
Tidak salah jika masyarakat menganalogikan pulau Madura itu secara visual seperti bentuk sapi.
Kepala ada di Kabupaten Bangkalan, perut ada di Kabupaten Sampang, punggung adalah Pamekasan dan Sumenep ada di bagian ekor.
Pembagian ini memudahkan orang untuk mengingat letak geografis kabupaten-kabupaten yang ada di pulau Madura.
Kabupaten sampang yang letaknya di bagian “perut”, posisinya sangat strategis sebagai penghubung daerah barat dan timur, menjadi pusat aktivitas dan perekat wilayah. Layaknya perut yang menopang tubuh, menjadikannya wilayah penting di Madura.
Secara sederhana, bisa dianalogikan bahwa perut sebagai dapur logistik yang mengubah bahan mentah menjadi energi.
Analogi ini harusnya dapat memicu Pemerintah Daerah Sampang untuk meningkatkan peran sektor pertanian, kelautan, pasar, serta ketahanan pangan.
Sebab, peran pengelolaan pangan dapat menaikkan value dari produk dan omoditas yang dihasilkan. Sektor ini juga tak ada matinya sebab akan selalu dibutuhkan sebagai bahan pokok.
Di dalam perut terdapat “lambung” yang bertugas mengubah bentuk makanan. Di dalam mensejahterakan masyakat, dibutuhkan inovasi dan nilai tambah.
Peran ini bisa diwakili oleh sektor industri dan UMKM, yang mampu mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi.
Di samping itu, ada “usus” yang berfungsi sebagai distributor, yang menyalurkan nutrisi ke seluruh tubuh. Sehebat apapun nutrisi yang ada, kalau jalurnya tersumbat dapat menyebabkan malnutrisi.
Demikan juga bila pembangunan infrastruktur jalan yang bagus, akan mampu membuat ekonomi masyarakat akan berputar.
Di perut juga tentu saja ada pusar sebagai magnet yang mempunyai pesona daya tarik serta simbol pusat kehidupan. Pusar itu adalah Alun-Alun Trunojoyo
Pembangunan Alun-Alun Trunojoyo dengan patung karapan sapinya yang megah bukan sekadar proyek fisik. Ia telah menjelma menjadi simbol harga diri dan identitas baru Sampang.
Jika dibandingkan dengan sebelumnya, aktivitas di Alun-Alun seakan tak ada matinya. Semenjak pagi, biasanya disemuti oleh masyarakat yang berolahraga dan dipenuhi oleh penjual beragam menu sarapan. Sampai larut malam warkop dan penjual kaki lima terus mengembuskan keramaian hingga dini hari.
Di akhir pekan kerap dijumpai rombongan wisatawan yang sekadar berhenti, bermain, atau berfoto di kawasan Alun-Alun Sampang. Belum lagi acara yang kerap diadakan di area tersebut menambah semarak suasana Kabupaten Sampang.
Kawasan ini kini berfungsi sebagai “ruang tamu” yang representatif bagi warga dan wisatawan. Di sinilah ekonomi hidup: UMKM mendapat panggung, seniman menemukan ruang ekspresi, dan kebanggaan kolektif masyarakat dibangun kembali. Sebuah kota dengan ikon yang kuat akan memiliki daya tarik yang mampu menggerakkan roda perekonomian.
Secara teknokratis, inovasi di birokrasi juga menunjukkan taji. Sekarang ia bukan lagi sekadar tanah lapang. Kawasan ini telah berubah menjadi latar megah yang menyambut dan memberi ruang untuk warga dan wisatawan.
Di sana, UMKM kita punya panggung, seniman kita punya ruang ekspresi, dan warga punya kebanggaan. Inilah yang disebut dengan membangun kota dengan identitas.
Ketika sebuah kota punya “ikon”, harga diri daerah itu ikut terangkat, menciptakan magnet ekonomi baru yang menghidupkan nadi kesejahteraan masyarakat.
Ada fungsi strategis yang dapat diamati di sini. Pertama, aksesibilitas pasar. UMKM tidak lagi kesulitan mencari pembeli, dan justru pembeli yang datang mencari atmosfer Alun-Alun akan mudah mencari produk UMKM yang disediakan di sana.
Kedua, standardisasi produk. Melalui pengelolaan yang terpusat, pelaku UMKM didorong untuk meningkatkan standar layanan dan higienitas, yang secara tidak langsung menaikkan kelas usaha mereka.
Pusat keramaian selalu diikuti dengan kebutuhan jasa. Pembangunan ini menciptakan lapangan kerja pada berbagai lapisan. Misalnya pedagang, pengelola wahana permainan, dan petugas operasional area.
Di samping itu akan menambah PAD melalui jasa parkir. Selain itu ketersediaan logistik bahan baku makanan, hingga sektor transportasi (ojek dan angkutan umum) mengalami peningkatan okupansi.
Dari sektor ekonomi kreatif akan berkembang potensi ke depan seperti fotografer jalanan dan konten kreator yang memanfaatkan estetika Alun-Alun untuk jasa mereka. Walau sampai sekarang belum ada kios yang menyediakan souvenir dan oleh-oleh khas Sampang.
Seringkali, visi besar dianggap sebagai utopia—sebuah khayalan tentang tempat yang sempurna namun tidak mungkin tercapai. Namun, bagi kami, ” Sampang Gemilang” adalah sebuah cetak biru (blueprint).
Ia bukan mimpi di siang bolong, melainkan proyeksi masa depan yang sedang kita bangun selangkah demi selangkah. Pelan namun penuh kemantapan.
Kita tidak berbicara tentang angan-angan tanpa dasar. Fondasi itu telah diletakkan melalui keberadaan SDM yang sudah terbukti membuat beberapa inovasi yang bukan saja berskala regional, tapi sudah nasional (seperti inovasi Rampak Naong). Bahkan mencapai skala internaional ketika inovasi 4T meraih Bhumandala Kanaka, itu adalah bukti bahwa birokrasi kita mampu berpikir out of the box.
Visi sampang gemilang ini bernapas melalui tulisan, pikiran, dan tindakan sebagai instrumen perubahan dengan target yang terukur. Ketika sebuah ide inovasi bertemu dengan political will, di sanalah “utopia” mati dan “kenyataan” lahir.