
Madura — Generasi muda banyak yang belum akrab dengan Sandur, sandiwara rakyat khas Madura. Padahal, di balik lenggak-lenggok “Panjak” dan nyanyian Kejungan yang mendayu, tersimpan kritik sosial yang tajam sekaligus tuntunan hidup. Artikel ini merangkum sinopsis Sandur, alasan kenapa Panjak kerap bukan perempuan, hingga etika Aremoh agar pertunjukan tetap bermartabat.
Catatan: Struktur dapat berbeda antar grup.
A: Secara tradisi banyak peran perempuan dimainkan laki-laki. Namun, kini sebagian komunitas mulai membuka ruang bagi perempuan—bergantung kesepakatan lokal.
A: Sama-sama teater rakyat, tapi Sandur bertumpu pada Kejungan (vokal khas Madura), humor lokal, dan format Aremoh yang sangat komunal.
A: Tradisi Sandur mengedepankan suguhan sederhana dan suasana kekeluargaan. Untuk menjaga martabat budaya dan keamanan, praktik alkohol sebaiknya dihindari.
A: Tidak selalu. Selain satir sosial, Kejungan juga memuat nasihat, doa, hingga pujian yang relevan dengan konteks acara.
Sandur bukan sekadar hiburan malam. Ia cermin masyarakat Madura: lugas, egaliter, dan penuh kearifan. Menjaganya berarti merawat etika Aremoh, memuliakan Kejungan, dan memastikan panggung tetap ramah—tanpa intrik, tanpa ekses.