BerandaBudayaMacapat Madura: Warisan Wali Songo yang Menyapa Ilmu, Akhlak, dan Budaya
Macapat Madura: Warisan Wali Songo yang Menyapa Ilmu, Akhlak, dan Budaya
oleh MadurapediaAgustus 19, 2025 8:04 pm5 menit membacaDibaca 505 kali
Share this:
Ilustrasi Macopat Macapat madura (1)
Madura — Siapa sangka, tembang yang mendayu di serambi masjid dan rumah-rumah hajatan ini adalah medium dakwah yang halus namun kuat? Macapat, yang populer melalui misi budaya Wali Songo, bukan sekadar nyanyian: ia menanamkan ilmu, budi pekerti, dan ketakwaan—seraya merawat identitas orang Madura.
Catatan: Atribusi penciptaan tembang kepada para Wali bersandar pada tradisi lisan/populer. Penulisan berikut mengikuti naskah yang Anda kirim dan variasi yang hidup di masyarakat.
Macapat dan Dakwah Wali Songo
Media dakwah: gamelan, upacara, wayang, dan tembang (pujian/shalawatan) di surau menjelang salat.
Tradisi populer mengaitkan jenis-jenis tembang dengan para Wali:
Sunan Giri: Sinom (nur/cahaya hidup)
Sunan Kalijaga: Dhandanggula (harap pada “manis”/kebahagiaan)
Sunan Bonang: Durma (simbol pergulatan nafsu)
Sunan Murya: Pangkur (membasmi hati jahat)
Sunan Giri Parepen: Megatruh (meninggalkan yang kotor)
Sunan Giri Jati: Pucung (puncak rasa/kehendak)
Dll. (variasi atribusi ada di sejumlah daerah dan teks)
Macapat di Madura: Bahasa, Cengkok, dan Panegges
Asal-usul: berakar dari Macapat Jawa; di Madura dikenal, dikembangkan, dan dibawakan dalam bahasa Madura maupun Jawa Kuna (Kawi).
Dua praktik bahasa:
Diterjemahkan ke bahasa Madura.
Dibawakan dalam Jawa Kuna, lalu maknanya dijelaskan oleh panegges (penerjemah/penafsir).
Perbedaan gaya:
Jawa: syair lebih sering berpaut dengan notasi (balok/angka).
Madura: cengkok (lagu/ornamen) sangat menonjol, memberi karakter khas.
Aturan Dasar: Guru Lagu dan Guru Wilangan
Guru wilangan: jumlah suku kata per baris (gatra).
Guru lagu: vokal akhir setiap baris.
Aturan ini membentuk “pola” setiap tembang—membimbing penembang agar tidak keluar pakem. Di Madura, pola tetap dipegang namun cengkok memberi warna lokal.
11 Tembang Macapat (Kene’) di Madura
Variasi lokal sangat mungkin. Pola berikut disarikan dari naskah yang Anda kirim.
Salanget (Kinanti)
Watak: nasihat/kasih sayang; dorongan menuntut ilmu (agama & dunia).
Gatra: 6 baris; pola 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6u.
Pucung
Watak: ringan, jenaka, parikena; relasi atasan–bawahan yang manusiawi.
Gatra: 4 baris; 12u – 6a – 8i – 12a.
Mejil/Medjil (Mijil)
Watak: keprihatinan; nasehat kebesaran Tuhan.
Gatra: 6 baris; 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6u.
Maskumambang
Watak: “mengapung”; kepekaan pada fenomena alam, sedih-prihatin.
Tatanan sosial: Senom merawat rukun, maaf, tenggang rasa; Gambuh menegaskan bakti pada orang tua–guru.
Praktik Pementasan di Madura
Momentum: hajatan desa—pelet kandung (selamatan kandungan), mamapar (potong gigi), khitan, rokat/ruwatan, perkawinan, peringatan hari besar Islam.
Durasi & waktu: 1 jam hingga semalam suntuk; umumnya malam hari.
Bahasa: Madura atau Jawa Kuna; panegges menjelaskan isi untuk pemahaman publik.
Iringan: laras pelog & slendro; seruling atau perangkat gending. Beberapa tembang dibawakan tanpa musik (acapella) sesuai konteks ritual.
Kurasi etika: suasana guyub—kopi, “setrup” (sirup), krupuk, rengginang, kacang sangngar, pisang; hindari ekses (alkohol/intrik) agar marwah budaya terjaga.
Glosarium Mini
Panegges: penterjemah/penafsir makna tembang di panggung.
Gatra (padde): baris dalam bait tembang.
Guru wilangan: jumlah suku kata per gatra.
Guru lagu: vokal akhir tiap gatra.
Tembang kene’: sebutan lokal untuk kelompok Macapat.
FAQ
Q: Apakah para Wali benar “menciptakan” semua tembang?
A: Itu adalah tradisi atribusi dalam narasi dakwah Nusantara. Esensinya, para Wali mempopulerkan dan memanfaatkan seni—termasuk tembang—sebagai medium pendidikan akhlak.
A: Pakem guru lagu–wilangan sama, tapi gaya Madura menonjolkan cengkok/lagu dan penggunaan panegges. Variasi pola dan tafsir lirik juga hidup antar-daerah.
Q: Kapan Macapat biasa dibawakan?
A: Dari selamatan kandungan, khitan, mamapar, rokat, perkawinan, hingga maulid/PHBI—dengan pilihan tembang disesuaikan tema acara.
Q: Apakah harus pakai musik?
A: Tidak wajib. Beberapa ritual dibawakan tanpa musik; seruling/gending dipakai untuk memperkaya suasana.
Macapat Madura bukan sekadar tembang; ia peta nilai. Dari Salanget hingga Gambuh, kita diajak menuntut ilmu, beradab, bersyukur, dan rukun. Menjaganya berarti merawat ruh dakwah yang teduh—agar generasi muda tetap akrab dengan kearifan leluhur.
Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik.
Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.
Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik.
Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.
Ikutin Kami
What are you looking for?
Find some desired keywords.
Punya ide, opini, atau cerita menarik tentang Madura?
Tulis dan bagikan di Madurapedia.com! Kami percaya setiap tulisan punya kekuatan untuk menginspirasi. Yuk, jadi kontributor dan suarakan cerita Madura lewat tulisanmu