Macapat Madura: Warisan Wali Songo yang Menyapa Ilmu, Akhlak, dan Budaya

Macapat Madura: Warisan Wali Songo yang Menyapa Ilmu, Akhlak, dan Budaya
Ilustrasi Macopat Macapat madura (1)

Madura — Siapa sangka, tembang yang mendayu di serambi masjid dan rumah-rumah hajatan ini adalah medium dakwah yang halus namun kuat? Macapat, yang populer melalui misi budaya Wali Songo, bukan sekadar nyanyian: ia menanamkan ilmu, budi pekerti, dan ketakwaan—seraya merawat identitas orang Madura.

Catatan: Atribusi penciptaan tembang kepada para Wali bersandar pada tradisi lisan/populer. Penulisan berikut mengikuti naskah yang Anda kirim dan variasi yang hidup di masyarakat.

Macapat dan Dakwah Wali Songo

  • Media dakwah: gamelan, upacara, wayang, dan tembang (pujian/shalawatan) di surau menjelang salat.
  • Fungsi ganda: memuji Allah, mendidik akhlak, mengajak cinta ilmu, membenahi moral.
  • Tradisi populer mengaitkan jenis-jenis tembang dengan para Wali:
    • Sunan Giri: Sinom (nur/cahaya hidup)
    • Sunan Kalijaga: Dhandanggula (harap pada “manis”/kebahagiaan)
    • Sunan Bonang: Durma (simbol pergulatan nafsu)
    • Sunan Murya: Pangkur (membasmi hati jahat)
    • Sunan Giri Parepen: Megatruh (meninggalkan yang kotor)
    • Sunan Giri Jati: Pucung (puncak rasa/kehendak)
    • Dll. (variasi atribusi ada di sejumlah daerah dan teks)

Macapat di Madura: Bahasa, Cengkok, dan Panegges

  • Asal-usul: berakar dari Macapat Jawa; di Madura dikenal, dikembangkan, dan dibawakan dalam bahasa Madura maupun Jawa Kuna (Kawi).
  • Dua praktik bahasa:
    • Diterjemahkan ke bahasa Madura.
    • Dibawakan dalam Jawa Kuna, lalu maknanya dijelaskan oleh panegges (penerjemah/penafsir).
  • Perbedaan gaya:
    • Jawa: syair lebih sering berpaut dengan notasi (balok/angka).
    • Madura: cengkok (lagu/ornamen) sangat menonjol, memberi karakter khas.

Aturan Dasar: Guru Lagu dan Guru Wilangan

  • Guru wilangan: jumlah suku kata per baris (gatra).
  • Guru lagu: vokal akhir setiap baris.
  • Aturan ini membentuk “pola” setiap tembang—membimbing penembang agar tidak keluar pakem. Di Madura, pola tetap dipegang namun cengkok memberi warna lokal.

11 Tembang Macapat (Kene’) di Madura

Variasi lokal sangat mungkin. Pola berikut disarikan dari naskah yang Anda kirim.

  • Salanget (Kinanti)
    • Watak: nasihat/kasih sayang; dorongan menuntut ilmu (agama & dunia).
    • Gatra: 6 baris; pola 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6u.
  • Pucung
    • Watak: ringan, jenaka, parikena; relasi atasan–bawahan yang manusiawi.
    • Gatra: 4 baris; 12u – 6a – 8i – 12a.
  • Mejil/Medjil (Mijil)
    • Watak: keprihatinan; nasehat kebesaran Tuhan.
    • Gatra: 6 baris; 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6u.
  • Maskumambang
    • Watak: “mengapung”; kepekaan pada fenomena alam, sedih-prihatin.
    • Gatra: 4 baris; 12i – 6a – 8i – 8a.
  • Durma
    • Watak: keras; pergulatan nafsu, tanggung jawab sosial.
    • Gatra: 7 baris; 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i.
  • Kasmaran (Asmaradana)
    • Watak: cinta, gembira, syukur, silaturahmi, ibadah.
    • Gatra: 7 baris; 8i – 8a – 8o – 8a – 7a – 8u – 8a.
  • Pangkor (Pangkur)
    • Watak: heroik–tegas; juga syukur, kejujuran, perawatan lingkungan.
    • Gatra: 7 baris; 8a – 11i – 8u – 7a – 12u – 8a – 8i.
  • Senom (Sinom)
    • Watak: romantis–sosial; rukun, maaf, ilmu & lurusnya laku.
    • Gatra: 9 baris; 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a.
  • Artate’ (Dhandanggula)
    • Watak: pengharapan menuju kebaikan; pemimpin adil; rezeki halal.
    • Gatra: 10 baris; 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a.
  • Megattro (Megatruh)
    • Watak: duka, renungan, hidayah & ketergantungan pada Tuhan.
    • Gatra: 5 baris; 12a – 8i – 8u – 8i – 8o. Catatan: di sumber lain awalnya 12u.
  • Gambuh (Gambu)
    • Watak: penjelasan/“wejangan”; bakti pada orang tua–guru.
    • Gatra: 5 baris; 7u – 10u – 12i – 8u – 8o.

