
Madura — Namanya diabadikan menjadi pangkalan dan bandara di Jakarta. Namun di balik itu, ada kisah keberanian menembus blokade udara Belanda, merintis kekuatan AURI, hingga gugur dalam misi rahasia. Inilah perjalanan hidup Marsda TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma, putra Sampang yang mengukir sejarah.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Marsda TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma |
| Lahir | 18 November 1922, Sampang, Madura, Jawa Timur |
| Wafat | 14 Desember 1947, Perak (Malaya/Malaysia) — kawasan Labuhan Bilik Besar, Tanjung Hantu–Teluk Senangin |
| Orang tua | H. Abdulgani Wongsotaruno (Patih Sampang, penulis “Batara Rama Sasrabahu” berbahasa Madura) & R.A. Aisah |
| Pendidikan | HIS Semarang (1934), MULO Surabaya (1938), MOSVIA Magelang (tidak selesai) |
| Karier militer awal | Pendidikan opsir torpedo AL Hindia Belanda di Surabaya; bertugas di Royal Canadian Air Force & Royal Air Force (PD II) |
| Peran kunci | Perwira Operasi AURI; Wakil Kepala Staf AURI; perintis operasi udara dan instruktur navigasi |
| Pasangan & anak | Koesdalina; Ian Santoso Perdanakusuma (Marsdya TNI Purn., eks-Ka BAIS TNI) |
| Penghargaan | Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 063/TK/1975); Bintang Mahaputera Tk. IV; kenaikan pangkat anumerta |
| Warisan | Lanud/Bandara “Halim Perdanakusuma” (eks Pangkalan Udara Cililitan), penetapan 17 Agustus 1952 |

A: Jasa luar biasa dalam merintis AURI, menembus blokade udara, dan gugur dalam misi penting menjadi dasar penamaan Lanud/Bandara Halim Perdanakusuma.
A: Pesawat AURI yang dibeli dari hasil pengumpulan emas rakyat Sumatera (±12 kg), dipakai dalam misi diplomasi–logistik 1947.
A: Arsitektur operasi udara: perencanaan, instruksi navigasi, hingga serangan strategis 29 Juli 1947.
A: Istri: Koesdalina. Anak: Ian Santoso Perdanakusuma (kelak Marsdya TNI Purn., eks-Ka BAIS TNI).