
Madura — Di banyak kampung, saat musim kepompong tiba, anak-anak punya “jurus damai” andalan bernama Ker‑tanoker (juga disebut Kertanoker). Bukan sekadar main, tapi tradisi rekonsiliasi: dari diam-diaman (soker) jadi saling sapa lagi. Dengan syair berbalas pantun dan “penanda” kepala kepompong yang bergerak saat ada suara, suasana yang tegang berubah cair—gengsi luruh, persahabatan pulih.
Varian lirik bisa berbeda antar-kampung. Berikut salah satu bentuk yang umum:
Ker-tanoker, dimma bara’ dimma temor
Ker-soker, sapa nyapa kaadha’ lanjang omorKer-tanoker jambuna massa’ saseba’
Ker-tanoker lagguna nyapa kaadha’
Ker-tanoker jambuna massa’ sapennay
Ker-tanoker lagguna nyapa e songay
Ker-tanoker jambuna massa’ sacorong
Ker-tanoker lagguna nyapa e lorong
Ker-tanoker jambuna massa’ pagar
Ker-tanoker lagguna nyapa e langgar
Terjemahan bebas (inti makna):
Intinya: mendahului berbuat baik dan menyapa adalah kematangan hati—membawa damai.
Langkah bermain:
Kosa kata ringkas:
Tidak. Untuk ramah lingkungan, boleh memakai replika (daun/paper craft) tanpa mengurangi esensi permainan dan pantun.
Sore hari di halaman/pagar—aman, terang, dan ramai.
Rekonsiliasi (berdamai), berani menyapa duluan, dan berpantun—seru sekaligus mendidik.
Referensi Lilik Rosida Irmawati