
MADURAPEDIA – Memahami apa itu Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sosok visioner pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Lebih dari sekadar organisasi, Muhammadiyah adalah manifestasi dari gagasan pembaruan Islam yang relevan dengan tantangan zamannya.
Melalui kacamata pendirinya, kita akan melihat bahwa Muhammadiyah lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi umat Islam yang kala itu terjebak dalam keterbelakangan, kebodohan, dan praktik keagamaan yang telah menyimpang dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Lantas, siapa pendiri Muhammadiyah yang memiliki visi begitu progresif itu? Beliau adalah KH Ahmad Dahlan, seorang ulama yang lahir di Kauman, Yogyakarta, dengan nama kecil Muhammad Darwis. Berasal dari kalangan elite religius Keraton Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan justru memilih jalan dakwah yang membumi.
Perjalanan intelektualnya sangat mempengaruhi gagasan tentang apa itu Muhammadiyah. Dua kali menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah, KH Ahmad Dahlan banyak berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaru Islam dunia, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, dan Rasyid Ridha.
Dari sinilah, spirit untuk memurnikan ajaran Islam (tajdid) dan memberantas takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC) mengkristal dalam dirinya. Keprihatinannya terhadap kemiskinan intelektual dan spiritual umat Islam Indonesia di awal abad ke-20 menjadi pendorong utamanya.

Jawaban atas pertanyaan kapan Muhammadiyah didirikan adalah pada 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H di Yogyakarta. Tanggal ini menandai era baru dalam perjalanan umat Islam Indonesia. Berdirinya Muhammadiyah adalah sebuah respons terhadap kejumudan yang melanda.
Bagi KH Ahmad Dahlan, apa itu Muhammadiyah adalah gerakan yang mengedepankan amal nyata, bukan sekadar wacana. Visi ini diterjemahkan dalam langkah-langkah konkret. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan aktif dalam organisasi seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam.
Pengalaman berorganisasi ini memperluas wawasannya dan meyakinkannya akan pentingnya sebuah wadah yang solid untuk mewujudkan perubahan.
Dari kacamata pendirinya, apa itu Muhammadiyah juga berarti sebuah komitmen untuk memajukan pendidikan. Beliau mendirikan sekolah yang menggabungkan kurikulum agama dan umum, dilengkapi dengan meja, kursi, dan papan tulis—sebuah terobosan di masanya. Sekolah ini terbuka untuk semua, khususnya anak-anak dari kalangan kurang mampu.
Pendidikan Terpadu: Mengajarkan ilmu agama dan umum sekaligus.
Fasilitas Modern: Menggunakan bangku, papan tulis, dan sistem klasikal.
Inklusif: Terbuka untuk anak-anak tidak mampu yang belum bersekolah.
Tidak berhenti di pendidikan, pemahaman tentang apa itu Muhammadiyah juga mencakup gerakan di bidang sosial dan kesehatan.
Terinspirasi dari Surah Al-Ma’un, KH Ahmad Dahlan mendirikan panti asuhan untuk menyantuni anak yatim dan membantu fakir miskin. Beliau juga mempelopori pendirian rumah sakit dan balai pengobatan.
Cara dakwah KH Ahmad Dahlan yang menonjolkan dialog dan musyawarah juga menjadi ciri khas. Ketika hendak meluruskan arah kiblat Masjid Besar Yogyakarta yang dinilainya tidak tepat, beliau tidak melakukannya secara sepihak.
Beliau mengedepankan diskusi untuk meyakinkan berbagai pihak bahwa kebenaran harus didasarkan pada dalil dan ilmu pengetahuan.
Pendekatan inklusif dan rasional ini yang ingin ditanamkannya dalam tubuh Muhammadiyah. Bahkan, untuk mengajarkan pentingnya bersyukur dan berpikiran terbuka, beliau menggunakan analogi kreatif seperti biola dan udara pagi, sesuatu yang tidak lazim pada masa itu.
endiri Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan, yang bernama kecil Muhammad Darwis. Beliau adalah seorang ulama dari Kauman, Yogyakarta, yang berasal dari keluarga religius Keraton. Latar belakang pendidikannya yang luas, termasuk menimba ilmu di Mekah dan terpengaruh pemikiran pembaru Islam seperti Muhammad Abduh, membentuk visi tajdid-nya.
Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 Masehi, atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, di Kampung Kauman, Yogyakarta. Tanggal ini menjadi penanda dimulainya gerakan pembaruan Islam modern di Indonesia.
Tujuan utama didirikannya Muhammadiyah adalah untuk memurnikan ajaran Islam di Indonesia dari praktik-praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta memajukan umat melalui jalur pendidikan, pelayanan kesehatan, dan amal sosial. Organisasi ini bertujuan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam melalui Tindakan nyata.
Jadi, ketika kita bertanya apa itu Muhammadiyah, jawabannya adalah sebuah gerakan pembaruan Islam yang diinisiasi oleh KH Ahmad Dahlan yang didirikan pada 18 November 1912.
Gerakan ini lahir dari visi seorang pendiri yang ingin mengembalikan Islam pada kemurnian ajarannya sekaligus menjawab tantangan modernitas melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan dakwah yang mencerahkan.
Semangat untuk beramal nyata inilah yang hingga hari ini terus menjadi napas dari persyarikatan Muhammadiyah, sebagaimana dijelaskan dalam profil organisasinya di muhammadiyah.or.id.
Tertarik mempelajari lebih dalam tentang sejarah dan kontribusi Muhammadiyah? Jelajahi terus artikel inspiratif lainnya dan bagikan pemikiran Anda di kolom komentar!