
Madura — Kalau bicara soal Madura, biasanya langsung teringat pada karapan sapi. Tapi, siapa sangka, atmosfer meriah lomba adu cepat sapi itu tidak lengkap tanpa dentuman musik Saronen. Orkes tradisional ini bukan hanya “pengiring”, melainkan bagian utama yang menghidupkan suasana.
Uniknya, meski populer sejak era 1970-an, musik Saronen bukan satu-satunya yang menggunakan format instrumen berpencon (gong kecil). Di Jawa Barat ada sisingaan, Jawa Tengah punya jaran kepang, Jawa Timur punya reog, dan Bali punya balaganjur. Artinya, Saronen adalah ciri khas Madura yang berkembang dalam jejak tradisi Nusantara.
Nama “Saronen” diambil dari salah satu instrumen utamanya: sarunai atau selompret, instrumen tiup dengan karakter suara:
Konon, secara garis keturunan alat musik ini erat dengan surnei (Timur Tengah) atau kelompok hobo (Eropa). Di Madura, suara “bercambuk” ini jadi identitas khas yang langsung membuat orang tahu: “Wah, ini pasti karapan sapi sedang berlangsung!”
Saronen dimainkan dalam format gamelan mini dengan instrumen:
Ciri musikalnya adalah pola beat kolotomik alias struktur pukulan gong–kenong–ketuk berlapis, menghasilkan tempo semarak dan repetitif. Inilah yang membuat Saronen terasa gemuruh, penuh semangat, dan cocok jadi irama arak-arakan.
Di Madura, fungsi utama Saronen erat dengan dua tradisi besar:
Tapi jangan salah. Dalam keseharian, Saronen jadi musik arak-arakan rakyat, misalnya:
Saronen bukan sekadar musik pengiring. Ia adalah tontonan penuh kemeriahan:
Hasilnya? Setiap penampilan Saronen bukan hanya didengar, tapi juga ditonton sebagai hiburan visual.
Layaknya gamelan, Saronen juga punya gending khas. Beberapa yang populer untuk arak-arakan antara lain:
Selain itu, gending umum kadang diambil dari tradisi Sumenepan (gamelan klasik lokal) yang diadaptasi agar pas dimainkan dalam format Saronen.
Menurut pengamat budaya Munardi, bentuk kenong telo’ (konsep kolotomik) dari Jawa Timur memberi pengaruh besar pada musik rakyat Madura, termasuk tongtong dan Saronen. Inilah bukti bahwa musik rakyat selalu adaptif, berinteraksi antarbudaya, namun tetap menjaga ciri khas lokalnya.
Musik tradisional Madura identik dengan karapan sapi, dimainkan dalam format gamelan kecil dengan instrumen utama selompret/saronen.
Digunakan untuk pesta pernikahan, sunatan, hingga menyambut tamu kehormatan.
Suara selompret saronen yang nyaring, melengking, dan parau, jadi ciri paling khas.
Ya, hingga kini Saronen masih tampil dalam acara adat, festival budaya, dan event pariwisata di Madura.