Makna Tersurat & Tersirat

  • Iman–ilmu seimbang: Salanget menegaskan agama dan dunia harus berjalan serentak.
  • Kemanusiaan: Pucung mengingatkan keadilan pada yang lemah—bawahan/pelayan bagian dari sukses.
  • Introspeksi: Durma & Pangkor mengolah nafsu, kejujuran, dan disiplin ibadah (puasa).
  • Syukur & kosmos: Kasmaran mengajak menatap ciptaan—air, tanah, tumbuhan, fauna—sebagai nikmat.
  • Tatanan sosial: Senom merawat rukun, maaf, tenggang rasa; Gambuh menegaskan bakti pada orang tua–guru.

Praktik Pementasan di Madura

  • Momentum: hajatan desa—pelet kandung (selamatan kandungan), mamapar (potong gigi), khitan, rokat/ruwatan, perkawinan, peringatan hari besar Islam.
  • Durasi & waktu: 1 jam hingga semalam suntuk; umumnya malam hari.
  • Bahasa: Madura atau Jawa Kuna; panegges menjelaskan isi untuk pemahaman publik.
  • Iringan: laras pelog & slendro; seruling atau perangkat gending. Beberapa tembang dibawakan tanpa musik (acapella) sesuai konteks ritual.
  • Kurasi etika: suasana guyub—kopi, “setrup” (sirup), krupuk, rengginang, kacang sangngar, pisang; hindari ekses (alkohol/intrik) agar marwah budaya terjaga.

Glosarium Mini

  • Panegges: penterjemah/penafsir makna tembang di panggung.
  • Gatra (padde): baris dalam bait tembang.
  • Guru wilangan: jumlah suku kata per gatra.
  • Guru lagu: vokal akhir tiap gatra.
  • Tembang kene’: sebutan lokal untuk kelompok Macapat.

FAQ

Q: Apakah para Wali benar “menciptakan” semua tembang?

A: Itu adalah tradisi atribusi dalam narasi dakwah Nusantara. Esensinya, para Wali mempopulerkan dan memanfaatkan seni—termasuk tembang—sebagai medium pendidikan akhlak.

Q: Apa bedanya Macapat Jawa dan Madura?

A: Pakem guru lagu–wilangan sama, tapi gaya Madura menonjolkan cengkok/lagu dan penggunaan panegges. Variasi pola dan tafsir lirik juga hidup antar-daerah.

Q: Kapan Macapat biasa dibawakan?

A: Dari selamatan kandungan, khitan, mamapar, rokat, perkawinan, hingga maulid/PHBI—dengan pilihan tembang disesuaikan tema acara.

Q: Apakah harus pakai musik?

A: Tidak wajib. Beberapa ritual dibawakan tanpa musik; seruling/gending dipakai untuk memperkaya suasana.

Penutup

Macapat Madura bukan sekadar tembang; ia peta nilai. Dari Salanget hingga Gambuh, kita diajak menuntut ilmu, beradab, bersyukur, dan rukun. Menjaganya berarti merawat ruh dakwah yang teduh—agar generasi muda tetap akrab dengan kearifan leluhur.

Sumber : Tembang Macapat ( Macopat Madura )

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Tradisi Idul Adha di Madura: Mengupas Budaya Toron, Sejarah, dan Fenomena Mudik Lebaran Haji

Tradisi Idul Adha di Madura: Mengupas Budaya Toron, Sejarah, dan Fenomena Mudik Lebaran Haji

Tradisi Per-Peran Bikin Macet 1 Km di Jalur Mudik Madura, Ini Cerita di Baliknya

Tradisi Per-Peran Bikin Macet 1 Km di Jalur Mudik Madura, Ini Cerita di Baliknya