
MADURAPEDIA – Fuad Amin Imron adalah sosok yang sulit dilepaskan dari sejarah politik dan sosial Madura. Ia lahir dari darah biru pesantren, dibesarkan dalam tradisi blater, dan berkuasa dengan kekuatan politik modern. Kombinasi tiga dunia inilah yang membuatnya begitu disegani—sekaligus menuai kontroversi.
Fuad Amin lahir di Bangkalan, 1 September 1948, dari keluarga ulama terpandang. Ia adalah cicit Syaikhona Kholil, ulama besar yang menjadi guru dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bahkan menyebut Fuad sebagai bagian dari keluarga besar yang wajib dihormati. “Beliau cicit inisiator pendiri NU, pasti kita menghormati seluruh keluarga besar beliau,” ujarnya (Antara, 2019).
Warisan spiritual ini menjadi modal besar bagi Fuad Amin untuk membangun pengaruh di kalangan Nahdliyin Madura, terutama di Bangkalan yang dikenal religius dan patuh pada keturunan kiai.
Selain darah ulama, Fuad juga dikenal memiliki jiwa blater—istilah lokal untuk jawara atau jagoan Madura. Dalam masyarakat, blater adalah simbol keberanian, kekuatan, dan ketegasan.
Menurut Abdur Rozaki dalam buku Menabur Kharisma Menuai Kuasa (2004), blater bukan sekadar preman, tapi figur sosial yang dihormati karena keberaniannya menjaga kehormatan dan harga diri desa.
Perpaduan antara kiai, priyayi, dan blater menjadikan Fuad Amin sebagai sosok “kiai blater”—seorang ulama sekaligus penguasa yang berani. Julukan ini melekat setelah ia memenangkan Pilkada Bangkalan tahun 2003 dan kembali terpilih pada 2008.
Karier politik Fuad Amin dimulai di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dulu dipimpin ayahnya, KH Amin Imron. Ia lalu beralih ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bersama Gus Dur, hingga akhirnya ke Partai Gerindra saat era Prabowo Subianto.
Selama dua periode menjadi Bupati Bangkalan (2003–2013), ia dikenal sebagai penguasa kuat dengan jaringan yang nyaris tak tertandingi. Setelah tak lagi menjabat, ia masih memegang kendali politik sebagai Ketua DPRD Bangkalan (2014–2019)—sementara kursi bupati dipegang oleh anaknya, Makmun Ibnu Fuad (Ra Momon).
Dua pucuk kekuasaan itu membuat keluarga Fuad disebut-sebut menguasai Bangkalan secara penuh.
Namun perjalanan Fuad Amin berakhir pahit. Pada 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkapnya atas dugaan suap dan pencucian uang. Pengadilan Tipikor menjatuhkan vonis 13 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, serta perampasan seluruh asetnya untuk negara.
Kehidupannya berakhir di Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, Senin (16/9/2019), dalam usia 71 tahun akibat serangan jantung. Ia dimakamkan di Bangkalan keesokan harinya.
Meski meninggal sebagai terpidana, nama Fuad Amin tetap dikenang—bagi sebagian orang sebagai penguasa yang karismatik, bagi yang lain sebagai peringatan bahwa darah ulama tidak menjamin bebas dari godaan kekuasaan.
Fuad Amin adalah cerminan Madura dalam tiga wajah: religius, keras, dan politis. Ia menggunakan privilese keturunan Syaikhona Kholil untuk menapaki tangga kekuasaan, namun terjerat oleh sistem yang menuntut transparansi modern.
Kasusnya menjadi pengingat bahwa privilese keturunan tidak lebih tinggi dari nilai kejujuran dan amanah. Seperti pesan dalam Al-Qur’an (Al-Hujurat:13):
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”
Ia adalah mantan Bupati Bangkalan dua periode, cicit ulama besar Syaikhona Kholil, dan tokoh berpengaruh di Madura.
Ia dijuluki “kiai blater”, karena menggabungkan peran kiai (ulama), priyayi (elit), dan blater (jawara).
Ia divonis 13 tahun penjara karena kasus suap dan pencucian uang saat menjabat Ketua DPRD Bangkalan.
Fuad Amin wafat pada 16 September 2019 di Surabaya akibat serangan jantung.
Sumber Referensi : id.wikipedia.org, Tirto, dan sumber minor lain.syaikhona kholis