
Madura — Dari lorong-lorong Kampung Beler, Sampang, hingga panggung Sidang Umum MPR dan Kedutaan Besar RI di Paris, Raden Panji Mohammad Noer—akrab disapa Cak Noer—menjahit jejak kepemimpinan yang membumi. Slogannya menggema: “Agawe wong cilik melu gumuyu” (membuat rakyat kecil ikut tersenyum). Inilah kisah lengkap putra Madura yang memadukan ketegasan, religiusitas, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Raden Panji Mohammad Noer (Cak Noer) |
| Lahir | 13 Januari 1918, Kampung Beler, Desa Rong Tengah, Sampang, Madura |
| Wafat | 16 April 2010, Surabaya; dimakamkan di Somor Kompah, Sampang |
| Orang tua | R.A. Condropratikto & R.Ay. Siti Nursiah |
| Pendidikan | HIS (1932), MULO (1936), MOSVIA (1939) |
| Karier kunci | Bupati Bangkalan (1959), Pembantu Gubernur Jatim (Madura) (1965), Pjs Gubernur Jatim (1967), Gubernur Jatim (1967–1976), Dubes RI untuk Prancis (1976–1980) |
| Julukan | “Gubernurnya rakyat kecil” |
| Slogan | “Agawe wong cilik melu gumuyu” |
| Gagasan monumental | Jembatan Suramadu; penguatan cadangan pangan Jatim |
| Keluarga | Menikah (1941) dengan Mas Ayoe Siti Rachma; 8 anak |

“Agawe wong cilik melu gumuyu.”
A: Karena kebijakan dan slogannya menekankan hasil pembangunan untuk dinikmati rakyat kecil—dari pangan, pendidikan, hingga perhubungan.
A: Ya. Gagasannya sejak 1950-an saat menjadi Patih Bangkalan, demi membuka akses dan memacu ekonomi Madura.
A: Penguatan produksi pangan dan cadangan nasional melalui BUUD, intensifikasi pertanian, dan disiplin partisipasi rakyat—mengantar Jatim meraih Parasamya (1974).
A: Memperkuat citra Indonesia—promosi pariwisata (Borobudur) dan jembatan kebudayaan; menerima anugerah tinggi dari Pemerintah Prancis.