M. Tabrani, Bapak Bahasa Persatuan dari Madura

M. Tabrani, Bapak Bahasa Persatuan dari Madura
M Tabrani

Masyarakat Madura patut berbangga. Pada 10 November 2023, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mohammad Tabrani Soerjowitjirto (M. Tabrani S). Simbol penganugerahan diterima putri almarhum, Amie Tabrani, di Istana Negara, Jakarta. Bagi dunia pers dan kebahasaan, inilah pengakuan atas peran seorang pelopor: tokoh yang sejak 1926 berani menyebut bahasa pemersatu kita sebagai “Bahasa Indonesia”.

Sorotan Utama

  • Gelar Pahlawan Nasional: 10 November 2023 (diterima Amie Tabrani di Istana Negara)
  • Julukan: “Bapak Bahasa Persatuan”
  • Peran kunci: Ketua Kongres Pemuda I (1926); mengusung istilah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan
  • Karier pers: Pemimpin Revue Politik; Pemred Harian Pemandangan; Direktur Mingguan Pembangoenan; mengelola Sekolah Kita (Pamekasan); Dinas Penerangan (1940); Ketua Umum PERDI (1939–1940)
  • Pendidikan: MULO, OSVIA Bandung; studi jurnalistik di Universität zu Köln (1926–1930)
  • Wafat: 12 Januari 1984; dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta

Siapa M. Tabrani?

  • Nama lengkap: Mohammad Tabrani Soerjowitjirto (M. Tabrani S)
  • Lahir: 10 Oktober 1904
  • Profesi: Jurnalis, politikus, aktivis pemuda (Jong Java)
  • Keluarga: Anak ketiga dari 9 bersaudara, pasangan R. Panji Soeradi Soerowitjitro dan R. Ayu Siti Aminah

Pengukuhan Pahlawan Nasional 2023

  • Penganugerahan dilakukan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Pahlawan.
  • Penerima tanda kehormatan: Amie Tabrani (putri almarhum).
  • Tokoh lain yang turut dianugerahi tahun itu: Ida Dewa Agung Jambe (Bali), Bataha Santiago (Sulawesi Utara), Ratu Kalinyamat (Jawa Tengah), KH. Abdul Chalim (Jawa Barat), KH. Ahmad Hanafiah (Lampung).
  • Penetapan berdasarkan Keppres No. 115-TK-TH-2023 tanggal 6 November 2023.

Ide Besar: Menyebutnya “Bahasa Indonesia” Sejak 1926
Dalam Kongres Pemuda I (30 April–2 Mei 1926) di Batavia, Tabrani mengajukan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa pergaulan bangsa—berbeda dengan pandangan Mohammad Yamin yang mendorong nomenklatur “bahasa Melayu”. Gagasan ini mengakar dan menguat pada Kongres Pemuda II (27–28 Oktober 1928), melahirkan ikrar yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda:

  • Bertanah air satu: Tanah Air Indonesia
  • Berbangsa satu: Bangsa Indonesia
  • Berbahasa satu: Bahasa Indonesia
    Payung konstitusionalnya kian tegas pada 18 Agustus 1945, ketika UUD 1945 Bab XV Pasal 36 menetapkan: “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.”

Pendidikan dan Jejak Global

  • Pendidikan dasar kuat: MULO dan OSVIA, Bandung.
  • 1925: Sudah memimpin harian Hindia Baroe.
  • 1926–1930: Studi jurnalistik di Universität zu Köln, Jerman; tetap menulis untuk media di tanah air. Saat itu, amat jarang pemuda Indonesia menempuh pendidikan jurnalistik di luar negeri.

