Kritik terhadap Konsep Catur Warna dalam Pendidikan: Jangan Menyuburkan Logika Mistika

Kritik terhadap Konsep Catur Warna dalam Pendidikan: Jangan Menyuburkan Logika Mistika

Opini ini adalah sebuah balasan untuk tulisan opini “Pendidikan Harusnya Membebaskan, Sekolah Justru Terkungkung oleh Sistem” dari Mbak Hatimatul Munawwaroh. 

Tulisan yang inspiratif tersebut membuka mata saya bahwa ternyata begitu banyak pihak-pihak yang peduli dengan masa depan pendidikan di Indonesia.

Kiranya saya harus angkat topi terhadap penulis beserta jamaah Jhembarate yang menyediakan wadah dalam memupuk kepedulian tersebut.

Dari sekian banyak pihak yang memiliki kepedulian tersebut, tentunya terdapat banyak sekali pendapat yang berbeda-beda dalam menawarkan solusi.

Tentu saja akan sangat wajar menimbulkan diskusi maupun perdebatan.

Kritik atas Gagasan Catur Warna dalam Pendidikan

Salah satu yang menyita perhatian saya adalah soal konsep catur warna dalam pendidikan.

Ulasan tersebut menambah wawasan saya terkait bagaimana nenek moyang terdahulu memahami sifat-sifat manusia sebagai bagian dari upaya mendidik generasi penerus mereka.

Namun, saya merasa tidak semua warisan leluhur perlu diterapkan karena adanya perubahan zaman. Tradisi carok misalnya, seperti yang sudah pernah saya tulis di sini.

Gagasan catur warna sebagai pendidikan karakter siswa yang disampaikan oleh Mas Arik, yang dikutip dalam tulisan Mbak Hatimatul Munawwaroh itu perlu dipertanyakan ulang.

Ide ini harus dimamah biak dan tak bisa ditelan mentah-mentah.

Bagi saya, konsep catur warna ini akan sangat sembrono jika diterapkan dalam bidang pendidikan. 

Warisan Leluhur dan Ilmu Titen yang Tak Valid

Pertama, tidak ada dasar keilmuan dari konsep catur warna ini.

Ketika bicara soal pemetaan karakter siswa dalam aplikasi di bidang pendidikan, indikator penerapan dan dasar teoretisnya haruslah jelas dengan berangkat dari pengamatan yang berifat saintifik.

Misalnya dari kajian psikologi klinis, neuro-science, atau psikologi anak.

Sejarah mencatat bahwa banyak sekali masalah dimulai dari penerapan kebijakan yang tak berlandaskan keilmuan yang obyektif.

Banyak bencana bermula dari pemangku kebijakan yang menutup telinga dengan apa yang dikatakan oleh ilmuwan.

Saya melihat bahwa konsep catur warna ini tak ubahnya seperti primbon atau weton, yang merupakan ilmu titen.

Ilmu ini berasal dari leluhur yang mencoba memahami bagaimana dunia bekerja dengan memperhatikan pola-pola dan mengamati kejadian yang ada.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa ilmu titen menjadi semacam langkah pertama sebelum manusia mengenal metode sains yang berbasis pengamatan, pencatatan, analisa, dan eksperimen.

Artinya, masih banyak tahapan setelah pengamatan dilakukan.

Dengan kata lain, ilmu ini belum saintifik, obyektif, serta valid karena masih terdapat banyak pertanyaan yang menjadi celah.

Pertanyaan sederhananya, bagaimana mungkin dari sekian banyak manusia dengan beragam latar belakang hanya bisa dipetakan ke dalam 4 kategori saja?

Pertanyaan lain lagi, bagaimana dengan variabel yang tidak dimasukkan dalam pertimbangan, yang muncul di masa saat ini namun belum ada di masa lalu, di masa ilmu titen ini ditemukan?

Oleh karena itu, di sinilah kita perlu bersikap lebih hati-hati.

Apa-apa yang berasal dari nenek moyang belum tentu bisa diterapkan secara tepat untuk masa kini. Apalagi di masa itu belum ada ilmu psikologi.

Menurut saya pribadi, pewarisan dari nenek moyang harusnya bersifat idealis, yaitu digunakan sebaga prinsip dan falsafah hidup atas identitas sebuah bangsa.

Sementara instrumen atau alat penerapannya haruslah beracuan pada perkembangan keilmuan masa kini.

Catur Warna itu Kategorisasi atau Pelabelan?

kedua, pengkategorian karakter berdasarkan catur warna ini berpotansi menimbulkan separasi yang bersifat vertikal.

Meskipun di dalam tulisan tersebut penulis menjabarkan bahwa ide ini harusnya tidak bersifat vertikal, namun resiko terjadinya penyekatan masihlah mungkin.

Apalagi untuk anak di usia belajar dan berkembang, dan kurang matang dalam menyikapi perbedaan.

Terlebih, landasannya bersifat doktrin dan berdasarkan keyakinan semata.

Soal keyakinan ini menjadi polemik ketika diaplikasikan dalam keilmuan dan pendidikan yang harusnya obyektif.

Saya membayangkan berapa banyak calon ahli biologi yang memendam mimpinya hanya karena diajari oleh guru IPA yang percaya bahwa teori evolusi Darwin tidak sesuai dengan keyakinannya.

