
D. Zawawi Imron lahir di Batang-batang, Kabupaten Sumenep, dan dikenal luas sebagai “Penyair Madura” dengan citra puitik yang kuat: laut, angin, ibu, religiusitas, dan budaya Madura. Namanya menanjak sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki (1982). Bakatnya “ditemukan” Subagio Sastrowardojo, dan sejak itu ia konsisten menulis, berceramah, dan menginspirasi generasi pembaca.
Penyair asal Batang-batang, Sumenep; figur sentral sastra Madura di Indonesia.
Bulan Tertusuk Ilalang, Celurit Emas, Nenek Moyangku Airmata.
SEA Write Award (2012) di Bangkok.
Ya, sejumlah sajak digubah menjadi musik oleh Ananda Sukarlan; beberapa diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Tetap di Batang-batang, Sumenep, Madura.
Referensi