Karier Jurnalistik dan Organisasi

  • 1930–1932: Pemimpin Revue Politik (membawakan kepentingan Partai Rakyat Indonesia yang didirikannya).
  • 1932–1936: Memimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan.
  • 1936–1940; 1951–1952: Pemimpin Redaksi Harian Pemandangan; juga Direktur Mingguan Pembangoenan.
  • 1936: Melalui Pemandangan, turut mengadvokasi Petisi Sutardjo—tuntutan agar Indonesia diberi kesempatan membentuk parlemen sendiri.
  • 1939–1940: Ketua Umum PERDI (Persatuan Djurnalis Indonesia).
  • 1940: Bergabung di Dinas Penerangan Pemerintah (bagian Jurnalistik; kemudian kartotek dan dokumentasi).
  • Pasca-kemerdekaan: Mengelola Suluh Indonesia (PNI).
  • Pendidikan pers: Mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta. Beberapa muridnya antara lain Anwar Tjokroaminoto dan Sjamsuddin Sutan Makmur.

Warisan dan Dampak

  • Bahasa sebagai perekat bangsa: Keberanian mengajukan “Bahasa Indonesia” lebih dari sekadar istilah; itu strategi nation-building di tengah keragaman suku dan daerah.
  • Pers yang memihak kemajuan: Pemandangan, Revue Politik, dan Sekolah Kita menjadi medium gagasan demokrasi, perwakilan, dan pendidikan publik.
  • Kebanggaan Madura: Penganugerahan ini menambah daftar putra-putri Madura bergelar pahlawan nasional—di antaranya Halim Perdanakusuma (TNI AU).

Lokasi Makam

  • Wafat di Jakarta pada 12 Januari 1984 (dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan).

Timeline Singkat

  • 1904: Lahir
  • 1925: Pimpin Hindia Baroe
  • 1926: Ketua Kongres Pemuda I; mengusung istilah “Bahasa Indonesia”
  • 1926–1930: Studi jurnalistik di Köln
  • 1930–1936: Revue Politik; Sekolah Kita (Pamekasan)
  • 1936–1940; 1951–1952: Pemred Pemandangan; Direktur Pembangoenan
  • 1939–1940: Ketua Umum PERDI
  • 1940: Dinas Penerangan
  • 1945: UUD 1945 tetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
  • 1984: Wafat; dimakamkan di Tanah Kusir
  • 2023: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional

FAQ

Siapa M. Tabrani?

Jurnalis dan politikus Indonesia, tokoh Jong Java, pengusung istilah “Bahasa Indonesia” sejak 1926; kini Pahlawan Nasional.

Mengapa dijuluki “Bapak Bahasa Persatuan”?

Karena konsisten mendorong penggunaan nama “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa pemersatu, yang kemudian diteguhkan dalam Sumpah Pemuda 1928 dan UUD 1945.

Perannya di dunia pers?

Memimpin Revue Politik, Harian Pemandangan, dan Pembangoenan; berkiprah di Dinas Penerangan; memimpin PERDI; mendirikan institut jurnalistik.

Siapa yang menerima anugerah di Istana?

Putri almarhum, Amie Tabrani, pada 10 November 2023.

Referinsi Sumber :Wikipedia Oreng Sampang

Madurapedia adalah upaya menggelorakan semangat menuju cita-cita Madura yang lebih baik. Banyak yang Madura miliki, banyak pula yang Madura telah perbuat. Semua layak disampaikan dan disebarkan, agar kita tahu, memahami, dan terdorong untuk berbuat lebih bagi Indonesia.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Obituari untuk Mat Tuki: Dari Garuda Putih hingga Cabai Alas; Jihad Sang Pendekar Bumi Sumber Batu

Bau Darah Menjadi Wangi Doa: Transformasi Spiritual Blega di Tangan Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy

Bau Darah Menjadi Wangi Doa: Transformasi Spiritual Blega di Tangan Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy

In Memoriam Abdul Hamid Thalib: Sahabat, Guru, dan Ayah Kehidupan

In Memoriam Abdul Hamid Thalib: Sahabat, Guru, dan Ayah Kehidupan

Lika-Liku Sejarah Pondok Sumber Batu: Mengenang Perjuangan K.H. M. Djufri Marzuqi

Lika-Liku Sejarah Pondok Sumber Batu: Mengenang Perjuangan K.H. M. Djufri Marzuqi

Jika Gelar Pahlawan Soeharto Tak Dicabut, Kalian Mau Apa?

Jika Gelar Pahlawan Soeharto Tak Dicabut, Kalian Mau Apa?