Masjid Sampangan: Jejak Diplomasi Mataram dan Madura

Masjid Sampangan: Jejak Diplomasi Mataram dan Madura

Sejarah Awal Masjid Sampangan

Masjid Sampangan di Surakarta bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini menyimpan jejak diplomasi politik antara Kerajaan Mataram dan kekuasaan Madura yang dimulai sejak abad ke-17. Berdiri di pinggiran Sungai Jenes, bangunan ini menjadi saksi perjalanan Cakraningrat I, bangsawan Madura yang menjadi raja vasal di bawah Sultan Agung.

Pada tahun 1624, setelah penaklukan Madura oleh Mataram, Raden Prasena—yang kemudian bergelar Cakraningrat I—diangkat sebagai abdi dalem dan anak angkat Sultan Agung. Dalam setiap perjalanannya ke Mataram, ia kerap berhenti di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Sampangan.

Di tepi Sungai Jenes, rombongan Cakraningrat membangun surau panggung dari gedek untuk beribadah. Surau sederhana itu menjadi cikal bakal Masjid Sampangan, yang kelak dijaga turun-temurun oleh warga lokal sebagai bentuk penghormatan kepada tamu agung dari Madura.

Diplomasi Politik Melalui Tradisi Sowan

Tradisi sowan (kunjungan) Cakraningrat I ke Keraton Mataram bukan sekadar agenda budaya, tapi juga diplomasi politik lintas pulau. Setiap bulan Mulud, rombongan dari Sampang berlayar melalui Bengawan Solo menuju Yogyakarta dan Surakarta untuk bertemu Sultan Agung, lalu Amangkurat I.

Masjid Sampangan menjadi titik transit penting dalam perjalanan itu. Di sinilah para utusan Madura beristirahat, beribadah, dan menyiapkan diri untuk sowan ke keraton. Setelah wafatnya Cakraningrat I pada 1647, jejak diplomasi ini tetap hidup lewat bangunan masjid dan tradisi masyarakat sekitar yang masih melestarikan ziarah dan tahlilan tahunan.

masjid Sampangan

Pemugaran dan Pelestarian Masjid

Pada abad ke-18, Raden Wiryowijoyo, bekel Semanggi dari Kraton Surakarta, memugar surau menjadi masjid permanen. Ia menunjuk imam dan muadzin dari kalangan lokal serta menyerahkan pengelolaan masjid kepada keturunannya hingga pertengahan abad ke-20.

Pasca-kemerdekaan, Abdur Rozak dan Husein Baabad dari Arab Saudi turut membiayai pemugaran besar. Meski tampil lebih modern, sumur tua dan kayu jati asli tetap dipertahankan sebagai elemen bersejarah. Kini, Masjid Sampangan menjadi cagar budaya religius yang mempertemukan unsur Jawa, Madura, dan Arab.

Nilai Sejarah dan Identitas Lokal

Masjid Sampangan bukan hanya simbol religius, tapi juga penanda hubungan politik dan budaya antara Jawa dan Madura. Ia menjadi saksi pertemuan kekuasaan, spiritualitas, dan perjalanan diplomasi yang melintasi waktu. Bagi warga Sampangan, masjid ini adalah identitas dan kebanggaan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Siapa pendiri Masjid Sampangan?

Masjid Sampangan didirikan oleh rombongan Cakraningrat I, bangsawan Madura yang menjadi penguasa di bawah Sultan Agung pada abad ke-17.

Apa fungsi Masjid Sampangan di masa lalu?

Selain tempat ibadah, masjid ini berfungsi sebagai titik transit diplomasi antara utusan Madura dan Keraton Mataram.

Apakah bangunan masjid masih asli?

Sebagian struktur sudah dimodernisasi, tetapi sumur tua dan kayu jati peninggalan awal masih dipertahankan.

Sumber:

  • Galih Pranata, Ahmad Rushanfichry, & Moh. Yudik Al Faruq. Masjid Sampangan di Surakarta Sebagai Sumber Sejarah Diplomasi Politik Mataram Jawa dan Madura Sejak Abad XVII. Journal of Indonesian History, Vol 10 No 2 (2021). UNNES Journal

Hastag
Bangkalan

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam

Perlawanan Buruh di Madura: Mengintip Celurit Sakera hingga Aksi Sunyi Buruh Garam

Bau Darah Menjadi Wangi Doa: Transformasi Spiritual Blega di Tangan Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy

Bau Darah Menjadi Wangi Doa: Transformasi Spiritual Blega di Tangan Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy

Membongkar Era Masuknya Islam di Jawa: Transisi Majapahit Hingga Bangkitnya Mataram

Membongkar Era Masuknya Islam di Jawa: Transisi Majapahit Hingga Bangkitnya Mataram