Kisah Kiai Agung Batuampar | Ulama Karismatik & Legenda Sumenep

Kisah Kiai Agung Batuampar | Ulama Karismatik & Legenda Sumenep
Asta Bindara Ibrahim alias Kiai Saba yang berada di kawasan asta utama Batuampar, Kecamatan Guluk-guluk Sumenep. Sumber Foto (Mamira.ID)

Desa Batuampar, Jejak Sejarah di Tanah Sumenep

Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, bukanlah desa biasa. Sejak masa lampau, kawasan ini sudah identik dengan nuansa religius dan sakral. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari sosok agung bernama Kiai Abdullah, atau yang lebih populer disebut Bindara Bungso.

Dialah tokoh yang pertama kali membabat tanah Batuampar, hingga kemudian namanya harum dan dikenang sebagai Kiai Agung Batuampar—salah satu ulama berpengaruh di Madura.

Asal-usul Bindara Bungso, Cucu Ulama Besar dari Pamekasan

Bindara Bungso lahir dari keluarga ulama terhormat. Ibunya merupakan saudara perempuan dari Kiai Raba (Kiai Abdurrahman), seorang tokoh agama di Pamekasan. Sedangkan ayahnya adalah Kiai Abdul Qidam (Kiai Arsoji), yang pusaranya berada di Kecamatan Larangan, Pamekasan.

Sejak kecil, Bindara Bungso dikenal cerdas. Kecerdasannya membuat ia dipercaya sang paman, Kiai Raba, untuk menggantikan perannya mengajar para santri. Namun jalan hidupnya berubah ketika ia diminta pindah ke sebuah wilayah baru, yang kelak dikenal dengan nama Batuampar.

Mengapa Disebut Batuampar?

Nama Batuampar ternyata merujuk pada kondisi geografis di masa awal. Tempat itu berupa hamparan batu (dalam bahasa Madura disebut batu ngampar). Di sanalah Bindara Bungso mendirikan sebuah gubuk sederhana sekaligus mulai mengabdikan diri sebagai tabib.

Pendekatan dakwahnya berbeda dari kebanyakan ulama. Ia tidak langsung mengajarkan agama, melainkan terlebih dahulu membantu masyarakat yang ketika itu hidup jauh dari nilai-nilai Islam.

Tabib Karismatik dengan Karomah

Karisma Bindara Bungso semakin dikenal karena berbagai peristiwa menakjubkan. Banyak warga yang datang membawa beragam masalah—dari penyakit hingga kesulitan ekonomi—dan memperoleh pertolongan melalui doa-doanya.

Warga yang sakit gigi sembuh seketika, mereka yang sakit parah kembali pulih, bahkan orang yang kesulitan rezeki tiba-tiba mendapat jalan keluar. Karomah inilah yang membuat namanya harum hingga ke pusat pemerintahan Sumenep.

Tidak heran bila penguasa Sumenep kala itu sangat menghormatinya, bahkan menghadiahkan tanah Batuampar untuknya. Dari sinilah julukan Kiai Agung Batuampar mulai melekat kuat.

Dari Tabib ke Guru Agama

Seiring waktu, masyarakat bukan hanya datang untuk mencari obat dan solusi hidup, melainkan juga untuk belajar agama. Awalnya hanya berupa langgar kecil, tempat itu akhirnya berkembang menjadi sebuah masjid megah—yang masih berdiri kokoh hingga hari ini di Batuampar.

Masjid tersebut menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol warisan abadi Kiai Agung Batuampar.

Keturunan yang Menyebar Luas di Madura

Kiai Agung Batuampar tidak hanya meninggalkan warisan spiritual, tetapi juga garis keturunan ulama. Ia memiliki tiga istri dan beberapa putra-putri. Salah satunya adalah Bindara Saut, tokoh legendaris Keraton Sumenep.

Keturunan beliau kini tersebar luas di Madura hingga wilayah tapal kuda Jawa Timur. Bahkan, banyak kiai pesantren kuno di Sumenep dan Pamekasan yang masih merupakan keturunan Bindara Bungso.

Warisan Spiritual dan Inspirasi Zaman Kini

Kisah Kiai Agung Batuampar adalah bukti bahwa dakwah tidak selalu berawal dari mimbar, melainkan juga dari kepedulian sosial. Dengan pendekatan empati, pelayanan, dan doa, beliau berhasil mengubah masyarakat Batuampar menjadi lebih dekat kepada agama.

Warisan beliau tidak hanya berbentuk masjid dan jejak sejarah, tetapi juga inspirasi hidup bahwa pengabdian tulus akan tetap dikenang lintas generasi.

Sumber Artikel: https://sumenepkab.go.id/berita/baca/napak-tilas-tanah-kiai-agung-batuampar

Hastag
Sumenep

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Niat Salat Idul Adha untuk Imam, Makmum, dan Sendiri: Tata Cara & Hukumnya

Niat Salat Idul Adha untuk Imam, Makmum, dan Sendiri: Tata Cara & Hukumnya

Perdebatan Mengenai Doa: Antara Harapan Langit atau Ikhtiar Bumi?

Perdebatan Mengenai Doa: Antara Harapan Langit atau Ikhtiar Bumi?

Santri Sumenep Antusias Ikuti Lomba Hafalan Al-Qur’an 2025

Santri Sumenep Antusias Ikuti Lomba Hafalan Al-Qur’an 2025

Bulan Dzulqa’dah: Bulan Takepek yang Dipercaya Tidak Baik untuk Menikah oleh Masyarakat Madura

Bulan Dzulqa’dah: Bulan Takepek yang Dipercaya Tidak Baik untuk Menikah oleh Masyarakat Madura