Zawawi Imron – Penyair Madura: Profil, Karya, Penghargaan

Zawawi Imron – Penyair Madura: Profil, Karya, Penghargaan
Zawawi Imron, penyair asal Batang-batang, Sumenep

D. Zawawi Imron lahir di Batang-batang, Kabupaten Sumenep, dan dikenal luas sebagai “Penyair Madura” dengan citra puitik yang kuat: laut, angin, ibu, religiusitas, dan budaya Madura. Namanya menanjak sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki (1982). Bakatnya “ditemukan” Subagio Sastrowardojo, dan sejak itu ia konsisten menulis, berceramah, dan menginspirasi generasi pembaca.

Ringkasan kunci

  • Asal-usul: Batang-batang, Sumenep; sempat menempuh pendidikan di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep.
  • Momen tonggak: Temu Penyair 10 Kota (1982), sorotan nasional.
  • Karya ikonik: Bulan Tertusuk Ilalang; Celurit Emas; Nenek Moyangku Airmata (pemenang Yayasan Buku Utama, 1985).
  • Pengakuan: SEA Write Award (Bangkok, 2012); tokoh berjasa bidang kebudayaan (Kongres Kebudayaan Indonesia, Kemendikbud, 2018).
  • Kolaborasi: Sejumlah puisi digubah komponis/pianis Ananda Sukarlan untuk vokal klasik dan piano.
  • Domisili & inspirasi: Tetap tinggal di Batang-batang, Madura—mengakar pada tanah kelahiran.

Jalan ke Panggung Sastra

  • 1982: Mengemuka pada Temu Penyair 10 Kota di TIM, Jakarta.
  • Dukungan awal: Subagio Sastrowardojo menaruh perhatian pada bakat kepenyairannya.
  • Aktivitas: Membaca puisi dan berceramah di berbagai kampus dan forum (Yogyakarta, ITS, Surakarta, UNHAS Makassar, IKIP Malang, hingga Balai Sidang Senayan).

Tema, Gaya, dan Jejak “Penyair Madura”

  • Tema: Madura, kemaritiman, religiusitas, dan humanisme akar rumput.
  • Gaya: Imaji tajam, metafor keseharian, ritme lantang—mudah diingat namun kaya makna.
  • Dampak: Menjadi rujukan penting dalam studi sastra pesisir dan sastra daerah di Indonesia.

Karya-Karya Terpilih

  • Semerbak Mayang (1977)
  • Madura Akulah Lautmu (1978)
  • Celurit Emas (1980)
  • Bulan Tertusuk Ilalang (1982) — mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama
  • Raden Sagoro (1984)
  • Nenek Moyangku Airmata (1985) — Hadiah Yayasan Buku Utama (1985)
  • Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
  • Lautmu Tak Habis Gelombang (1996; 2000)
  • Madura Akulah Darahmu (1999)
  • Sate Rohani dari Madura: Kisah-kisah Religius Orang Jelata (2001)
  • Soto Sufi dari Madura: Perspektif Spiritualitas Masyarakat Desa (2002)
  • Jalan Hati Jalan Samudra (2010)
  • Mata Badik Mata Puisi (2012) — diluncurkan di Makassar; bertema Bugis–Makassar

Catatan kuratorial

  • 1990: Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • 1995: Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve HUT RI ke-50.
  • Sejumlah sajak diterjemahkan ke Inggris, Belanda, dan Bulgaria.

Penghargaan & Pengakuan

  • SEA Write Award (Bangkok, 2012) — penghargaan sastra bergengsi dari Kerajaan Thailand untuk penulis ASEAN.
  • Tokoh berjasa bidang kebudayaan (Kongres Kebudayaan Indonesia, Kemendikbud, 2018).

Keterlibatan & Filmografi

  • Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta).
  • Filmografi (terkait/kemunculan/karya):
    • Semesta Mendukung (2011)
    • Penjuru 5 Santri (2015)

Mengapa Zawawi Imron Penting bagi “Penyair Madura”?

  • Ia mengangkat bahasa, simbol, dan pengalaman keseharian Madura ke panggung nasional.
  • Karyanya menjadi jembatan: dari lokal–tradisional menuju ruang apresiasi modern dan lintas budaya.
  • Konsistensinya tinggal di Madura menjaga kontinuitas inspirasi dan nilai autentik.

FAQ

Siapa D. Zawawi Imron?

Penyair asal Batang-batang, Sumenep; figur sentral sastra Madura di Indonesia.

Karya yang paling dikenal?

Bulan Tertusuk Ilalang, Celurit Emas, Nenek Moyangku Airmata.

Apakah puisinya dialihwahanakan?

Ya, sejumlah sajak digubah menjadi musik oleh Ananda Sukarlan; beberapa diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Di mana Zawawi tinggal?

Tetap di Batang-batang, Sumenep, Madura.

Referensi

Wikipedia, ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Goodreads

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet