
Dalam narasi besar tentang Islam dan budaya di Indonesia, terutama di Madura, sosok ulama seringkali digambarkan sebagai laki-laki. Otoritas keagamaan, sosial, hingga politik seolah-olah adalah domain yang hampir mutlak miliki kaum pria.
Namun, di Tengah kuatnya budaya patriarki, khususnya di Madura, terdapat aktor penting yang perannya sering luput dari sorotan: para Nyai. Nyai adalah tokoh sentral yang menjadi penggerak kesadaran dan pemberdayaan perempuan Madura, meskipun kontribusinya kerap hanya dianggap sebagai pelengkap.
Penyebutan Nyai dalam pondok pesantren dan masyarakat Madura memiliki dimensi yang kompleks. Secara umum, gelar ini ditujukan kepada perempuan yang memiliki otoritas keagamaan, sosial, dan kultural.
Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua yang bergelar Nyai otomatis adalah ulama perempuan. Sebagian mendapatkan gelar ini karena faktor keturunan atau pernikahan dengan seorang Kiai.
Meski demikian, di balik gelar itu, tersimpan potensi kepemimpinan yang besar. Sayangnya, seperti yang tercatat dalam berbagai penelitian, terdapat anggapan bahwa sebesar apapun kiprah Nyai, ia tetap dianggap hanya sebagai pendukung dan pelengkap peran Kiai semata.
Aktivitasnya bahkan sering dianggap sebagai ibadah yang kurang signifikan dan kurang etis untuk ditampilkan secara publik. Inilah yang membuat peran strategis mereka menjadi “jarang disorot”.
Di balik tembok pondok pesantren, peran Nyai adalah nafas kehidupan sehari-hari. Mereka sering menjadi guru bagi santri putri, mengurus administrasi pondok, menjadi penasihat spiritual, sekaligus mengelola ekonomi pesantren.
Mereka Adalah “manajer” yang memastikan seluruh mesin organisasi pesantren berjalan lancar. Pengetahuan agama yang mendalam, yang diturunkan dari generasi ke generasi, membuat mereka dihormati dan memiliki pengaruh yang kuat.
Yang menarik, akar matrilineal dalam budaya Madura sebenarnya memberikan ruang bagi perempuan. Seperti diungkapkan oleh Hasanatul Jannah dalam bukunya Ulama Perempuan Madura: Otoritas dan relasi Gender, terdapat kepercayaan bahwa dere atau darah Madura justru diwariskan melalui pihak perempuan.
Disebutkan bahwa jika ibunya orang Madura, maka anaknya diakui sebagai orang Madura, terlepas dari etnis ayahnya. Prinsip ini, meski tidak sepenuhnya menghilangkan patriarki, menunjukkan adanya fondasi kultural yang menghargai garis keturunan perempuan.
Dokumentasi sejarah memang bias gender. Terutama terkait tentang peran intelektual perempuan di Madura. Beragam penyebutan ulama dari abad ke-15 hingga ke-20 hampir selalu merujuk pada laki-laki.
Namun, ada pengecualian, seperti Syarifah Ambani atau nama asli Rato Ebu, yang namanya tercatat sebagai ulama perempuan Madura yang otoritatif. Beliau adalah bukti bahwa perempuan mampu mencapai tingkat keilmuan yang tinggi dan diakui masyarakat.
Pentingnya kehadiran ulama perempuan ini sejalan dengan pemikiran cendekiawan Muslim seperti Asma Barlas. Barlas mengungkapkan setidaknya ada tiga alasan mendasar mengapa suara ulama perempuan penting:
Barlas berargumen bahwa kentalnya budaya patriarki dalam tradisi Islam seringkali berasal dari kesalahan dalam membaca teks dan konteks Al-Qur’an. Ia menawarkan pendekatan egaliter dalam menafsirkan kitab suci, yang membuka ruang bagi kesetaraan.
Dalam buku Kritik Sastra Feminis karya Sugihastuti Suharto, disebutkan bahwa pembacaan teks dari kacamata Perempuan menjadi penting untuk memahami bagaimana peran gender Perempuan dapat memberikan pemahaman utuh atas sebuah realitas budaya dalam Masyarakat.
Gerakan feminisme di Madura tidak perlu hadir dalam bentuk yang konfrontatif dan impor. Ia justru dapat bersemi dari dalam, melalui penguatan peran dan visi para Nyai. Semangat yang perlu dikobarkan adalah, sebagaimana tercermin dalam sejarah Islam awal, bahwa perempuan Madura haruslah merdeka.
Derajatnya tidak naik semata karena menikah dengan siapa, tetapi karena keilmuannya yang mumpuni, seperti yang dicontohkan oleh Fatimah binti Abdurrahman, Amat Al-Walid, dan banyak lagi ulama perempuan lainnya.
Nyai adalah aktor kunci dalam mewujudkan visi ini. Dengan posisinya yang unik di pesantren dan masyarakat, mereka dapat menjadi jembatan antara tradisi yang kaya dengan nilai-nilai kesetaraan yang inklusif. Mereka dapat mendidik santri putri untuk percaya diri, mendorong partisipasi perempuan dalam ruang publik, dan menafsirkan teks-teks keagamaan dengan sudut pandang yang memanusiakan perempuan.
Kesimpulannya, feminisme di Madura memiliki wajahnya sendiri. Wajah yang tidak asing, tetapi kerap diabaikan. Nyai adalah penggerak diam-diam yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan dan sosial masyarakat.
Dengan mulai menyoroti dan mendokumentasikan kiprah mereka, kita tidak hanya melakukan kerja-kerja keadilan sejarah, tetapi juga menguatkan fondasi masyarakat Madura yang lebih setara dan beradab di masa depan. Saatnya suara mereka didengar dan peran strategisnya diakui dengan didukung sepenuhnya.
Penulis: Rizqi Nurhuda Ramadhani
Sumber: Disarikan dari buku “Ulama Perempuan Madura: Otoritas dan Relasi Gender” karya Hasanatul Jannah terbitan tahun 2020 serta dari berbagai temuan penelitian akademis tentang peran ulama perempuan, budaya Madura, dan pemikiran Islam progresif.