
Tradisi Per-Peran di perbatasan Pamekasan-Sampang kembali mewarnai jalur mudik Madura — dan kali ini antrenya tembus lebih dari satu kilometer. Bukan macet biasa, ini macet bersejarah.
Kemacetan panjang terjadi di Jalan Raya Tlanakan, tepatnya di perbatasan Desa Kramat, Kecamatan Tlanakan (Pamekasan) dan Desa Tanjung, Kecamatan Camplong (Sampang). Kendaraan hanya bisa bergerak merambat karena warga menggelar tradisi turun-temurun ini di badan jalan.
Polres Pamekasan, mengonfirmasi penerjunkan beberapa personel gabungan untuk mengamankan kegiatan tersebut — melibatkan Polres Pamekasan di sisi Desa Kramat, dan Polres Sampang di sisi Desa Tanjung.
Per-Peran bukan sekadar naik delman santai. Kata “per” dalam bahasa Madura berarti shock absorber — pegas peredam kejut yang ada di delman (kereta kuda).
Menurut warga Desa Tanjung, Faridi, tradisi ini awalnya merupakan perayaan panen raya yang kebetulan berbarengan dengan Hari Raya Idul Fitri. Warga yang belum berkeluarga — terutama perempuan muda — berbondong-bondong naik delman menyusuri jalan dari Desa Bandaran hingga Desa Tanjung.
Tradisi ini digelar pada dua momen dalam setahun:
Pergeseran terjadi seiring padatnya permukiman warga. Warga lokal Sunaji menjelaskan bahwa semula Per-Peran digelar dengan keliling desa, tapi karena rumah makin padat, arena pun pindah ke jalan raya.
“Dulu keliling desa, tapi karena rumah penduduk makin padat, maka berubah digelar di jalan raya seperti ini,” ujar Sunaji.
Konsekuensinya: jalur arteri selatan Madura yang berfungsi sebagai jalur mudik ikut terdampak tiap tahun.
Menurut laporan sebelumnya pada Rabu, 19 Mei 2021, tradisi Per-Peran mulai mengalami pergeseran nilai. Faridi — salah satu warga yang masih mengikuti acara ini — mengakui bahwa banyak peserta muda kini tidak lagi tahu makna asli Per-Peran.
Perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu:
| Aspek | Dulu | Sekarang |
|---|---|---|
| Kendaraan | Delman / andong | Motor, odong-odong |
| Peserta | Warga belum menikah | Semua kalangan |
| Nuansa | Pesta panen, sakral | Hiburan, music house |
| Lokasi | Keliling kampung | Jalan raya |
“Kalau dulu setiap keluarga menyewa delman, tapi untuk saat ini sudah jarang karena banyak teknologi canggih,” tutur Faridi.
Tahun ini, kemeriahan Per-Peran naik beberapa level. Selain andong dan becak, warga juga berjoget di pinggir jalan diiringi musik house yang menggelegar. Anak-anak dan remaja berambut punk ikut meramaikan suasana — memadukan tradisi pesisir dengan gaya urban yang bikin geleng-geleng kepala.
Polres Pamekasan menegaskan bahwa pengamanan berjalan koordinatif antara dua kabupaten untuk memastikan kegiatan tetap kondusif tanpa membahayakan arus mudik.
Jika Anda melintas di jalur selatan Madura saat Lebaran atau Lebaran Ketupat, simak ini:
Per-Peran adalah tradisi masyarakat pesisir di Desa Kramat (Pamekasan) dan Desa Tanjung (Sampang), Madura. Tradisi ini berupa naik delman atau kendaraan lain keliling desa atau jalan raya, digelar sehari setelah Lebaran dan saat Lebaran Ketupat. Kata “per” berasal dari bahasa Madura yang berarti pegas peredam kejut pada delman, dan tradisi ini awalnya merupakan perayaan panen raya yang bertepatan dengan Idul Fitri.
Karena permukiman warga yang kian padat, kegiatan Per-Peran kini digelar di jalan raya — yang kebetulan merupakan jalur arteri mudik selatan Madura. Ketika ribuan warga merayakan tradisi ini di badan jalan, arus kendaraan dari dua arah otomatis terhambat. Tahun ini, antrean kendaraan mencapai lebih dari satu kilometer.
Tradisi Per-Peran adalah bukti bahwa budaya lokal bisa bertahan di tengah arus modernisasi — meski kadang harus berbagi jalan dengan ribuan pemudik. Apakah Anda pernah terjebak macet karena tradisi serupa? Ceritakan di kolom komentar!
👉 Bagikan artikel ini ke keluarga yang mudik lewat Madura agar mereka tidak kage