Keyakinan yang berpotensi muncul dari konsep catur warna ini pun setali tiga uang.

Contohnya, bagaimana jika seorang siswa yang dimasukkan dalam karakter sudra dalam catur warna sudah kadung percaya bahwa ranahnya hanya di kemampuan fisik?

Tentunya hal ini akan membatasi potensi-potensi yang tak kelihatan oleh para pendidik.

Sehingga, para pemangku kebijakan dan pendidik juga harus bijak dalam menyikapi hal ini.

Lebih parahnya lagi, jika ide ini hanya muncul untuk sebatas keren-kerenan saja, lantas diterapkan secara sembrono dengan embel-embel pendidikan berdasarkan karakter bangsa yang diwariskan oleh leluhur.

Harga yang perlu dibayar terlalu mahal.

Bukan berarti saya menolak ide yang berasal dari budaya bangsa yang lampau, namun konsep ini perlu dikuliti dengan lebih obyektif.

Budaya adalah hal yang dinamis. Produk budaya yang berupa konsep catur warna ini pun sama.

Ia harus diuji oleh kebutuhan masyarakat saat ini, kritik yang obyektif, serta dasar keilmuan yang valid.

Ilmu, teori, konsep, dan ide yang digunakan saat ini pun telah melakui beragam pengujian, kritik, serta validasi yang ketat.

Logika Mistika yang Menghantui Ruang Kelas

Ketiga, risiko berkembangnya logika mistika dalam dunia pendidikan.

Dahulu, di era pra-internet, orang-orang memiliki anggapan bahwa kurangnya pengetahuan menjadi masalah utama dalam pendidikan.

Maka berdirilah seluruh guru penjuru negeri di depan kelas untuk menyampaikan materi yang acapkali sudah tak relevan dan terus-menerus diulang setiap tahun.

Saat ini, perkembangan internet membantah anggapan itu. Ketersediaan dan kemudahan akses informasi tidak lantas menjadikan pendidikan jadi lebih baik.

Akses informasi yang tak terbatas yang dikombinasikan dengan cara pikir mistika merupakan masalah utamanya.

Di era ini, banyak sekali contoh logika mistika yang dibungkus dengan bahasa sains sehingga terkesan akademis.

Misalnya ketika orang-orang membagi anak berdasarkan orak kiri dan kanan.

Mereka yang dominan otak kanan dianggap lebih logis, dan otak kiri dianggap lebih kreatif.

Padahal kepercayaan ini sepenuhnya mitos di siang bolong.

Banyak contoh logika mistika dalam pendidikan yang hanya berdasarkan keyakinan semata tanpa proses koreksi dan verifikasi lebih jauh.

Contoh lainnya, seperti membagi cara belajar auditori, vidual, dan kinestetik yang juga merupakan isapan jempol.

Contoh yang masih ada saat ini dan bersifat fatal adalah pembuatan kurikulum berbasis ajaran agama untuk memperbaiki moralitas anak didik.

Keyakinan ini adalah kesalahan parasigma berpikir sejak dari perumusan kebijakan.

Sebuah penelitian pada tahun 2009 menunjukkan bahwa agama, dalam hal ini tingkat keimanan sesorang, tidak selalu berkorelasi positif terhadap moralitas orang tersebut.

Bahkan neuro-image di otak menunjukkan bahwa semakin seseorang menganggap benar keyakinannya, maka orang itu semakin bersikap egosentris.

Studi tersebut menemukan bahwa saat otak kita memikirkan apa yang benar menurut ajaran agama atau Tuhan kita, sebenarnya kita sedang mengakses bagian otak terkait apa yang ego kita yakini.

Hal ini sama dengan konsep ilmu titen, atau dalam hal ini konsep catur warna tadi. Jangan sampai niat baik untuk memajukan pendidikan kemudian terjebak dalam logika mistika semata.

Mewarisi Ajaran Leluhur dengan Kritik, Bukan Adopsi Buta

Bagi saya, konsep catur warna ini harus diperlakukan sebuah artefak sejarah.

Fungsinya bukan untuk diaplikasikan secara sembrono, namun sebagai objek peninggalan non-bendawi yang berfungsi untuk memahami bagaimana cara berpikir orang di masa lampau dalam upayanya memahami karakter manusia. 

Saat ini, kita memiliki tolok ukur yang lebih obyektif dalam memahami karakter manusia dengan adanya beragam disiplin ilmu.

Semangat untuk memahami manusia dan mendidik tetap harus dijaga, namun alatnya yang diganti menjadi lebih baik. 

Saya berkeyakinan sama dengan Mbak Hatimmatul Munawwaroh bahwa pendidikan haruslah membebaskan siswa didik agar merdeka dalam berpikir.

Lebih jauh lagi, mengutip Paulo Freire, bahwa pendidikan itu memerdekakan pikiran dari kekangan yang menindas.

Termasuk berani mempertanyakan tentang kepercayaan leluhur yang telah tumbuh subur dalam masyarakat.

Harapan saya, sekiranya Mbak Hatimmatul Munawwaroh atau Mas Arik membaca tulisan saya, sudilah kiranya membuat tulisan balasan untuk memperkaya diskusi soal ini.

Tentunya dengan mengingat bahwa niat saya menulis ini sebagi otokritik serta sarana silaturrahmi dalam berbagi pemikiran.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu