
Dengan hati yang berat namun penuh syukur, saya hendak melepas kepergian Hamid Thalib lewat obituari ini.
Seorang pria luar biasa yang telah menjadi sahabat sejati, guru kehidupan, dan sosok ayah bagi banyak dari kami yang seringkali kehilangan tempat bercerita.
Beliau adalah salah satu guru terbaik yang pernah ada di kota Sampang, sekaligus salah satu pencetus nama Jhembhar Ate, komunitas masyarakat Maiyah yang hingga kini terus bertahan.
Saya pertama kali mengenal dan berjumpa beliau di sebuah warung kopi kecil bernama Maksideh, yang terletak di sudut kota Sampang, sekitar tahun 1992.
Saat itu usia saya kira-kira 9 tahun. Tidak terlalu banyak yang bisa saya ingat secara rinci, karena waktu seolah berlalu begitu cepat.
Namun pertemuan itu menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang penuh makna bersama sosok yang kelak menjadi bagian penting dalam hidup saya.
Beliau bukan hanya seorang pendengar yang baik, tetapi juga penuntun yang sabar.
Kata-katanya sederhana, namun selalu mengandung makna mendalam yang menuntun kami melewati badai kehidupan.
Senyumnya adalah penyemangat dan selalu jhembhar menerima setiap yang datang padanya.
Alih-alih meragukan, beliau justru menjadi orang pertama yang berkata, “Coba saja dulu. Aku percaya kamu bisa.”
Saya masih ingat betul, saat kecil dulu, beliau selalu bersemangat mengajak saya memancing. Dengan sepeda ontel tuanya, saya duduk di depan, dibonceng menyusuri jalanan desa nelayan.
Setiap akhir pekan, bila sore tiba, beliau akan mengajak saya ke tempat baru—tambak-tambak yang belum pernah saya tahu sebelumnya.
Bagi saya kecil, itu adalah petualangan yang tak ternilai. Bagi beliau, itu adalah cara mencintai yang paling sederhana namun paling dalam.
Beranjak dewasa, saat pertama kali saya membuka usaha konter isi pulsa, beliau tetap hadir sebagai sosok yang tetap konsisten membimbing.
Saya takkan pernah lupa, ketika suatu hari dagangan saya sepi, beliau datang dan membeli pulsa dari saya.
Bukan karena butuh, tapi karena ingin saya tetap semangat dan tidak menyerah dalam berwirausaha.
Saat saya mulai sering berdiskusi dan berbagi cerita dengannya tentang pentingnya ilmu agama Islam, beliau menyambutnya dengan semangat yang luar biasa.
Beliau tak pernah memaksa, tapi selalu menyediakan ruang duduk untuk belajar dan berdiskusi.
Wajahnya bersinar setiap kali kami berbicara tentang nilai-nilai keimanan, tentang makna hidup, tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.
Ia senang melihat saya tumbuh menjadi teman diskusinya, bukan hanya sebagai anak atau murid, tapi sebagai sahabat seperjalanan dalam pencarian makna.
Pernah suatu ketika pada awal Oktober 2020, saya bersama teman-teman berencana membentuk simpul Maiyah di Sampang, Madura.
Beliau tidak hanya mendukung, tapi juga terlibat langsung. Kami berdiskusi santai, mencari nama yang tepat untuk simpul ini—nama yang bisa mencerminkan jiwa dan semangat masyarakat Sampang.
Saat itu, di Madura sudah ada simpul Maiyah di Sumenep bernama Demar Ate (pelita hati), dan tak lama kemudian muncul simpul Bangkalan bernama Paddheng Ate (terang hati).
Saya pun merenung, bahwa Sampang yang berada di tengah-tengah Pulau Madura, secara geografis berada di antara cahaya dari timur dan barat.
Maka, kami merasa nama yang tepat untuk Sampang adalah Jhembhar Ate —yang berarti hati yang jembar, lapang, terbuka.
Karena jika timur adalah pelita dan barat adalah terang, maka di tengahnya harus ada ruang lapang yang mampu meneruskan sumber cahaya kepada terang.
Hamid Thalib mengatakan bahwa hati yang jembar artinya menerima terang dari segala arah dan lapang dalam menerima segala ketetapan Tuhan—baik yang enak maupun yang tidak enak.
Dan benar saja, pada 19 Oktober 2020, Emha Ainun Nadjib berkenan merestui nama “Jhembhar Ate” sebagai simpul Maiyah Sampang Madura, seperti tercatat dalam tulisannya.
Hamid Thalib punya andil besar dalam lahirnya nama itu—sebuah warisan spiritual yang akan terus hidup.
Bersamanya, banyak dari kami belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti kehilangan semangat, melainkan menemukan cara untuk tetap bermimpi sambil menapaki realita.
Sifatnya yang selalu menerima orang lain tanpa membeda-bedakan, merupakan hal yang akan terus hidup di benak orang-orang yang pernah mengenalnya.
Jika semangat Jhembhar Ate merupakan manusia, maka beliaulah yang paling pantas menyandangnya.
Kini, meski raganya telah tiada, semangat dan nilai-nilai yang beliau tanamkan akan terus hidup dalam hati kami.
Terima kasih, Hamid Thalib, atas setiap pelajaran, tawa, dan pelukan hangat yang tak akan pernah kami lupakan.
Selamat jalan sahabat, guru sekaligus ayah kami. Doa kami menyertaimu selalu.
Seperti semangat yang engkau bawa, semoga jhembhar selalu dunia dan akhirat untukmu.