
Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, bukanlah desa biasa. Sejak masa lampau, kawasan ini sudah identik dengan nuansa religius dan sakral. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari sosok agung bernama Kiai Abdullah, atau yang lebih populer disebut Bindara Bungso.
Dialah tokoh yang pertama kali membabat tanah Batuampar, hingga kemudian namanya harum dan dikenang sebagai Kiai Agung Batuampar—salah satu ulama berpengaruh di Madura.
Bindara Bungso lahir dari keluarga ulama terhormat. Ibunya merupakan saudara perempuan dari Kiai Raba (Kiai Abdurrahman), seorang tokoh agama di Pamekasan. Sedangkan ayahnya adalah Kiai Abdul Qidam (Kiai Arsoji), yang pusaranya berada di Kecamatan Larangan, Pamekasan.
Sejak kecil, Bindara Bungso dikenal cerdas. Kecerdasannya membuat ia dipercaya sang paman, Kiai Raba, untuk menggantikan perannya mengajar para santri. Namun jalan hidupnya berubah ketika ia diminta pindah ke sebuah wilayah baru, yang kelak dikenal dengan nama Batuampar.
Nama Batuampar ternyata merujuk pada kondisi geografis di masa awal. Tempat itu berupa hamparan batu (dalam bahasa Madura disebut batu ngampar). Di sanalah Bindara Bungso mendirikan sebuah gubuk sederhana sekaligus mulai mengabdikan diri sebagai tabib.
Pendekatan dakwahnya berbeda dari kebanyakan ulama. Ia tidak langsung mengajarkan agama, melainkan terlebih dahulu membantu masyarakat yang ketika itu hidup jauh dari nilai-nilai Islam.
Karisma Bindara Bungso semakin dikenal karena berbagai peristiwa menakjubkan. Banyak warga yang datang membawa beragam masalah—dari penyakit hingga kesulitan ekonomi—dan memperoleh pertolongan melalui doa-doanya.
Warga yang sakit gigi sembuh seketika, mereka yang sakit parah kembali pulih, bahkan orang yang kesulitan rezeki tiba-tiba mendapat jalan keluar. Karomah inilah yang membuat namanya harum hingga ke pusat pemerintahan Sumenep.
Tidak heran bila penguasa Sumenep kala itu sangat menghormatinya, bahkan menghadiahkan tanah Batuampar untuknya. Dari sinilah julukan Kiai Agung Batuampar mulai melekat kuat.
Seiring waktu, masyarakat bukan hanya datang untuk mencari obat dan solusi hidup, melainkan juga untuk belajar agama. Awalnya hanya berupa langgar kecil, tempat itu akhirnya berkembang menjadi sebuah masjid megah—yang masih berdiri kokoh hingga hari ini di Batuampar.
Masjid tersebut menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol warisan abadi Kiai Agung Batuampar.
Kiai Agung Batuampar tidak hanya meninggalkan warisan spiritual, tetapi juga garis keturunan ulama. Ia memiliki tiga istri dan beberapa putra-putri. Salah satunya adalah Bindara Saut, tokoh legendaris Keraton Sumenep.
Keturunan beliau kini tersebar luas di Madura hingga wilayah tapal kuda Jawa Timur. Bahkan, banyak kiai pesantren kuno di Sumenep dan Pamekasan yang masih merupakan keturunan Bindara Bungso.
Kisah Kiai Agung Batuampar adalah bukti bahwa dakwah tidak selalu berawal dari mimbar, melainkan juga dari kepedulian sosial. Dengan pendekatan empati, pelayanan, dan doa, beliau berhasil mengubah masyarakat Batuampar menjadi lebih dekat kepada agama.
Warisan beliau tidak hanya berbentuk masjid dan jejak sejarah, tetapi juga inspirasi hidup bahwa pengabdian tulus akan tetap dikenang lintas generasi.
Sumber Artikel: https://sumenepkab.go.id/berita/baca/napak-tilas-tanah-kiai-agung-batuampar