
Mentadabburi pertanyaan dari taretan Rizqi Nurhuda Ramadhani lalu yang mengritik konsep catur warna, lewat tulisan ini saya melanjutkan.
Yaitu terkait pendidikan poskolonial dengan konsep pemahaman pendidikan pada masa kerajaan hindu-budha.
Pertama dimulai dari pemahaman tentang konsep “catur warna” yang dikemukakan dalam tulisan saya sebelumnya.
Ada baiknya kita tadabburi bersama tentang apa sebenarnya ilmu titen itu, apa sebenarnya catur warna, dan bagaimana leluhur kita menjalani kehidupannya yang selaras dengan alam.
Saudara Rizqi Nurhuda Ramadhani menyampaikan bahwa konsep catur warna itu adalah pemahaman kuno yang sebaiknya dimuseumkan sebagai artefak peninggalan leluhur.
Ia mengungkapkan bahwa konsep catur warna merupakan ilmu titen yang tidak memiliki dasar keilmuan secara jelas seperti adanya pengetahuan-pengetahuan modern.
Ilmu yang tidak bersifat saintifik, tidak melalui uji coba kajian psikologi klinis dan lain sebagainya yang mana hal tersebut dikhawatirkan akan membawa dampak yang buruk terhadap pertumbuhan psikologi anak.
Menurut saya, sebelum mendoktrin bahwa konsep catur warna ini tidak memiliki dasar yang jelas. Ada baiknya untuk lebih dulu mengkaji ulang tentang pemahaman kita yang terlalu modernisasi.
Terutama bahwa setiap apa-apa harus memiliki dasar pemikiran yang jelas dan harus melalui serangkaian uji coba yang mungkin hal itu bisa bersifat lebih egosentris.
Sampai saat ini kita terjebak dalam kondisi mainstream yang akut bahwa nilai-nilai kearifan leluhur yang telah diwariskan harus terlebih dahulu melewati berbagai proses untuk kemudian dapat dilegalkan dan diterapkan.
Padahal kita paham bahwa zaman modern itu penuh dengan kerakusan dan eksploitasi.
Kita terlalu nyaman dengan pengetahuan yang berjiwa tekstual, administratif, dan penuh kebisingan sampai lupa bahwa nilai-nilai kearifan yang telah diwariskan oleh para leluhur kita kubur begitu saja.
Menurut penulis, ini adalah penyakit yang dialami oleh manusia modern bahwa segala sesuatu yang tidak tertulis dan terverifikasi secara Internasional tidak diakui akan keberadaan dan kebenarannya dalam sejarah.
Hal ini yang kemudian disebut dengan Hegemoni Sejarah Nusantara. Padahal masih banyak naskah-naskah kuno (Lontar) yang mengajarkan banyak konsep, baik dalam hal kesadaran, pengetahuan, politik, bahkan teknologi di saat itu.
Apabila kita gunakan agama sebagai dalih dalam hal ini, mukjizat para rasul itu sangat tidak berdasar, namun dari situ kita dapat melakukan muhasabah untuk kembali ke dalam diri.
Penulis memiliki pemahaman bahwa Ilmu Titen itu mengajarkan tentang kebijaksanaan dan cara memahami ritme kehidupan dengan intuisi yang dibangun dari alam sekitar.
Saudara Rizqi dalam kritikannya menyampaikan pemikiran dari tokoh pendidikan bernama Paulo Friere tentang pendidikan yang memerdekakan.
Perlu penulis tegaskan bahwa jauh sebelum tokoh ini lahir, sudah ada seorang pejuang pendidikan dari tanah air yang bernama Raden Mas Swardi Suryaningrat yang kita kenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional hingga saat ini (Ki Hajar Dewantara).
Dengan filosofi pendidikan memerdekakan yang beliau terapkan di Taman Siswa (saat itu), yaitu bagaimana Ki Hajar Dewantara mengkombinasi pengetahuan-pengetahuan modern yang beliau dapatkan di Negeri Eropa dengan kearifan-kearifan tanah air.
Misalnya seperti Gending Sultan Agung yang kemudian disebut dengan sistem Sariswara.
Kemudian juga terdapat Trisaksi Jiwa yang mana beliau adopsi dari konsep Upanisad yaitu model pendidikan pada masa Hindu, serta semboyan “Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.
Taman Siswa hadir sebagai bentuk perlawanan akan pendidikan kaum kolonial yang penuh dengan diskriminasi terhadap putera puteri tanah air.
Oleh karena itu, berbagai ide yang telah disampaikan pada tulisan sebelumnya bukanlah ajang untuk keren-kerenan semata akan tetapi mengajak untuk kembali pada diri kita sendiri sebagai Bangsa yang Arif dan benar-benar kembali menerapkan konsep pendidikan yang Ki Hajar Dewantara ajarkan.
Falsafah Madura “Bhapa’ Babhu’ Ghuru Rato” mengajarkan kita memiliki kesadaran akan peran dari masing-masing.
Sejauh yang saya ketahui sampai saat ini masih banyak anak-anak kita yang tidak tahu akan kearifan falsafah tersebut.
Bahkan beberapa anak-anak yang saya temui tidak pernah mendengar istilah tersebut. Betapa memprihatinkan Pendidikan anak-anak kita yang semakin menjauhkan mereka akan jati diri mereka masing-masing.
Mengutip pernyataan seorang Dalang Ternama Tanah Air yaitu Mbah Sujiwo Tedjo, bahwa Catur Warna ini adalah konsep kesadaran yang diajarkan para leluhur.
Bahwasanya Seorang Brahmana itu memiliki cara berpikir yang sangat luas yaitu “Bangsa”, Ksatria adalah seorang “Negarawan” yang terus mengorbankan hidupnya untuk kebaikan Negaranya, Weisya adalah seorang yang memiliki keasadaran hanya tentang “Kelompok, Golongan atau Keluarganya” saja dan Sudra adalah kesadaran dengan yang hanya memikirkan “Dirinya Sendiri” semasa hidupnya.
Jadi sangat disayangkan jika konsep kesadaran yang begitu mendalam ini hanya dijadikan sebuah artefak dalam cerita tanpa makna karena konsep kesadaran ini sangat dibutuhkan melihat kondisi mental dan karakter generasi saat ini.
Memahami manusia tidak cukup hanya bermodal dan berdasar pada pandangan Intelektual saja.
Dalam peradaban Jawa, terdapat konsep Panca Maya Kosa yaitu 5 Tubuh Manusia.
Mungkin sampai saat ini belum ada cabang ilmu pengetahuan modern yang bisa mengkonfirmasi ketepatan konsep tersebut.
Bahkan dalam sains sodern pun belum mampu membuktikan apakah konsep tersebut salah.
Di jaman modernitas dan banjir informasi seperti saat ini, kita sering terjebak dalam dikotomi pikiran sehingga seringkali menganggap bahwa apa yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan modern maka dianggap sebagai cerita mitos.
Lebih jauh lagi, ada rumusan bahwa konsep yang belum terbukti benar bukan berarti konsep tersebut keliru.
Terkait tulisan sebelumnya tentang konsep Catur Warna dalam Pendidikan Karakter Siswa, saya sangat setuju dengan pendapat saudara Rizqi bahwa dalam penerapan konsep ini tidak bisa sembrono.
Sebab, melihat sampai saat ini pemahaman generasi kita akan catur warna ini adalah tentang Perbedaan Kasta atau Status Sosial.
Oleh karena itu penulis mengajak para pemerhati pendidikan di manapun untuk kembali membuka mata akan warisan leluhur dengan hati yang jernih.
Kemajuan zaman dan pesatrnya teknologi informasi bukan berarti membuat kita jadi buta mata dan buta hati akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan.
Kami keluarga Jhembhar Ate Sampang dengan senang hati bersedia untuk bersama duduk melingkar dan berdiskusi.
“Apolong, Masepa’, Nyassa Aba’“.
Oleh Hatimatul Munawwaroh & Arie Ahonk