
Dalam literasi kuno yang ditemukan, sosok Kyai Cendana Kwanyar biasa disematkan dengan berbagai nama dan gelar. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu mata rantai penting yang menghubungkan para wali dan ulama besar di Nusantara, khususnya di Pulau Madura.
Tulisan ini mencoba merangkum berbagai versi, sumber manuskrip, serta temuan arkeologis untuk menyusun pemahaman yang lebih utuh mengenai sosok dan garis keturunannya.
Penisbatan gelar “Sunan” kepada beliau merupakan sebutan lumrah dari anak turunnya, para pegiat ziarah, simpatisan, atau pecinta beliau. Sementara itu, sebagian kalangan menyebut nama beliau sebagai Zainal Abidin, seperti yang tertulis dalam literasi Lar-Lar. Namun, menurut para pegiat filologi, nama Zainal Abidin lebih merupakan gelar, bukan ‘alam isim (nama asli).
Ada pula yang menyebut nama beliau sebagai Raden Umar Mairi. Informasi yang kami dapatkan menyebutkan bahwa nama tersebut disandangkan pada masa kecil beliau di Bangkalan. Selain itu, dari Kesultanan Mataram, beliau juga mendapat gelar sebagai Senopati Paranajaya.
Terdapat beberapa versi mengenai garis keturunan dari jalur ibunda beliau. Di antara yang terkuat dan terpilih adalah versi yang bersumber dari tiga manuskrip kuno. Ketiga sumber ini diyakini lebih valid dan otoritatif, baik dari segi tahun penulisan, nama penulis, maupun jenis kertasnya.
Dari ketiga manuskrip tersebut, silsilah Kyai Syaikh Cendana adalah sebagai berikut:
Dukungan atas data dari tiga manuskrip ini juga diperkuat oleh manuskrip lain. Meskipun tidak mencantumkan angka tahun dan nama penulis, naskah-naskah “kembaran” tersebut diyakini memiliki usia yang sama tua, dilihat dari tinta, model khat, serta kertasnya.
Dalam naskah-naskah itu disebutkan bahwa Kyai Syaikh Cendana adalah keturunan keempat dari Sunan Giri.
Keturunan Kyai Syaikh Cendana sangat banyak dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara, terutama di empat kabupaten di Pulau Garam, Madura.
Bahkan, boleh dikatakan tidak ada tokoh pesantren pun di wilayah itu kecuali mereka adalah keturunan Kyai Syaikh Cendana—apalagi yang menjadi tokoh masyarakat atau pejabat.
Fenomena ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan barakah dari sosok Kyai Syaikh Cendana dalam pembentukan jaringan ulama dan intelektual Muslim di Madura dan sekitarnya.
Di Bangkalan, tepatnya di Kwanyar tempat makam beliau berada, riwayat yang kuat menyebutkan bahwa genetik pancer (jalur laki-laki) beliau bernisbat kepada Kanjeng Sunan Ampel Surabaya.
Pitutur (keyakinan turun-temurun) ini sangat kuat dan sulit untuk dinafikan, terlebih lagi, ada petunjuk dalam beberapa manuskrip bahwa Nyai Gede Kedaton menikah dengan putra dari putranya Sunan Ampel.
Oleh karena itu, di makam beliau di Kwanyar, disepakati oleh para pemangku setempat—berdasarkan sumber yang telah didapatkan dan pitutur yang kuat—bahwa silsilahnya adalah sebagai berikut:
Menariknya, dari Sumenep, Madura timur, terdapat data arkeologis berupa prasasti makam yang diyakini sebagai makam cucu Kyai Syaikh Cendana, yaitu makam Kyai Muban Ambunten. Prasasti tersebut bertuliskan sebagai berikut:

Foto: prasasti makan K. Muban
Dalam lingkaran:
Hadza marqad As-Sayyid As-Syarif Muban ibn As-Sayyid Syits ibn As-Sayyid Jindan ibn As-Sayyid (…) ibn As-Sayyid Qasim Derajat ibn As-Sayyid As-Syarif al-Wali As-Shaleh Ali Rahmat Suhunan Ampel Rahimahullah Ta’ala.
Di luar lingkaran:
Intaqola ila (…) Sanah (…) hijratunnabi Shallaallahu ‘Alaihi Wasallama.
Prasasti ini dikenal oleh masyarakat pegiat arkeologi Sumenep sebagai peninggalan yang sangat kuno.
Data dari prasasti tersebut oleh para sejarawan dijadikan referensi untuk mengesahkan jalur keturunan Kyai Syaikh Cendana yang ada di Sumenep melalui Sayyid Syaits Balang.
Alhamdulillah, prasasti ini masih dapat dibaca sampai sekarang, meskipun ada sebagian yang belum terbaca, seperti nama ayah Kyai Cendana (atau Sayyid Cendana).
Namun, yang jelas terbaca bahwa kakek Syaikh Cendana adalah Sayyid Qosim Drajat ibn Sayyid Syarif Alwaliyul Sholih Ali Rahmat Sunan Ampel Rahimahullahu.
Nama yang mutawatir (masyhur) dalam keluarga Kwanyar adalah Kyai Khatib sebagai ayah Kyai Syaikh Cendana.
Ketika dicocokkan dengan prasasti Sumenep, maka nama itu cocok, meskipun masih perlu kajian lebih lanjut tentang siapa dan di mana letak makam yang diyakini sebagai ayah Kyai Cendana tersebut.
Bisa jadi nama “Khatib” adalah gelar, bukan nama sebenarnya. Jika demikian halnya, maka ada kecocokan dengan gelar Pangeran Khatib Sedayu, karena sebagian dari dzuriyah (keturunan) Kyai Cendana menuliskan ayah beliau sebagai Khatib Bandardayu.
Sebagai catatan tambahan, Yang Mulia Kyai Salim—yang memiliki banyak manuskrip dari Drajat—memberikan catatan penting yang mungkin bisa membantu menelusuri keabsahan genetik Kyai Syaikh Cendana.
Berikut catatan beliau tentang dzurriyah Raden Qosim Sunan Drajat berdasarkan manuskrip keluarga besar Sunan Drajat:
Sunan Drajat (R. Qosim) memiliki tiga orang putra, yaitu:
Dari istri pertama (putri Zainal Abidin Abd. Qadir Sunan Cirebon di Gunung Jati), beliau berputra dua orang:
Dari istri kedua (putri Sedayu), Sunan Drajat memiliki seorang putra, yaitu:
Wallahu a’lam bish-shawab.
Dengan demikian, keluarga Cendana Kwanyar dan dzuriyahnya yang telah menyebar ke seluruh semenanjung Nusantara dari dahulu hingga sekarang tetap memakai jalur Raden Qosim Sunan Drajat.
Apabila data dari Kyai Salim tersebut valid, maka ia dapat dijadikan referensi dan disandingkan dengan prasasti Ambunten Sumenep serta manuskrip-manuskrip yang telah disampaikan di atas.
Diperlukan kajian lebih lanjut dan lintas disiplin antara filologi, arkeologi, dan sejarah untuk mengungkap bagian-bagian yang masih gelap, seperti nama pasti ayah Kyai Cendana serta lokasi makam yang bersangkutan.
Namun, dari bukti-bukti yang ada, posisi Kyai Syaikh Cendana dalam jaringan keturuan Sunan Ampel dan Sunan Drajat terbilang kuat dan layak untuk diterima sebagai sebuah pengetahuan sejarah lokal yang berharga.
Referensi: