Sandur-Sandiwara Madura: Sinopsis, “Panjak” Bukan Perempuan, Kejungan Satir, dan Etika Aremoh

Sandur-Sandiwara Madura: Sinopsis, “Panjak” Bukan Perempuan, Kejungan Satir, dan Etika Aremoh
Suasana Aremoh dengan suguhan tradisional

Madura — Generasi muda banyak yang belum akrab dengan Sandur, sandiwara rakyat khas Madura. Padahal, di balik lenggak-lenggok “Panjak” dan nyanyian Kejungan yang mendayu, tersimpan kritik sosial yang tajam sekaligus tuntunan hidup. Artikel ini merangkum sinopsis Sandur, alasan kenapa Panjak kerap bukan perempuan, hingga etika Aremoh agar pertunjukan tetap bermartabat.

Apa itu Sandur?

  • Teater rakyat Madura yang memadukan tari, nyanyi, lawak, dan improvisasi.
  • Ditampilkan dalam suasana Aremoh (keramaian/hajatan)—dari panen, khitan, hingga syukuran.
  • Fungsi ganda: tontonan sekaligus tuntunan; menyampaikan sindiran dan pesan moral yang relevan dengan kondisi sosial setempat.
  • Variasi lokal: format adegan, iringan musik, dan gaya tutur dapat berbeda antarkecamatan/kabupaten.

Mengapa “Panjak” Sering Bukan Perempuan?

  • Tradisi panggung Nusantara (ludruk, ketoprak, wayang orang) lama mengenal “peran wanita” yang dimainkan laki-laki. Di Sandur, Panjak (penyanyi/pelaku) kerap laki-laki yang memerankan karakter perempuan (sering disebut panjak binek—gaya perempuan).
  • Alasan historis:
    • Norma sosial masa lalu membatasi tampilnya perempuan di ruang publik malam hari.
    • Kebutuhan teknik vokal (Kejungan) dan stamina pertunjukan yang panjang.
    • Pola kelompok keliling yang didominasi laki-laki.
  • Kini, di beberapa tempat mulai ada keterlibatan perempuan, tetapi sifatnya sangat bergantung pada komunitas dan kesepakatan lokal.

Aremoh: Tatanan Sosial dan Etika Pementasan

  • Dahulu: suguhan sederhana—kopi, “setrup” (syrup), krupuk, rengginang, kacang sangrai, beberapa tandan pisang. Suasana guyub, tanpa minuman beralkohol.
  • Kekinian: intrik dan potensi pengaruh negatif (mis. alkohol) perlu dipersempit agar tidak melenceng dari nilai budaya.
  • Prinsipnya: kembali pada ruh Sandur—ramai, santun, dan aman bagi semua.

Iringan dan Kejungan: Antara Estetika dan Satir

  • Iringan: tabuhan ritmis (kendhang/ketipung/kecrek), kadang instrumen tiup atau petik—variatif antar daerah.
  • Kejungan: gaya vokal khas Madura; melodi mendayu yang menyisipkan kritik sosial, nasihat, dan humor. Inilah jantung Sandur—tontonan yang sekaligus tuntunan.

Sportivitas, Antrian, dan “Klebun”

  • Tata urutan tampil dijunjung tinggi; tidak saling mendahului.
  • Konflik antar-kelompok diselesaikan secara win-win melalui orang tua asuh/ketua kelompok yang disebut “Klebun”.
  • Nilai utama: saling hormat, menjaga marwah pertunjukan, dan rukun.

Sinopsis Sandur (Alur Umum Pementasan)

Catatan: Struktur dapat berbeda antar grup.

  1. Pembuka: salam dan pengenalan tokoh/tema oleh dalang/penutur.
  2. Adegan lawak: banyolan dan interaksi dengan penonton, memanaskan suasana.
  3. Tembang Kejungan: Panjak (sering bergaya binek) menyampaikan kritik sosial dan nasihat.
  4. Tari/lenggak Panjak: ekspresi tubuh yang gemulai, memikat, sekaligus simbolis.
  5. Klimaks: konflik kecil diselesaikan—pesan moral ditegaskan.
  6. Penutup: doa/ucapan terima kasih, kembali ke rukun dan harmoni.

Pelestarian: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  • Dokumentasi: rekam Kejungan, arsipkan lirik, dan profil panjak senior.
  • Kelas komunitas: workshop Kejungan dan akting Sandur untuk remaja.
  • Kurasi etika Aremoh: tanpa alkohol, suguhan tradisional, area keluarga.
  • Peran Klebun: perkuat moderasi dan mediasi agar pertunjukan kondusif.
  • Kolaborasi: gandeng sekolah, sanggar, dan pemerintah daerah untuk festival Sandur.

Glosarium Mini

  • Sandur: sandiwara/teater rakyat Madura.
  • Aremoh: hajatan/keramaian.
  • Panjak: pelaku/penyanyi dalam Sandur (sering memerankan gaya perempuan).
  • Panjak binek: panjak bergaya perempuan (bhinè = perempuan).
  • Kejungan: gaya vokal/tembang khas Madura.
  • Klebun: orang tua asuh/ketua kelompok.

FAQ

Q: Apakah perempuan boleh tampil sebagai Panjak?

A: Secara tradisi banyak peran perempuan dimainkan laki-laki. Namun, kini sebagian komunitas mulai membuka ruang bagi perempuan—bergantung kesepakatan lokal.

Q: Bedanya Sandur dengan ludruk atau ketoprak?

A: Sama-sama teater rakyat, tapi Sandur bertumpu pada Kejungan (vokal khas Madura), humor lokal, dan format Aremoh yang sangat komunal.

Q: Bolehkah ada minuman beralkohol saat Aremoh?

A: Tradisi Sandur mengedepankan suguhan sederhana dan suasana kekeluargaan. Untuk menjaga martabat budaya dan keamanan, praktik alkohol sebaiknya dihindari.

Q: Apakah isi Kejungan selalu kritik sosial?

A: Tidak selalu. Selain satir sosial, Kejungan juga memuat nasihat, doa, hingga pujian yang relevan dengan konteks acara.

Penutup

Sandur bukan sekadar hiburan malam. Ia cermin masyarakat Madura: lugas, egaliter, dan penuh kearifan. Menjaganya berarti merawat etika Aremoh, memuliakan Kejungan, dan memastikan panggung tetap ramah—tanpa intrik, tanpa ekses.

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Tradisi Idul Adha di Madura: Mengupas Budaya Toron, Sejarah, dan Fenomena Mudik Lebaran Haji

Tradisi Idul Adha di Madura: Mengupas Budaya Toron, Sejarah, dan Fenomena Mudik Lebaran Haji

Tradisi Per-Peran Bikin Macet 1 Km di Jalur Mudik Madura, Ini Cerita di Baliknya

Tradisi Per-Peran Bikin Macet 1 Km di Jalur Mudik Madura, Ini Cerita di Baliknya