
Pengakuan Penting Bagi Pelestarian Budaya Madura dari Pamekasan
Pulau Madura kembali menebar kabar membanggakan di dunia seni dan tradisi. Dua mahakarya budaya khas Kabupaten Pamekasan, yaitu Tari Rondhing dan Wayang Kulit Madura, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi.
Langkah ini bukan sekadar penghargaan simbolik, tapi juga bukti nyata bahwa kekayaan budaya Madura terus hidup, diakui, dan dijaga sebagai bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
Penetapan ini lahir dari proses panjang dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Nasional oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Bagi Pamekasan, pengakuan ini semakin mempertegas posisinya sebagai jantung kebudayaan Madura yang sarat nilai, sejarah, dan semangat pelestarian.

Salah satu warisan paling khas dari Pamekasan adalah Wayang Kulit Madura. Sekilas mirip wayang di Jawa, namun karakternya punya ciri tersendiri—lebih enerjik, ekspresif, dan penuh warna logat Madura yang kuat.
Wayang ini tak hanya tontonan, tapi juga tuntunan moral dan filosofi hidup bagi masyarakat Madura. Cerita-cerita dalam pertunjukan sering diselipkan pesan bijak, humor lokal, hingga refleksi sosial yang akrab bagi penonton.
Menariknya, koleksi wayang tertua di Madura diketahui milik Kosala Mahinda, penjaga Vihara Avalokitesvara di Desa Polagan, Kecamatan Galis. Beberapa wayang koleksinya bahkan berumur lebih dari tiga abad, tersimpan rapi sebagai jejak panjang akulturasi budaya antara komunitas Madura dan Tionghoa pada abad ke-17 hingga ke-18 Masehi.
Kalau Wayang Kulit jadi tontonan malam yang penuh petuah, Tari Rondhing adalah ledakan semangat siang hari—hidup, kuat, dan sarat makna perjuangan.
Tarian ini menggambarkan perlawanan rakyat Pamekasan terhadap penjajahan Belanda. Gerakannya ritmis dan tegas, memadukan koreografi baris-berbaris dengan sentuhan teatrikal khas Madura. Tak heran kalau Tari Rondhing juga dikenal dengan sebutan tari kenca’ (tari hentakan kaki).
Kini, tarian heroik ini tampil lebih modern, dimainkan oleh penari muda, perempuan maupun laki-laki, dengan iringan musik Ul-Daul dari Sanggar Seni Mella’ Ate (yang berarti “Hati Terbuka”). Dentum saronen, kendang, dan kenong berpadu memberi energi khas Madura.
“Setiap hentakan kaki dan geleng sokoh (gelang kaki khas Madura) punya makna semangat, kekompakan, dan keberanian,” ujar salah satu seniman Rondhing Pamekasan.
Busana penarinya tegas dan berwibawa: odheng di kepala, rompi dan selempang, hingga celana pesak hitam, simbol kejantanan, disiplin, dan cinta tanah air.
Kini, Tari Rondhing kerap tampil di berbagai acara resmi Pemerintah Kabupaten Pamekasan, upacara adat, hingga festival budaya. Salah satu momen paling berkesan ialah saat penampilan di Pendopo Ronggosukowati—para penari Rondhing sukses memikat tamu dengan sorotan mata penuh semangat dan hentakan ritme yang menggema.
Penetapan Tari Rondhing dan Wayang Kulit Madura sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia adalah pengingat bahwa budaya bukan sekadar masa lalu. Ia adalah napas kolektif yang harus terus dijaga, diwariskan, dan dihidupkan.
Pemerintah Kabupaten Pamekasan bersama para pelaku seni berkomitmen menjaga kelestarian dua mahakarya ini. Pembinaan rutin, pelatihan seniman muda, serta dokumentasi digital jadi langkah nyata agar warisan ini tidak berhenti di generasi sekarang saja.
Harapannya, Tari Rondhing dan Wayang Kulit tak hanya jadi ikon lokal, tapi bisa mendunia sebagai representasi budaya Madura yang penuh dinamika dan kearifan lokal.
Dengan diakuinya Tari Rondhing dan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Pamekasan sekali lagi mengingatkan Indonesia: bahwa budaya adalah cahaya yang tidak boleh padam.
Madura tidak hanya punya sejarah, tetapi juga masa depan yang ditulis dengan gerak, nada, dan nilai luhur.
Pulau Madura patut bangga — dari panggung sandiwara rakyat hingga pementasan nasional, semangat Rondhing dan Wayang Kulit terus hidup. Bukan sekadar hiburan, tapi warisan identitas yang dirawat agar tetap relevan di zaman digital.
Sumber Berita