Jangan Buka Bisnis Kopi Manual Brew di Sampang!

Jangan Buka Bisnis Kopi Manual Brew di Sampang!

Bicara soal kopi manual brew di Sampang seperti ngobrolin soal aib keluarga sendiri. Bikin malas tapi perlu ada yang membuka obrolan. Di sini, saya hendak berbagi.

Ingatan saya membawa saya ke citarasa kopi manual brew yang pernah saya cicipi. Meski sudah ada beberapa yang memulai, namun awal hype kopi manual brew baru tahun 2018-an masuk ke Sampang.

Pengalaman saya tertarik di dunia perkopian berawal dari pengalaman minum kopi filter, yang ternyata saya baru tahu, kopi bisa dinikmati tanpa gula.

Hal ini membawa saya untuk ngulik kopi manual brew. Yang membuat tertarik karena ada banyak set up untuk variasi rasa, seperti acidity, hint, aroma, dan lain-lain. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuka bisnis kopi sendiri.

Suka Duka Pemilik Bisnis Kopi Manual Brew di Sampang

Mencoba membuka bisnis kopi manual brew di Sampang itu susah-susah gampang. Memang banyak susahnya sih, yaitu sulit untuk berkembang karena marketnya sedikit. Sukanya ya, bisa ngulik sendiri.

Selama menjadi pemilik bisnis dan konsumen warung kopi di Sampang, saya melihat kondisi di Sampang memang memang tidak sepesat di kota lain.

Faktornya beragam. Mulai dari jumlah konsumen yang masih belum mengenal kopi manual brew, kurangnya inovasi sehingga membuat orang bosan, sampai harga bahan baku kopi yang makin meroket.

Apalagi mayoritas orang Sampang masih lebih suka kopi robusta tubruk. Contohnya, selama saya membuka bisnis kopi, penikmat arabika ya paling hanya 10% saja. Sampai-sampai saya berpikir, mungkin belum saatnya berkembang di Sampang karena marketnya memang belum terbentuk.

Karena itulah, niat membuka bisnis ini harus dipikirkan dengan jernih. Jangan sampai fondasinya hanya dibangun dari hobi dan trend semata—seperti saya pada awal buka.

Tak seperti di Jawa yang mana kebiasaan mengkonsumsi kopi manual brew sudah menjadi budaya modern dan memiliki pasar yang tetap, kopi manual brew di Sampang itu sudah kaya fenomena es kepal Milo.

Meski sempat ramai, tapi cuma ikut-ikutan trend saja. Hanya segelintir penggemar kopi manual brew yang masih bertahan.

Lebih dari Minuman, Kopi adalah Budaya

Bicara soal kopi nggak hanya ngobrolin soal penjualan produk. Tapi juga budaya dan ekonomi. Mayoritas pengunjung warung kopi di Sampang itu ya kelas pekerja.

Yang namanya pekerja, ngopi itu ya sebagai pelepas lelah atau teman nongkrong. Sehingga, asal ada kopi untuk diminum dan teman merokok, ya selesai. Apalagi biasanya para pekerja ngopinya di pagi hari untuk membuka hari.

Yang biasanya punya minat besar dengan kopi manual brew biasanya anak-anak muda dan mayoritasnya gen Z. Tapi berbeda kondisi dengan di kota besar yang sudah biasa ngopi filter sambil bekerja di café.

Di Sampang, sektor industri kreatifnya itu masih kurang sehingga budaya ngopinya pun berbeda. Akhirnya ngopi hanya sebagai kebutuhan nongkrong saja, dan biasanya hanya ramai di malam minggu.

Makanya, buka bisnis warung kopi manual brew di Sampang itu perlu dipikirkan matang-matang. Jika belum kuat di pondasinya, sebaiknya jangan dulu buka. Bahkan ada yang buka hanya karena sebatas hobi, ya seperti saya.

Bagi saya, kopi itu bentuk idealisme saya. Yaitu untuk bisnis jangka panjang setelah pensiun. Selain itu karena saya sendiri suka ngulik dan masih aktif di bidang roastery, harapannya, kalau teman-teman mahasiswa pas pulang ke Sampang, tetap ada tempat ngopi yang enak dan murah di Sampang.

Apa yang Bisa Dilakukan di Sampang?

Pertama perlu disadari bahwa problem di Sampang itu masih kurang inovasi jangka panjang. Terlebih soal pengolahan bahan baku. Untuk inovasi dalam penanaman green bean mungkin agak susah. Apalagi, saat ini belum ada bean kopi khas Madura.

Meskipun ada ide jenis kopi liberica yang relatif bisa tumbuh di dataran rendah dan tahan terhadap hama, namun liberica itu rasanya mirip nangka. Nggak semua orang suka nangka. Jadi lebih spesifik penggemarnya, sehingga belum bisa jadi opsi.

Saya merasa bahwa sektor pengepakan itu lebih potensial. Jadi mungkin kalau ada pabrik pengepakan kopi di Madura ya bisa aja jadi potensi. Sebab dari budayanya, masyarakat Sampang lebih konsumtif daripada produktif, terutama untuk kopi kemasan.

Namun jangan berharap banyak untuk kopi manual brew. Saya melihat konsumsi kopi yang lumayan besar di Madura itu seperti kopi merk Uang Mas atau Kopi Gajah. Jenis kopi yang seperti ini bisa jadi potensi untuk memulai industri kopi di Madura.

Realita kopi manual brew di Sampang mengajarkan saya suatu hal. Bahwa membangun bisnis adalah tentang berdialog dengan pasar, bukan sekadar bercakap-cakap dengan cita rasa sendiri.

Mungkin bagi para pemilik warung kopi terlalu sibuk dengan grinder dan gooseneck kettle-nya. Mereka sibuk meracik kompleksitas, sementara yang diinginkan banyak orang hanyalah secangkir kehangatan yang sederhana.

Jika belum siap untuk pertarungan antara idealisme dan kenyataan, jangan buka bisnis kopi manual brew di Sampang. 

Biarkan dulu robusta tubruk bercerita dengan caranya sendiri. Karena di sini, kadang, bercerita tentang kopi rasa nangka pun sudah merupakan sebuah lompatan yang berani.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu