana menyampaikan agama dan moral tetapi juga digunakan merekam peristiwa sejarah. Tahun 2008, penulis secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pejalan kaki (musafir) di Makam Batu Ampar Pamekasan.

Musafir itu dari kota Bangkalan dan sudah berumur 65 tahun. Ia bercerita banyak mengenai Kiai Djufri Marzuqi, sosok ulama yang syahid terbunuh pada tahun 1965, beberapa bulan saja sebelum peristiwa Gerakan Satu Oktober (GESTOK). Ketika penulis bertanya dari mana ia tahu mengenai Kiai Djufri?

Seorang pejalan kaki yang bernama Muhammad itu menjawab dan mengatakan, bahwa orang-orang Madura yang sudah dewasa pada tahun 1965 pasti mengetahui atau pernah mendengar nama Kiai Djufri, apalagi orang itu misalnya seorang santri atau siswa yang bersekolah di madrasah yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, Kiai Djufri adalah seorang juru dakwah kondang yang dibunuh anggota PKI pada tahun 1965. Pak Muhammad lalu memberi informasi yang penting dan berarti bagi penulis, bagaimana peristiwa dibunuhnya Kiai Djufri dulu banyak diabadikan menjadi bait-bait syair dalam sebuah buku berbahasa Madura (syi’iran) dan dilantunkan oleh para siswa di madrasah-madrasah di Madura sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Menurutnya, hal itu berlangsung hingga akhir tahun 1967.

Menurut informasi yang penulis dapatkan dari orang-orang tua, syiiran tentang Kiai Djufri itu direkam dalam sebuah kaset dan diputar menggunakan pengeras suara di desa-desa di Madura, terutama di Pamekasan, hal itu berlangsung sampai tahun 1980-an.

Pada dekade itu, di kampung-kampung di Madura memang memiliki kebiasaan memutar rekaman syi’ir menggunakan pengeras suara. Yang baru saja ditemukan dan diselamatkan adalah salah satu kitab syi’ir tentang Kiai Djufri berjudul: Panèka Syi’ir carètana sè moljâ kèyaè Djufri Marzuqi Sombher Bâṭo atau “Ini Syi’ir Ceritanya yang Mulia Kiai Djufri Marzuqi Sumber Batu” yang terdiri dari dua ratus tujuh baris.

Ditulis pada tahun 1967 oleh penulisnya yang mengaku dari Kampung Sumber Kuning, Desa Larangan Badung Kecamatan Palengaan Pamekasan, berdomisili di Desa Ampakan desa Bangkalan, berdomisili di Rambipuji Jember, Naskah yang kemudian ditulis ulang oleh Kiai Murahyak bin Salim dari Kambingan Barat, Lenteng Sumenep, naskah tersebut merupakan koleksi pribadinya yang diserahkan kepada penulis oleh putranya, yaitu Lora Hafifuddin.

Pada halaman dan kedua, penulis syi’ir menulis di antaranya:

Saking melayang kaulâ ngarang, sabâb pèkkèran ghi’ bânnya’ korang
Sabâb ghi’ bhuru kapatèyan kèyaè, dhâddhi pèkkèran ghi’ korang saè
Èngghi samangkèn kaulâ matora, è sèṭṭong bâkto syi’ir Madhurâ
Rabi’ul Awwal nyama bulânna, è arè rebbhu nyama dhinana
Èkacatora sèttong olama’, Èngghi a partai Nahdhatul ‘Ulama’
Lerres kampongnga kèyaè Rato, è Sombher Anyar ḍâlem sè tanto
Èngghi pesantrèn langkong rajâ, keyaè Rato orèng sè moljâ
Èkacatora kèyaè Djufri, serta ètoro’ sadhâjâ santrè.

Artinya:

“Dalam kondisi melayang saya mengarang, sebab pikiran masih banyak yang kurang
Sebab baru saja ditingga wafat kiai, pikiran kemudian menjadi kurang bagus
Sekarang saya ingin mengungkapkan, di suatu waktu syi’ir Madura
Rabiul Awal nama bulannya, di hari Rabu nama harinya
Akan diceritakan satu ulama, yang berpartai Nahdlatul Ulama
Betul kampungnya Kiai Rato, di Sumber Anyar yang pasti
Iya pesantren yang besar, Kiai Rato sosok yang mulia
Akan diceritakan tentang Kiai Djufri, bersama diiukuti semua santri.”

Revitalisasi Syi’ir: Antara Akademisi dan Tradisi

Terkait dengan betapa pentingnya peran Syi’ir di Madura, penulis mengamini diskusi bertema “Identifikasi Ekosistem Kebudayaan Sy’iir Madura” mampu mempertegas karakter syi’ir Madura dan perbedaanya dengan pantun dan lagu-lagu Madura sebagaimana banyak disampaikan oleh Dr. Abdul Ghani dalam diskusi tersebut.

Sedangkan KH. D. Zawawi Imron menekankan pentingnya dibangunnya jurusan Bahasa Madura di berbagai perguruan tinggi khususnya di Madura. Usaha revitalisasi tradisi syi’ir Madura secara umum dan syi’ir Madura secara khusus agar keduanya kembali diminati oleh masyarakat.

Dengan demikian, upaya identifikasi ekosistem Syi’ir Madura merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Tradisi lisan yang kaya ini bukan sekadar warisan nostalgia, melainkan jiwa dari denyut nadi kebudayaan Madura yang hidup dalam pesantren, dakwah, dan keseharian masyarakat.

Revitalisasi, sebagaimana disarankan para narasumber, mutlak diperlukan. Membuka jurusan Bahasa Madura di perguruan tinggi dan memperkenalkannya kepada generasi muda menjadi kunci agar Syi’ir tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap relevan sebagai medium penjaga identitas, nilai, dan sejarah kolektif masyarakat Madura di masa kini dan mendatang.

Hasani Utsman adalah pembaca dan penulis seputar Madura, menulis beberapa karya, baik fiksi atau non-fiksi, akan menerbitkan buku berjudul "Filsafat Humor Madura".

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu