
MADURAPEDIA – Rokat Tase’ atau Rokat Laut adalah ritual adat tahunan masyarakat pesisir Madura, terutama di Kabupaten Sumenep dan Sampang.
Jika Anda penasaran dengan tradisi laut Madura, simak ulasan lengkap tentang apa, kapan, dan di mana Rokat Tase’ dilaksanakan.
Di tengah kekayaan budaya agrarisnya, Madura juga menyimpan tradisi bahari yang dalam dan penuh makna. Salah satu yang paling mengakar dan masih lestari hingga kini adalah Rokat Tase’.
Tradisi ini bukan sekadar festival, melainkan sebuah ritus sakral.
Bukan ritus agama, namun budaya yang menjadi penanda hubungan spiritual antara masyarakat pesisir Madura dengan laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki laut dan doa untuk keselamatan para nelayan.
Rokat Tase’ (dibaca: ro-kat ta-sè’) adalah upacara adat atau ritual tolak bala yang dilakukan oleh komunitas nelayan Madura.
Kata “rokat” berasal dari bahasa Arab “ruqyah” yang berarti jampi atau doa, sementara “tase’” berarti laut.
Secara harfiah, tradisi ini dapat dimaknai sebagai “upacara pemberian doa untuk laut”.
Laut merupakan simbol dari kekuatan sang maha besar Allah, yang tertuang dalam keyakinan hablum minal alam bagi orang Madura.
Intinya adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki melimpah dari hasil tangkapan ikan di laut dan permohonan keselamatan agar terhindar dari marabahaya selama melaut.
Ritual ini merefleksikan filosofi hidup orang Madura yang meski dikenal tangguh, tetap menyadari keberadaan kekuatan yang lebih besar dan pentingnya harmoni dengan alam.
Waktu pelaksanaan Rokat Tase’ tidak seragam di seluruh pesisir Madura, namun umumnya berlangsung pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriyah (Islam).
Puncak pelaksanaannya sering kali jatuh pada bulan Sya’ban, menyambut datangnya bulan Ramadan.
Ada pula daerah yang melaksanakannya di bulan Muharram (Suro) atau pada hari-hari besar Islam lainnya.
Penentuan waktu ini bukan tanpa alasan. Bulan Sya’ban dianggap sebagai bulan penuh pengampunan dan persiapan menyambut Ramadan, sehingga menjadi momen yang tepat untuk bersyukur dan memohon berkah.
Selain itu, periode ini juga sering bertepatan dengan musim paceklik atau angin barat yang besar, sehingga upacara juga berfungsi sebagai ritual tolak bala agar laut kembali tenang dan memberikan rezeki.
Rokat Tase’ paling hidup dan dikenal di daerah-daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat pelabuhan dan budaya bahari Madura. Berikut adalah dua lokasi utama perayaan:
| Lokasi | Ciri Khas Perayaan |
|---|---|
| Kalianget, Sumenep | Seringkali menjadi lokasi perayaan terbesar dengan prosesi lengkap. Dulu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sumenep. |
| Sampang | Memiliki variasi lokal dengan prosesi yang khas. Sering melibatkan sedekah kepala kerbau ke laut sebagai simbol pengorbanan. |
Selain kedua lokasi itu, desa-desa pesisir lain di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan juga memiliki tradisi Rokat Tase’ dengan skala dan karakteristik masing-masing.
Pelaksanaan Rokat Tase’ merupakan sebuah ritual kolektif yang melibatkan seluruh komunitas.
Mulai dari sesepuh, nelayan, hingga pemerintah daerah. Prosesinya adalah perpaduan antara unsur Islam dan kepercayaan lokal, yang dapat dirinci sebagai berikut:
Makna terdalam dari seluruh rangkaian ini adalah menjaga keseimbangan kosmis (laut-manusia-Tuhan) dan memperkuat solidaritas sosial dalam komunitas nelayan.
Di era modern, nilai Rokat Tase’ tidak luntur. Justru, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pemerintah daerah, seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, aktif mendokumentasikan dan mempromosikannya.
Rokat Tase’ kini juga menjadi salah satu event budaya andalan yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kehadiran wisatawan diharapkan tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga meningkatkan kebanggaan masyarakat lokal untuk terus melestarikan warisan leluhur mereka.
Inisiatif pelestarian juga datang dari kalangan akademisi, seperti penelitian yang dilakukan oleh Universitas Trunojoyo Madura untuk mendokumentasikan nilai-nilai filosofis dalam tradisi ini.
Jadi, jika Anda mencari pengalaman budaya yang autentik dan penuh makna di Madura, jangan lewatkan untuk menyaksikan Rokat Tase’.
Saksikan langsung bagaimana laut, doa, dan gotong royong menyatu dalam satu ritual yang memukau.
Sesaji (ancak) dalam Rokat Tase’ adalah simbolisasi dari rasa syukur dan permohonan. Setiap item memiliki makna: hasil bumi dan laut melambangkan rezeki yang diberikan, kepala hewan melambangkan pengorbanan, dan miniatur perahu melambangkan harapan untuk perahu yang selalu diberkahi. Intinya adalah bukan menyembah laut, tetapi bersedekah sebagai wujud terima kasih.
Tidak. Meski nelayan adalah pelaku utama, Rokat Tase’ adalah acara seluruh masyarakat desa pesisir. Semua kalangan terlibat, mulai dari persiapan, pembiayaan (dengan sistem iuran/patungan), hingga pelaksanaan. Tradisi ini memupuk rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial warga.
Wisatawan sangat disambut, namun perlu menjaga sikap: berpakaian sopan dan sederhana, mengikuti arahan panitia setempat, tidak menghalangi prosesi atau mengambil foto secara intrusive saat momen-momen doa dan larungan inti, serta menunjukkan rasa hormat terhadap keyakinan dan adat masyarakat setempat.
Referensi:
[1] Kajian Nilai Filosofis dalam Tradisi Rokat Tase’ (Studi di Desa…. Universitas Trunojoyo Madura). http://repository.trunojoyo.ac.id/ (Digunakan sebagai sumber primer akademik).