
MADURAPEDIA – Bagi masyarakat Madura, khususnya warga Pamekasan, Monumen Arek Lancor sudah seperti napas kehidupan.
Monumen yang menjadi ikon kota dan terkenal dengan sebutan “Gerbang Salam” ini berdiri megah di jantung kota, tepat di depan Masjid Agung Asy-Syuhada.
Lokasinya yang strategis dan dikelilingi oleh jalan berbentuk unik menyerupai lafadz “Allah” membuatnya mudah ditemukan.
Bagi Anda yang berasal dari luar kota, akses menuju ke sini terbilang mudah. Dari Surabaya, misalnya, tersedia bus patas maupun bus ekonomi yang melayani rute langsung ke Pamekasan.
Keberadaan monumen ini bukan sekadar penanda kota, melainkan sebuah simbol perjuangan rakyat Pamekasan yang abadi, mengingatkan setiap orang pada harga kemerdekaan yang dibayar dengan darah dan nyawa.
Di balik kemegahannya, Monumen Arek Lancor menyimpan narasi sejarah yang pilu dan heroik. Peristiwa itu terjadi pada 16 Agustus 1947, yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.
Saat seharusnya para pejuang bersiap menyantap ketupat dan opor ayam, mereka justru harus berjibaku melawan tentara Belanda di alun-alun kota.
Serangan umum yang hanya berlangsung sekitar dua jam itu tercatat menewaskan sekitar enam ratus pejuang kemerdekaan asal Madura.
Kekejaman peristiwa itu tergambar jelas dari kesaksian dan laporan sejarah. Jasad para syuhada yang gugur, sebelum dikuburkan, dibakar terlebih dahulu oleh marinir Belanda.
Mereka yang tertangkap hidup-hidup disiksa dengan kejam, tidak hanya oleh tentara Belanda tetapi juga oleh orang-orang Madura yang tergabung dalam Resimen Cakraningrat atau yang dikenal masyarakat sebagai “Cakrah”.
Kengerian pertempuran singkat nan dahsyat itu bahkan terekam dalam memoar tentara Belanda. Seorang veteran bernama Karel Poetiray menuturkan, para pejuang kemerdekaan datang dari segala arah, bahkan ada yang keluar dari dalam got saluran air.
Sementara rekannya, Hornman, menyebut tindakan para pejuang tersebut sebagai ‘kegilaan religius’, sebuah frasa yang menggambarkan semangat juang dan pengorbanan yang tak tergoyahkan.
Invasi Belanda ke Madura, seperti dilaporkan dalam berbagai dokumen, bertujuan untuk mengamankan industri garam dan membentuk negara boneka bernama Negara Madura.
Namun, menurut sejarawan seperti Sulaiman Sadik, invasi ini adalah lanjutan dari Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Klaim Belanda ingin melindungi orang Madura ditolak mentah-mentah.
Perlawanan keras justru datang dari para kiai pesantren tradisional di Pamekasan, seperti Kiai Zaini Mun’im, Kiai Mohammad Thoha, dan Kiai Djufri Marzuqi, yang menjadi tulang punggung perjuangan.
Bentuk Monumen Arek Lancor sendiri penuh dengan makna filosofis yang dalam. Arsitekturnya yang seperti kobaran api dan senjata tradisional celurit menggambarkan semangat para pejuang yang terus berkobar melawan penjajah dengan gagah berani.
Lokasinya yang dikelilingi jalan berbentuk lafadz “Allah” memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu bahwa kemenangan perjuangan rakyat Madura tidak lepas dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Monumen yang dirancang oleh arsitek Ersyad Broto Amidarmo ini dibangun pada tahun 1985. Dana pembangunannya bersumber dari para tokoh Pamekasan di Jakarta yang menghimpun dana dari para pengusaha, di bawah koordinasi mantan Gubernur Bank Indonesia, Rahmat Saleh.
Monumen ini dibangun tepat di lokasi dimana pertempuran sengit terjadi, dan para pejuang yang gugur sempat dimakamkan di tempat yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan.

Kini, Monumen Arek Lancor telah bertransformasi dari saksi bisu pertumpahan darah menjadi pusat denyut nadi kehidupan masyarakat Pamekasan.
Kawasan ini tidak pernah sepi pengunjung, baik lokal maupun dari luar daerah. Berikut adalah aktivitas yang bisa ditemui di sekitar monumen:
Arek Lancor adalah salah satu jenis senjata tajam tradisional khas Madura, sejenis celurit. Nama ini dipilih untuk melambangkan senjata yang digunakan rakyat dalam berjuang melawan penjajah.
Peristiwa heroik tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus 1947, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Pertempuran sengat meski singkat (sekitar dua jam) menewaskan ratusan pejuang Madura.
Selain sebagai wisata sejarah, kawasan ini menjadi tempat rekreasi keluarga, pusat kuliner, lokasi Car Free Day pada Minggu pagi, dan tempat nongkrong komunitas pada malam hari, terutama di akhir pekan.
Google Maps Berlokasi di Alamat: , Rw. 03, Barurambat Kota, Kec. Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur 69317
Provinsi: Jawa Timur
Jadikan Monumen Arek Lancor sebagai destinasi wajib Anda saat berkunjung ke Pamekasan. Nikmati pesona sejarahnya di siang hari dan semarak kehidupannya di malam hari.
Ajak keluarga untuk belajar sejarah sambil menikmati suasana kota di sekitar ikon kebanggaan warga Madura ini.