
“Orang Madura itu keras, barbar, dan tebelakang!”
Demikianlah stereotip yang seringkali saya dengar kala merantau di luar Madura terhadap orang Madura. Terutamanya laki-laki Madura yang dikenal akrab dengan kekerasan. Tak jarang, perilaku tersebut -yang teramplifikasi oleh stereotip yang mendarah daging itu, malah diglorifikasi oleh orang Maduranya sendiri.
Awalnya hal ini membingungkan saya, sebab sosok yang saya lihat di diri Kyai saya, Pak dhe saya, serta ayah saya -yang notabene adalah laki-laki Madura tulen: irit omongan, santun, berprinsip kuat, dan anti untuk mengganggu orang lain.
Namun saat saya membaca beragam berita soal Madura, kebanyakan tak lepas dari kasus kekerasan, pencurian, dan hal-hal lain yang berbau negative. Hal inlah yang mendorong saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang seperti apa laki-laki Madura yang sesungguhnya.
Mari mulai dari hal yang umum. Tampaknya, prinsip umum perilaku nekat orang Madura berasal dari adagium atau pepatah “ta’angok apote tolang, etembheng pote matah” atau “lebih baik berputih tulang daripada berputih mata”. Namun pepatah ini sering disalah artikan sebagai: lebih baik bacok-bacokan daripada dihina. Menurut saya, ini pemahaman yang keliru.
Justru pepatah itu harusnya diartikan “lebih baik bekerja keras sampai mati daripada harus malu terlihat bermalas-malasan”. Dalam konteks historis, dapat juga diartikan, “lebih baik melawan sampai mati daripada bersikap abai menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan penguasa.” Lalu dalam konteks kehidupan politik, harusnya prinsip mandiri bekerja keras sampai sakit tulang dipegang teguh, daripada menjilat pantat penguasa. Realitanya? Silakan nilai sendiri.
Ada perbedaan besar dalam mengartikan pepatah ini dengan landasan pikiran dibanding berlandaskan ego. Parahnya, pepatah ini kerap digunakan sebagai pembenaran atas tindakan yang melanggar aturan. Di banyak berita, saat ini banyak laki-laki Madura yang bersikap kasar, sok, sombong, bahkan amoral bukan demi melindungi negara atau nasib bangsanya, melainkan karena alasan ego pribadi. Ini menjadi otokritik serius, sebab laki-laki madura yang seperti itu, selain menunjukkan bahwa ia egois, bebal, juga tak paham adat -jika tak ingin dibilang bodoh.
Pendapat saya, ia tak bisa disebut sebagai laki-laki Madura. Sebab sejatinya, laki-laki Madura adalah mereka yang paham adat, sopan-santun, serta berperilaku hormat. Istilahnya, ibarat anak hilang yang tak paham identitasnya. Yaitu lupa jalan pulang ke rumah patobin sebagaimana ia dilahirkan. Dalam tulisan ini, saya tidak hendak membebankan kesalahan terhadap kelompok tertentu, namun hendak mengajak berpikir ulang tentang identitas asli Madura.
Salah satu contohnya adalah kompleks perumahan khas adat Madura, yang berupa warisan tangible atau berwujud. Ia adalah Taneyan Lanjhang yang tak hanya berupa struktur perumahan. Namun merupakan pengejawantahan atas nilai masyarakat Madura yang menjadi landasan tentang bagaimana laki-laki Madura harusnya bersikap.
Dalam konteks pembagian peran gender, laki-laki Madura harus paham apa tugasnya. Bukan untuk petantang-petenteng seenaknya, tentunya. Namun meletakkan Perempuan -ibu, istri, dan anaknya di atas ego pribadinya. Bergerak Adalah hakikat laki-laki Madura untuk menjaga semua itu.
Secara nilai budaya dalam kehidupan Taneyan Lanjhang, pantang dan memalukan bagi laki-laki Madura untuk berada di dalam rumah selama matahari masih di langit. Sebelum matahari terbit, laki-laki madura sudah bekerja di ladang, mengurus ternak, atau melaut. Baru setelah malam mereka masuk rumah. Bahkan saat makan, istirahat siang, beribadah, dan menerima tamu, mereka melakukan semua itu di luar rumah, di bagian langgher (langgar).
Artinya, laki-laki Madura harus terus berupaya, berpegang teguh pada agama, dan menjaga nama baik keluarganya. Sebaliknya, hal-hal yang sifatnya melekat pada bumi seperti tanah dan rumah, diidentikkan dan bahkan diwariskan pada perempuan.
Perempuan Adalah simbol kehormatan dan tempat pulang. Rumah induk atau dalam bahasa maduranya adalah roma patobin atau pamolean, memiliki arti selain tempat pulang dan istirahat, juga sebagai simbol bahwa sejauh apapun seorang lelaki madura merantau, ia akan pulang kepada tanah kelahirannya. Atau secara lebih dalam, ‘pulang’ berarti menyadari alasan ia bergerak dan bekerja.
Untuk hidup, mereka harus keluar mengarungi kerasnya dunia. Oleh karena itu, afiliasi terhadap tanah kelahiran, keluarga, ibu, serta istri menjadi hal yang krusial. Mereka akan terluka harga dirinya jika tidak dapat menjaga hal tersebut. Ini terefleksikan secara adat, di mana biasanya laki-lakilah yang pindah menetap ke rumah istrinya setelah ia menikah.
