
KH. Bahaudin Mudhary adalah salah satu ulama dan intelektual Muhammadiyah terkemuka asal Kabupaten Sumenep. Beliau dikenal memiliki kedalaman spiritual dan pandangan filosofis yang unik, salah satunya tercermin dalam konsep “Tera’ ta’ Adhamar” atau Terang Tanpa Lentera — sebuah istilah yang diberikan oleh sastrawan Madura, Dr. Zawawi Imron.
Istilah ini menjadi simbol perjalanan spiritual dan intelektual beliau, yang sarat makna tentang pencarian cahaya kebenaran di tengah gelapnya kehidupan.
Secara bahasa, Tera’ ta’ Adhamar berarti Terang Tanpa Lentera.
Dalam tradisi Madura, istilah ini juga dimaknai “ladunni” — ilmu yang diperoleh tanpa guru langsung, tetapi melalui ilham dan pemahaman mendalam dari Allah SWT.
Bagi KH. Bahaudin Mudhary, Terang Tanpa Lentera menggambarkan kondisi di mana seseorang mampu memahami kebenaran tanpa perantara, mengandalkan kekuatan batin dan ketajaman hati.
Filosofi ini mengajarkan kita untuk:
Sebagai tokoh Muhammadiyah, KH. Bahaudin menerapkan filosofi ini dalam berbagai bidang:
Mendorong siswa dan mahasiswa untuk belajar mandiri, memaksimalkan potensi diri demi mencapai pencerahan akademis dan moral.
Menginspirasi tindakan sosial yang tulus tanpa pamrih, dilandasi cahaya batin yang memandu ke jalan kebaikan.
KH. Bahaudin Mudhary dikenal bukan hanya sebagai kyai, tetapi juga pemikir, pendidik, dan pejuang sosial. Karya dan ajarannya mencakup:
Filosofi Terang Tanpa Lentera menjadi benang merah dari seluruh kiprah beliau, mengajarkan bahwa cahaya sejati selalu datang dari dalam diri yang dekat dengan Tuhan.
Perjalanan hidup KH. Bahaudin Mudhary membuktikan bahwa ilmu dan pencerahan tidak selalu membutuhkan lentera fisik. Tera’ ta’ Adhamar adalah ajakan untuk menggali potensi batin, mencari cahaya kebenaran, dan menjadi pribadi yang mandiri secara spiritual maupun intelektual.
Filosofi ini relevan untuk semua zaman — mengingatkan kita bahwa dalam gelapnya ujian hidup, selalu ada cahaya yang bisa ditemukan jika hati kita terbuka.