Dengan kata lain, setelah menikah, laki-laki Madura sudah tak lagi memiliki dirinya sendiri. Kehormatan dan harga dirinya harus diletakkan di atas nama keluarga istrinya. Ia menjadi pelayan atas kehormatan dari ibu anak-anaknya. Idealnya, laki-laki Madura harusnya rendah hati serendah tanah, dan berjuang keras seriuh laut di musim badai.
Yang kita saksikan sekarang seringkali adalah karikatur yang pahit dari nilai luhur itu. Orang yang petantang-petenteng karena merasa berharta dan berkuasa, orang yang bermental bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan kekerasan, artinya tak tahu apa-apa. Terlebih, sampai bertindak kekerasan lantas merasa bangga dan menganggap hal itu merupakan warisan budaya.
Lantas bagaimana dengan Carok sebagai sebuah tradisi yang melekat dengan identitas Madura? Di sinilah salah-kaprah soal Carok. Yang seharusnya menjadi sikap hidup yang paling filosofis, direduksi menjadi sekadar adu bacok.
Apa pengertian Carok yang sesungguhnya? Carok Adalah falsafah hidup berupa sikap dan tekat. Secara historis, Huub de Jonge dalam buku Tengka Madura karya Utsman Hasani (2020) mengingatkan kita bahwa Carok lahir dari rahim perlawanan terhadap ketidakadilan; ia adalah bentuk perlawanan terakhir rakyat kecil yang kehilangan kepercayaan pada hukum yang tumpul dan kekuasaan yang lalim. Ia adalah tekad, sebuah sikap batin untuk berani melawan kesewenang-wenangan. Bukan sekadar pesta kebengisan dengan celurit.
Tapi lihatlah sekarang. Yang kita saksikan bukan lagi Carok, melainkan semacam kekerasan yang represif dan barbar. Ia dilakukan beramai-ramai, seringkali demi berebut pengaruh politik atau sekadar memuaskan nafsu kuasa yang serakah. Mereka yang dengan mudahnya menghunus celurit atas nama ‘budaya’ sesungguhnya adalah penghianat dari budaya itu sendiri.
Mereka bukan pahlawan, melainkan pengecut yang menyembunyikan kebengisannya di balik jubah tradisi. Mereka telah mengubah sebuah sikap hidup yang berlandaskan keadilan, pikiran yang dalam, dan hati yang jernih, menjadi sekadar tontonan kekerasan yang primitif.
Maksud dari tradisi Carok yang asli bukan untuk semena-mena menyelesaikan masalah dengan adu bacok. Namun memiliki makna lebih dalam dari itu. Yaitu menempuh segala cara yang ada sampai mentok. Carok sebagai upaya terakhir haruslah dimaknai bahwa janganlah sampai adu bacok, namun melakukan segala upaya yang mungkin untuk menciptakan solusi. Artinya, selama ruang dialog masih tersisa, haram hukumnya melakukan Carok.
Mengapa kesalahpahaman ini bisa begitu membudaya? Jawabannya mungkin terletak pada feodalisme yang masih mencengkeram. Di tengah kepatuhan buta pada kekuasaan yang seringkali oligarkis dan patriarkis, ruang untuk berpikir kritis dan merasakan dengan hati jernih menjadi makin sempit. Yang tersisa adalah insting untuk saling sikut, di mana yang paling serakah dan paling kuatlah yang menang.
Media pun turut serta dalam memelihara kebiadaban ini, dengan gembira menyoroti angle kekerasannya dan mengabaikan falsafah hidup yang mendasarinya. Terciptalah sebuah echo-chamber yang mengabadikan kebodohan. Artinya, ide ini terus dipantulkan dan diamplifikasi sehingga menjadi hal yang dianggap benar. Saya menolak ide itu.
Oleh karena itu, Carok dalam wujudnya yang sekarang—yang barbar dan tak berperikemanusiaan—harusnya dihapuskan. Bukan nilai di baliknya, bukan semangatnya untuk melawan kesewenang-wenangan, bukan juga upaya untuk berdialog mencari solusi, tetapi wujud kekerasannya yang kosong itu. Kita harus berani berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan budaya, melainkan penyakit dari manusianya.
Sebab, laki-laki Madura sejati, seperti yang saya jabarkan di tulisan ini, adalah mereka yang hemat bicara jika tak perlu bicara, mendahulukan dialog, dan memahami tengka. Tak ada kebaikan satupun yang didapat dari menumpahkan darah sesama saudara, apalagi untuk urusan rendahan seperti emosi sesaat atau politik yang hanya sementara. Carok yang ada di berita dan media saat ini -yang hanya perwujudan kekerasan, kebengisan, serta kebebalan, sepatutnya tak perlu lagi dilestarikan.
Membiarkan pemahaman ‘Carok’ yang salah ini terus hidup sama saja dengan membiarkan luka yang menganga di tubuh kebudayaan Madura itu sendiri. Ia bukan lagi simbol keberanian, melainkan monumen bagi kebebalan.
Laki-laki Madura, seperti halnya pulang ke roma patobin, harus berani pulang pada makna yang sebenarnya—pada sikap hidup yang menjunjung tinggi keadilan, kerja keras, dan keluhuran budi, bukan pada ujung celurit yang telah ternodai darah karena ego yang salah tempat.
Penulis: Rizqi Nurhuda Ramadhani